Media Untuk Edukasi Bangsa

 Oleh
ITSNAINI PUJI ASTUTIK
X5108509
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
ii
PENERAPAN METODE ABA (APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS)
DENGAN MEDIA KARTU BERGAMBAR DAN BENDA TIRUAN
SECARA SIMULTAN UNTUK MENINGKATKAN
PENGENALAN ANGKA PADA SISWA KELAS II
DI SDLB AUTIS HARMONY SURAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2009/2010
OLEH
ITSNAINI PUJI ASTUTIK
NIM: X5108509
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi
Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
iii
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Surakarta.
Persetujuan Pembimbing,
Pembimbing I
Drs. Munawir Yusur, M.Psi
NIP. 19550501 1981031 003
Pembimbing II
Dewi Sri Rejeki, S.Pd.M.Pd
NIP. 19760730 200604 2 001
iv
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima
untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari :
Tanggal :
Tim Penguji Skripsi.
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Drs. Abdul Salim Choiri, M.Kes. .....................................
Sekretaris : Drs. Maryadi, M.Ag. .....................................
Anggota I : Drs. Munawir Yusuf, M.Psi. .....................................
Anggota II : Dewi Sri Rejeki, S.Pd.M.Pd .....................................
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Dekan
Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.
NIP 19600727 198702 1 001
v
ABSTRAK
Itsnaini Puji Astutik, PENERAPAN METODE ABA (APPLIED BEHAVIOR
ANALYSIS) DENGAN MEDIA KARTU BERGAMBAR DAN BENDA
TIRUAN SECARA SIMULTAN UNTUK MENINGKATKAN PENGENALAN
ANGKA PADA SISWA KELAS II DI SDLB AUTIS HARMONY
SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2009/2010
Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas
Maret Surakarta, September 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari model pembelajaran yang efektif
untuk meningkatkan kemampuan pengenalan angka melalui media kartu
bergambar dan benda tiruan secara simultan pada siswa kelas II SDLB Autis
Harmony Surakarta tahun 2009 / 2010.
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas.
(PTK) yaitu penelitian yang digunakan oleh guru di kelas tempat mengajar,
dengan menggunakan media kartu bergambar dan benda tiruan secara simultan
yang mampu membuat anak mengikuti pembelajaran dalam pengenalan angka
sehingga anak tidak bosan dalam belajar.
Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil dalam
pengenalan angka anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu
bentuk data penilaian yang berupa nilai.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui Kartu
bergambar dan benda tiruan secara simultan dapat meningkatkan kemampuan
pengenalan angka siswa kelas II SDLB autis Harmony Surakarta tahun pelajaran
2009 / 2010. Tetapi dalam penelitian ini tidak berhasil karena beberapa faktor
antara lain : Dari segi persiapan peneliti, 3 dari 4 sampel hanya mampu latih dan
kondisi anak yang benar-benar autis berat / murni, penggunaan media ABA one
on one, Intensitas waktu belajar kurang, kondisi lingkungan sekitar kelas yang
banyak dengan berbagai macam gambar yang dipajang, sehingga konsentrasi
perhatian anak pada gambar yang ada di dinding.
vi
ABSTRACT
Itsnaini Fuji Astutik, THE IMPLEMENTATION OF ABA METHOD
(APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS) WITH PICTURED MEDIA CARDS AND
ARTIFICIAL OBJECTS TO INCREASE SIMULTANEOUSLY THE
RECOGNITION OF NUMBERS AT THE SECOND GRADE STUDENTS IN
SDLB AUTISM HARMONY, SURAKARTA IN THE ACADEMIC YEAR OF
2009/2010. Thesis, Surakarta: Teacher and Training Faculty. Sebelas Maret
University, Surakarta, September 2010.
This research is aimed to explore effective learning model to enhance the
level of recognition of numbers through the pictured media cards and artificial
objects simultaneously at the second grade students of SDLB Autism Harmony
Surakarta in the academic year of 2009/2010. It is a Class Action Research. In
teaching learning process the teachers used pictured media cards and artificial
objects simultaneously that make the students interested in joining the teaching
learning process in recognizing numbers.
The data analysis technique used in this research is comparative analysis,
which means that the results of the recognition level of children are compared9
and then described in terms of assessment data in the form of value.
Based on the description above, it comes to the conclusion that through the
pictured media cards and artificial objects simultaneously, the students' ability in
recognizing numbers is increased. But there are still many handicaps occurred in
this research such as in the case of the researcher's preparation, 3 of 4 samples are
only able to trained and big problems in the condition of autism children, the use
of ABA one to one, less learning time intensity, environmental conditions around
a lot classes with different images on the screen, so the concentration of a child's
attention is just on the picture hanging on the wall.
vii
MOTTO
”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan”
(Terjemahan QS. Alam Nasrah : 6 )
viii
PERSEMBAHAN
SKRIPSI ini penulis persembahkan kepada :
1. Ibu dan bapak tercinta, sungkem ananda
berikan untuk segala pengorbanan, doa,
dan kesabaran bapak dan ibu dalam
membesarkanku.
2. Semua keluarga yang aku sayangi
3. Guru-guru Harmony terima kasih telah
banyak membantuku.
4. Almamater
ix
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulilah peneliti panjatkan ke Hadirat ALLAH SWT atas
segala rahmat dan kasih sayangnya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi
ini. Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis mengalami
banyak hambatan. Namun, berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak
akhirnya hambatan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah memberikan izin untuk
melakukan penelitian;
2. Drs. R. Indianto, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah
memberikan izin dan kemudahan dalam melakukan penelitian;
3. Drs. A. Salim Choiri, M.Kes, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Khusus
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret yang telah
berkenan memberikan izin dalam pelaksanaan penelitian;
4. Drs. Munawir Yusuf, M.Psi, selaku Pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dan saran selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini
dengan sabar dan bijaksana;
5. Dewi Sri Rejeki, S.Pd.M.Pd, selaku pembimbing II yang telah membimbing
dan memberikan saran dan kritik yang terbaik selama proses penelitian dan
penyusunan skripsi;
6. Segenap guru dan wali murid SDLB Autis Harmony Surakarta yang telah
membantu pelaksanaan penelitian;
7. Siswa kelas 2 SDLB Autis Harmony Surakarta yang menjadi subjek
penelitian;
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari penyusunan skipsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu penulis mengharapkan masukan, kritik dan saran untuk perbaikan
x
di masa yang akan datang. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan perkembangan ilmu pengetahuan untuk masa sekarang ataupun yang
akan datang, khususnya perkembangan ilmu dalam pendidikan khusus.
Surakarta, 2010
Penulis
xi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PENGAJUAN............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ iv
HALAMAN ABSTRAK.................................................................................... v
HALAMAN ABSTRACT................................................................................. vi
HALAMAN MOTTO........................................................................................ vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... viii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ix
DAFTAR ISI...................................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiv
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah.................................................................. 1
B. Perumusan Masalah......................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian............................................................................. 3
D. Manfaat Penelitian .......................................................................... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 5
A. Kajian Teori ..................................................................................... 5
1. Tinjauan Tentang Anak Autis ............................................... 5
a. Pengertian Anak Autis ....................................................... 5
b. Klasifikasi Anak Autis ....................................................... 6
c. Faktor Penyebab Anak Autis ............................................. 7
d. Karakteristik Anak Autis.................................................... 9
2. Tinjauan Tentang Metode ABA ............................................... 11
(Applied Behavior Analysis)
a. Pengertian Metode ABA (Applied Behavior Analysis) ....... 11
b. Tujuan Metode ABA (Applied Behavior Analysis) ............. 13
c. Metode ABA (Applied Behavior Analysis) ......................... 14
xii
d. Tehnik Dasar Pelaksanaan Metode ABA ............................ 17
(Applied Behavior Analysis)
3. TinjauanTentangMediaPembelajaran ...................................... 18
a. Pengertian Pembelajaran .................................................... 18
b.Pengertian Media Pembelajaran ........................................ 18
c.Tujuan dan Fungsi Penggunaan Media Pembelajaran ........ 20
d.Prinsip-prinsip Pemilihan Media Pembelajaran ................. 22
4. Tinjauan Tentang Kartu Bergambar dan Benda Tiruan ........... 23
a. Pengertian Kartu Bergambar ............................................... 23
b. Kelebihan dan Kekurangan Media Kartu Bergambar ......... 24
c. Pengertian Tentang Angka .................................................. 25
d. Pengertian Tentang Benda Tiruan Secara Simultan ............ 25
B. Kerangka Berpikir ......................................................................... 26
C. Hipotesis Tindakan ........................................................................ 28
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 29
A. Setting Penelitian .......................................................................... 29
B. Subyek Penelitian ...................................................................... 29
C. Data dan Sumber Data .................................................................. 30
D. Tehnik dan Alat Pengumpulan Data ............................................. 30
1. Tes ........................................................................................... 30
a. Pengertian Tes ................................................................... 30
b. Jenis-jenis Tes ................................................................... 31
c. Kisi-kisi Pembuatan Tes .................................................... 32
2. Observasi .................................................................................. 33
a. Pengertian Observasi ......................................................... 33
b. Jenis Observasi ................................................................... 34
3. Dokumen ................................................................................ 35
a. Pengertian Dokumen ......................................................... 35
b. Jenis-jenis Dokumen ............................................................ 35
E. Validitas Data ............................................................................... 36
F. Tehnik Analisis Data ..................................................................... 37
xiii
G. Indikator Kinerja ...................................................................... 38
H. Prosedur Penelitian ...................................................................... 38
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 41
A. Pelaksanaan Penelitian .................................................................. 41
B. Hasil Penelitian ............................................................................. 52
C. Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................ 54
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 56
A. Simpulan ...................................................................................... 56
B. Saran .............................................................................................. 56
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Daftar Nama Siswa II
Lampiran 2. Silabus
Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Lampiran 4. Kisi-kisi Soal
Lampiran 5. Soal Pretes
Lampiran 6. Soal Postes Siklus 1
Lampiran 7. Soal Postes Siklus 2
Lampiran 8. Lembar Panduan Observasi
Lampiran 9. Lembar Observasi Kegiatan Anak Dalam Pembelajaran Siklus 1
Lampiran 10. Lembar Observasi Kegiatan Anak Siklus 2
Lampiran 11.Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Pembelajaran Siklus 1
Lampiran 12.Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Pembelajaran Siklus 2
Lampiran 13. Kartu Angka 1 Sampai 5 dan kartu gambar
Lampiran 14. Foto-foto kegiatan di Kelas II SLB Autis Harmony
Lampiran 15. Perijinan dari Sekolah
Lampiran 16. Perijinan Penelitian
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hakikat kegiatan membaca yang sesungguhnya adalah berbicara.
Si pembaca berbicara dengan penulis, atau berbicara dengan pelaku dalam bacaan.
Dalam kegiatan membaca terjadi kontak timbal balik antara si pembaca dengan si
penulis atau si pelaku dalam bacaan. Maka boleh dikatakan, anak yang belum
pernah melakukan percakapan sehari-hari dengan orang lain disekelilingnya,
mustahil akan dapat memahami bacaan dalam arti yang sesungguhnya.
Demikian pula anak autis, mereka akan sampai pada kemampuan
membaca yang sesungguhnya apabila ia telah terampil berkomunikasi.
Pengalaman berbicara mengenai berbagai benda, situasi, kejadian, pengalaman
pribadi yang menyangkut perasaan hati, yang pernah dilakukan berulang kali,
menjadi modal dan dasar utama untuk menjadi anak yang terampil membaca.
Dari uraian di atas menjadi jelas peran penting yang bersifat timbal balik
antara percakapan atau kemampuan berbicara dan kemampuan membaca. Dengan
memiliki banyak pengalaman berbicara anak akan lebih mudah belajar membaca,
dan sebaliknya dengan banyak melakukan kegiatan membaca, bahasa anak akan
berkembang lebih cepat, dan sebaliknya lagi dengan penguasaan bahasa yang
lebih luas mutu percakapan anak akan meningkat pula. Di samping itu membaca
mempunyai peranan yang sangat penting juga untuk mengembangkan dan
memupuk empati, yaitu masuk ke dalam perasaan orang lain. Salah satu
ketrampilan yang amat penting untuk dapat melakukan percakapan sejati dan
memahami isi bacaan yang sebenarnya.
Akhaidah dalam Darmiati Zuchdi ( 2001: 57) mengemukakan
bahwa pembelajaran membaca benar – benar mempunyai peranan penting,
sebab melalui pembelajaran membaca guru dapat berbuat banyak dalam
proses pengindonesiakan anak - anak Indonesia. Dalam pelajaran membaca,
guru dapat memilih wacana yang berkaitan dengan tokoh nasional,
kepahlawanan, kenusantaraan, dan kepariwisataan. Selain itu melalui
2
pembelajaran membaca guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral dan
kreativitas siswa.
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi, melalui bahasa seseorang dapat
saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar
dengan orang lain dan meningkatkan kemampuan intelektual.
Menurut Mohamad Efendi, (2006 : 9) bahwa “anak berkebutuhan khusus,
yaitu anak yang diidentifikasi memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian
rendah atau dibawah rata – rata, sehingga untuk mengerjakan tugas perkembangan
memerlukan bantuan atau layanan secara khusus, termasuk kebutuhan pendidikan
dan bimbingan”.
Perkembangan anak autis salah satunya adalah perkembangan dalam
mengikuti pelajaran membaca permulaan diharapkan anak autis dapat mengikuti
anak normal lainnya.
Pemahaman yang jelas tentang anak berkebutuhan khusus autis itu
merupakan dasar yang penting untuk dapat menyelenggarakan layanan dan
pengajaran yang tepat bagi mereka. Dengan kecerdasan yang berada di bawah rata
– rata anak normal, anak berkebutuhan khusus autis mengalami kesulitan dalam
hal menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kurang cakap dalam hal – hal yang
abstrak. Pada kelas anak autis terdapat perbedaan yang sangat besar antara
kemajuan anak yang satu dengan yang lainnya. Selain itu kemajuan anak dalam
salah satu mata pelajaran dengan kemajuannya dalam pelajaran lain juga sering
ada perbedaan yang cukup besar. Perbedaan penggunaan metode dan media juga
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak tersebut.
Karena begitu besar peranan dalam meningkatkan mutu pendidikan
maka kemampuan belajar membaca perlu ditingkatkan. Dengan meningkatnya
prestasi belajar berarti siswa sebagai generasi penerus bangsa memiliki
wawasan dan pandangan serta pengetahuan yang luas. Tahap pembelajaran
membaca permulaan umumnya dimulai sejak anak masuk kelas I Sekolah dasar
meskipun demikian, ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal dan ada
yang baru dapat membaca pada usia tujuh tahun. Bagi anak autis khususnya yang
mempunyai keterbatasan sedemikian rupa mendapat alokasi waktu cukup banyak
3
dibandingkan denganpembelajaran yang lain. Selain itu, pembelajaran membaca
permulaan disekolah memiliki peran sangat penting dibandingkan dengan
pembelajaran yang lain.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa : membaca merupakan salah
satu jenis kemampuan bahasa tulis yang reseptif. Dengan membaca, seseorang
akan memperoleh informasi reseptif, dan memungkinkan seseorang mampu
mempertinggi daya pikirannya. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang
sangat diperlukan oleh siapapun yang ingin maju dan meningkatkan diri.
Membaca permulaan merupakan salah satu kemampuan yang sangat
dibutuhkan bagi anak autis. Meskipun demikian bukanlah hal yang sangat mudah.
Anak autis mengalami kesulitan atau kesukaran dalam belajar membaca
permulaan .Rendahnya kemampuan membaca permulaan sangat terkait dengan
karakteristik anak autis yang kapasitas belajarnya sangat terbatas, terutama hal –
hal yang sifatnya abstrak, mengalami kesukaran dalam hal memusatkan perhatian,
mudah lupa,dan cenderung pasif, siswa hanya mampu menunjuk bila disuruh
menunjukkan kata. Siswa hanya mampu menirukan bila disuruh menirukan oleh
guru. Siswa hanya mampu berbuat sesuatu bila ada perintah dari guru dan harus
dipandu oleh guru.
Dengan memperhatikan kondisi tersebut maka perkembangan membaca
permulaan dapat ditingkatkan dengan memperoleh pengalaman kongkrit tentang
konsep kata dengan melalui kegiatan yang diulang – ulang dengan variasi dan
dinamis.
Untuk memaksimalkan hasil belajar siswa guru seharusnya memiliki
pilihan metode mengajar yang disesuaikandengan materi pengajaran. Dalam
menciptakan situasi yang kondusif guru harus pandai memilih metode mengajar
yang memungkinkan terjadinya kerjasama antara guru dan siswa.
membaca permulaan bagi anak autis, diupayakan agar mempertimbangkan
karakteristik anak. Agar lebih efektif dan efisien harus menggunakan metode
yang tepat, serta menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan
perkembangan anak.
4
Metode ABA (Applied Behaviour Analisys) dipilih sebagai media
berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan bahwa : (1) komunikasi dua arah
yang aktif, (2) sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum, (3) menghilangkan
atau menimimalkan perilaku yang tidak wajar, (4) mengajarkan perilaku yang
akademik, (5) kemampuan bantu diri atau bina diri dan ketrampilan lain.
Penggunaan metode ABA (Applied Behaviour Analisys) yang efektif
menunjuk pada pengertian memiliki pengaruh yang baik dalam membangun
pemahaman siswa melalui akses-akses visual. Akses visual ini membentuk
pemahaman siswa mengenai isi teks bacaan sehingga dapat meningkatkan
pemahaman siswa mengenai kalimat, hubungan kalimat dan urutan kalimat.
Kejelasan hubungan dan urutan kalimat akan meningkatkan pemahaman siswa
autis terhadap teks bacaan secara keseluruhan. Dengan ini tingkat pemahaman
siswa akan teks bacaan akan meningkat.
Diamanatkan dalam kurikulum yang tercantum dalam silabus kelas I
seharusnya sudah bisa membaca walaupun dengan kata sederhana dan kalimat
pendek. Oleh karena adanya kenyataan anak autis kelas I SDLB Autis Harmony
pada saat ini belum bisa membaca, maka penulis mengambil obyek penelitian
tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN
MEMBACA PERMULAAN MELALUI METODE ABA (APPLIED
BEHAVIOUR ANALISYS) PADA SISWA KELAS I DI SDLB AUTIS
HARMONY SURAKARTA TAHUN 2009/2010”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut diatas, maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut “Apakah penerapan metode ABA (Applied
Behaviour Analisys) dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan bagi
siswa kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta Tahun 2009 / 2010 ? “
5
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan
membaca permulaan melalui metode ABA (Applied Behaviour Analisys) bagi
siswa kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman
tentang pembelajaran membaca permulaan melalui metode ABA
(Applied BehaviourAnalisys).
b. Sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut sehingga dapat meningkatkan
dan menambah wawasan bagi peneliti dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi pendidikan pada umumnya dan khususnya
siswa autis
2. Manfaat Praktis.
a. Bagi siswa
a) Siswa mendapat pengalaman baru dalam mengikuti proses belajar
mangajar di kelas terutama belajar membaca permulaan.
b) Menambah informasi dan memperoleh gambaran secara nyata
tentang media belajar yang lebih menyenangkan yaitu metode
ABA (Applied Behaviour Analisys). Memperluas dan menambah
referensi mengenai masalah – masalah yang berkaitan dengan media
mengajar untuk anak Autis kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta
b. Bagi Guru.
Memberi manfaat dalam menemukan solusi untuk meningkatkan
kemampuan membaca permulaan, khususnya anak Autis kelas I
SDLB Autis Harmony Surakarta.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Kajian Teori
a. Pengertian Autis
Istilah autisme berasal dari kata autos yang berarti dari diri sendiri dan
isme yang berarti paham. Ini berarti bahwa autisme memiliki makna keadaan yang
menyebabkan anak – anak hanya memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri.
Autisme adalah kategori
Ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan dalam
komunikasi, interaksi sosial dan perilaku emosi. Gejala autisme mulai terlihat
sebelum anak – anak berumur tiga tahun. Keadaan ini akan dialami disepanjang
hidup anak – anak tersebut.
Kebanyakan anak autisme juga mengalami cacat mental, tetapi dalam
tingkat yang berbeda – beda. Dalam kemampuan koordinasi mata dengan tangan,
mereka tak ada masalah terkadang mereka lebih baik dalam aspek tersebut
dibandingkan dengan kemampuan lain. Mereka mungkin tidak memiliki
kemampuan dalam tutur kata.
Dan hanya mengeluarkan bunyi – bunyi atau meniru apa yang dikatakan
orang lain. Mereka juga tidak suka disentuh ataupun berhubungan dengan orang
lain dan selalu bersanding pada orang yang sudah dikenalnya saja.
Sejak istilah autis mulai mencuat banyak ahli yang melakukan penelitian
tentang autis sehingga memunculkan barbagai macam definisi tentang autisme
dengan versi yang berbeda – beda.
Menurut Handojo (2008:12) autis berasal dari bahasa Yunani yaitu
“auto” yang artinya sendiri. Penyandang autisma seakan-akan hidup di dunianya
sendiri.
Autis diartikan sebagai keadaan yang dikuasai oleh kecenderungan
pikiran atau perilaku yang berpusat pada diri sendiri. Sedangkan Early infantile
diartikan sebagai berat dalam komunikasi dan tingkah laku dan biasanya dimulai
sejak lahir, khas dengan keasyikan pada diri sendiri, penolakan berat dari diri
7
hubungan dengan orang lain , termasuk tokoh ibu. Keinginan untuk hal – hal
yang sama preokupasi dengan obyek – obyek yang tidak bersenyawa dan
gangguan perkembangan bahasa.
Menurut D.S. Prasetyono (2008:11) Autisme merupakan suatu kumpulan
sindrom yang mengganggu saraf. Penyakit ini mengganggu perkembangan anak,
diagnosisnya diketahui dari gejala-gejala yang tampak dan ditunjukkan dengan
adanya penyimpangan perkembangan.
Menurut Gayatri Pamoedji (2007 ; 2 ) Autisme adalah gangguan
perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejala tampak sebelum anak
mencapai umur 3 tahun, gangguan perkembangan diantaranya dalam bidang :
- Komunikasi (bicara dan berbahasa)
-
- Interaksi sosial (tidak tertarik untuk berinteraksi)
-
- Perilaku (hidup di dunia sendiri).
Autisme diartikan sebagai anak yang mengalami gangguan
berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensoris, pola
bermain dan emosi penyebabnya karena antar jaringan dan fungsi otak tidak
sinkron. Ada yang maju pesat, sedangkan yang lainnya biasa – biasa saja. Survei
menunjukkan anak –anak autism lahir dari ibu – ibu dari kalangan ekonomi
menengah keatas ketika dikandung, asupan gizi ke ibunya tak seimbang.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas penulis simpulkan bahwa anak
autis adalah kategori ketidakmampuan yang ditandai dengan adanya gangguan
dalam komunikasi, interaksi sosial dan perilaku emosi. Anak autis hanya memiliki
perhatian terhadap dunianya sendiri, dan adanya pengulangan tingkah laku serta
memiliki kecenderungan hidup dalam dunianya sendiri sehingga hubungannya
dengan orang lain terganggu.
b. Klasifikasi Anak Autis
Ada beberapa pendapat tentang klasifikasi anak autis ini antara lain
Menurut Handojo (2008:12) klasifikasi anak dengan kebutuhan khususnya
(Special Needs) adalah :
1) Autisma infantil atau autisma masa kanak-kanak
8
Tataksana dalam pengenalan ciri-ciri anak autis diatas 5 tahun usia ini.
perkembangan otak anak akan sangat melambat. Usia paling ideal adalah 2-3
tahun, karena pada usia ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling
cepat.
2) Sindroma Aspeger.
Sindroma Aspeger mirip dengan Autisma infantil, dalam hal kurang interaksi
sosial. Tetapi mereka masih mampu berkomunikasi cukup baik. Anak
sering memperlihatkan perilakunya yang tidak wajar dan minat yang terbatas.
3) Attention Deficit ( Hiperactive) Disorder atau (ADHD)
ADHD dapat diterjemahklan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperakti-tivitas atau GPPH. Hiperaktivitas adalah poerilaku motorik yang
berlebihan.
4) Anak “Gifted”
Anak Giftred dalah anak dengan intelegensi yang mirip dengan intelegensi
yang super atau genius, namun memiliki gejala-gejala perilaku yang mirip
dengan autisma. Dengan intelegensi yang jauh diatas normal, perilaku mereka
seringkali terkesan aneh.
D.S. Prasetyono (2008: 54) berpendapat bahwa autisme merupakan
gangguan perkembangan pervasif. Ada lima jenis gangguan perkembangan
pervasif antara lain :
1) Autisme masa anak-anak
Autisme masa anak-anak adalah gangguan perkembangan pada anak yang
gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur tiga tahun.
2) Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specifed (PDD-NOS)
Kualitas dari gangguan PDD-NOS lebih ringan sehingga anak masih bisa
bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak
bergurau.
3) Sindrom Rett
Sindrom rett adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh wanita
yang ditandai dengan perkembangan normal. Namun saat memasuki usia 6
bulan terjadi kemunduran proses perkembangan. Kemudian gerakan tangan
selalu diulang-ulang tanpa tujuan yang jelas, menurunnya keterlibatan sosial,
koordinasi motorik buruk, menurunnya pemakaian bahasa.
4) Gangguan Disintegratif masa anak-anak
Pada gangguan disintegratif masa anak-anak, hal yang mencolok adalah anak
tersebut telah berkembang dengan sangat baik selama beberapa tahun
sebelum terjadi kemunduran yang hebat.
5) Asperger syndrome (AS)
Anak asperger syndrome mempunyai daya ingat yang kuat dan
perkembangan bicaranya tidak terganggu dan cukup lancar. Dalam interaksi
sosial mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya.
9
Dari beberapa pendapat para ahli di atas penulis simpulkan bahwa anak
Klasifikasi Anak Autis adalah Autisme masa anak-anak, Pervasive Developmental
Disorder Not Otherwise Specifed (PDD-NOS), Sindrom Rett, Gangguan
Disintegratif masa anak-anak, Asperger syndrome (AS).
c. Faktor Penyebab Anak Autis.
Penyebab yang pasti dari autisme tidak diketahui, yang pasti hal ini
bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penelitian terbaru menitik beratkan
pada kelainan biologis dan neurologist di otak ,
Termasuk ketidak seimbangan biokimia, factor genetik dan gangguan
kekebalan.
Menurut Gayatri Pamoedji (2007 : 3) penyebab autisme adalah
gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi
susunan otak. Penyebab utama dari gangguan ini hingga saat ini masih terus
diselidiki oleh para ahli meskipun beberapa penyebab seperti keracunan logam
berat, genetik, vaksinasi, populasi, komplikasi sebelum dan setelah melahirkan
disebut-sebut memiliki andil dalam terjadinya autisme.
Menurut D.S. Prasetyono (2008:69) penyebab autisme dan diagnosa
medisnya adalah :
1) Konsumsi obat pada ibu menyusui
Obat migrain, seperti ergot obat ini mempunyai efek samping yang buruk
pada bayi dan mengurangi jumlah ASI.
2) Gangguan susunan saraf pusat
Di dalam otak anak autis ditemukan adanya kelainan pada susunan saraf
pusat di beberapa tempat.
3) Gangguan metabolisme (sistem pencernaan)
Ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gejala autis.
Suntikan sekretin dapat membantu mengurangi gangguan pencernaan.
4) Peradangan dinding usus
Sejumlah anak penderita gangguan autis, umumnya, memiliki
pencernaan buruk dan ditemukan adanya peradangan usus. Peradangan
tersebut diduga disebabkan oleh virus.
5) Faktor genetika
Gejala autis pada anak disebabkan oleh faktor turunan. Setidaknya telah
ditemukan dua puluh gen yang terkait dengan autisme. Akan tetapi,
gejala autisme baru bisa muncul jika terjadi kombinasi banyak gen.
6) Keracunan logam berat
Kandungan logam berat penyebab autis karena adanya sekresi logam
berat dari tubuh terganggu secara genetis. Beberapa logam berat, seperti
10
arsetik (As), antimon (Sb), Cadmium (Cd), air raksa (Hg), dan timbal
(Pb), adalah racun yang sangat kuat.
Menurut Handojo (2008:15) penyebab autis adalah :
1) Pada kehamilan trimester pertama, yaitu 0-4 bulan, faktor pemicu ini bias
terdiri dari : infeksi (toksoplasmosis, rubella, candida, dsb), logam berat,
obat-obatan, jamu peluntur, muntah-muntah hebat (hiperemesis), perdarahan
berat.
2) Proses kelahiran
Proses kelahiran yang lama (partus lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan
oksigenasi pada janin, pemakaian forsep.
3) Sesudah lahir (post partum)
Infeksi berat-ringan pada bayi, imunisasi MMR dan Hepatitis B (mengenai 2
jenis imunisasi ini masih kontroversial), logam berat, MSG, pewarna, zat
pengawet, protein susu sapi (kasein) dan protein tepung terigu.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab dari
autisme begitu beragam seperti. Konsumsi obat pada ibu menyusui, gangguan
susunan saraf pusat, gangguan metabolisme (sistem pencernaan), peradangan
dinding usus, faktor genetika, keracunan logam berat.
d. Karakteristik Autis.
Gambaran klinis anak autis secara khas ditandai oleh adanya gangguan
yang muncul sebelum usia 3 tahun, yaitu kegagalan dalam perkembangan
berbahasa dan kegagalan dalam menjalin hubungan dengan orang tuanya.
Menurut Aris Sudiyanto ( 2002 : 3). “anak – anak penyandang autis sering
tampak normal perkembangannya sampai usia 3 tahun, yaitu kegagalan dalam
perkembangannya sampai usia 24 – 30 bulan, sebelum orang tua mereka
menyadari adanya gangguan dalam perkembangan anaknya, yaitu dalam interaksi
sosial, komunikasi dan bermain”.
Ciri khas pada anak autis :
1. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain
2. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi orang lain atas
perbuatannya
11
3. Pemahaman anak sangat kurang , sehingga apa yang ia baca sukar dipahami ,
misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang menggunakan
kalimat.
4. Anak kadang mempunyai daya ingat yang sangat kuat, seperti perkalian ,
kalender dan lagu lagu.
5. Anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar – gambar ( visual learners)
6. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya, seperti sukar
bekerjasama dalam kelompok bermain peran dsb
7. Anak sukar mengekspresikan perasaannya, seperti mudah frustasi bila tidak
dimengerti dan dapat menimbulkan tantrum.
Menurut Handojo dalam Galih A Veskariyanti (2008:12) penyandang
autisma mempunyai karakteristik antara lain :
- Selektif berlebihan terhadap rangsangan
- Kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan baru
- Respon stimulasi diri sehingga mengganggu interaksi social
- Respon unik terhadap imbalan (reinformansement), khususnya imbalan dari
stimulasi diri.
Menurut Sri Utami Soedarsono, dalam Mirza Maulana (2007 : 15)
penyandang autistik memiliki karakteristik/gejala dalam hal :
1) Komunikasi:
a) Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
b) Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi
kemudian sirna.
c) Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya
d) Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat
dimengerti orang lain
e) Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi
f) Senang meniru atau membeo (echolalia)
g) Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut
tanpa mengerti artinya
h) Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara
(kurang verbal) sampai usia dewasa
i) Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia
inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu
2) Interaksi Sosial:
a) Penyandang autistik lebih suka menyendiri
b) Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatap
c) Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
12
d) Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh
3) Gangguan sensoris:
a) sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipelukbila
b) mendengar suara keras langsung menutup telinga
c) senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda
d) tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut
4) Pola bermain:
a) Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya
b) Tidak suka bermain dengan anak sebayanya
c) tidak kreatif, tidak imajinatif
d) tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya
di putar-putar senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas
angin, roda sepeda
e) dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan
dibawa kemana-mana
5) Perilaku
a) mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar
b) mendekatkan mata kepesawat TV, lari/berjalan bolak balik
c) melakukan gerakan yang diulang-ulang
d) tidak suka pada perubahan
e) dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong
6) Emosi
a) sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis
tanpa alasan
b) temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak
diberikan keinginannya
c) kadang suka menyerang dan merusak
d) kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
e) tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.
Dari karakteristik yang telah ditulis, maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Gangguan dalam pergaulan social dengan orang lain:
a) Seperti tidak mendengar bila dipanggil, namun memperhatikan suara –
suara tertentu ( misalnya Kresek _ kresek )
b) Asik bermain sendiri selama berjam – jam (oleh orang tuanya dianggap
anak manis) atau sebaliknya.
c) Anak menolak untuk dipeluk.
2) Gangguan komunikasi Verbal dan non verbal.
a) Kemampuan bicara amat lambat, kadang – kadang bersuara aneh,
menirukan tanpa arti, nada suara monoton.
b) Bila ingin sesuatu menunjuk dengan jari tetapi memegang tangan orang
lain ditunjukkan pada maksudnya.
c) Sukar memahami kata – kata dan sukar berkata dengan bahasa yang
benar.
d) Kemampuan bermain imajinatif tidak ada.
13
3) Bermain steorotip, gerakan diulang ulang.
a) Tidak dapat bermain dengan peran fiktif.
b) Kemampuan intelektualitas tidak ada.
c) Hampir 70 persen anak autis IQ dibawah 70.
4) Gangguan perilaku motorik.
a) Gangguan stereotip, gerakan yang diulang – ulang.
b) Hiperaktif atau bahkan atau bahkan impulsifitas
Dari kesimpulan diatas dapat kami simpulkan bahwa adanya gangguan dalam
perkembangan anak autis antara lain yaitu gangguan dalam interaksi sosial,
komunikasi, sensoris, perilaku, emosi dan bermain.
2. Tinjauan Tentang Metode ABA / Applied Behavior Analysis
a. Pengertian Metode ABA / Applied Behavior Analysis
Ada beberapa pengertian tentang terapi ABA ( Applied Behaviour Yang
digunakan untuk penanganan anak autistik.
Menurut Handoyo dalam Jessica Kingley ( 2006 : 8) Terapi ini sangat
representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab
memiliki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis juga variasi yang diajarkan
luas sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan motorik
halus maupun kasar.
Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang
sejak puluhan tahun, ditemukan psikolog Amerika, Universitas California Los
Angeles, Amerika Serikat, Ivar O. Lovaas (Handojo, 2008: 15)., Beliau memulai
eksperimen dengan cara mengaplikasikan teori B.F. Skinner, Operant
Conditioning. Di dalam teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi
mantap jika perilaku itu diperoleh si pelaku (penguat positif) karena
mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif).
Sementara suatu perilaku tertentu akan hilang bila perilaku itu diulang terusmenerus
dan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (hukuman) atau
hilangnya hal-hal yang menyenangkan si pelaku (penghapusan).
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa Metode
Lovaas / Applied Behavior Analysis (ABA) merupakan metode yang mengajarkan
kedisiplinan dimana pada kurikulumnya telah dimodifikasi dari aktivitas sehari14
hari dan dilaksanakan secara konsisten untuk meningkatkan perilaku yang
signifikan. Kepatuhan dan kontak mata merupakan kunci utama dalam penerapan
Metode ABA / Applied Behavior Analysis), tanpa penguasaan kedua kemampuan
tersebut anak autisme akan sulit diajarkan aktivitas-aktivitas perilaku yang lain.
b. Tujuan Metode ABA / Applied Behavior Analysis
Tujuan metode ABA / Applied Behaviour Analisys adalah: Menurut
Gina Green (2008: 22) tujuan metode ABA / Applied Behaviour Analisys adalah :
1) Untuk membangun berbagai keterampilan penting
2) Mengurangi perilaku bermasalah pada individu dengan gangguan autisme
dan terkait dari segala usia
3) Untuk mengubah perilaku penting dalam cara yang bermakna
4) Melatih kemandirian anak
Menurut Sitta R. Muslimah (2009 : 4) dalam bukunya yang berjudul
Terapi ABA Anak Autisme, “Terapi ABA ( Applied Behavior Analysis) bertujuan
meningkatkan atau menurunkan perilaku tertentu, meningkatkan kualitasnya,
menghentikan perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku
baru”.
Tujuan terapi perlu ditetapkan dan diingat bagi bagi orang tua dan para
terapis ataupun guru itu sendiri. tujuan yang ingin dicapai. Menurut penulis tujuan
menerapi anak dengan kebutuhan khusus ini ada 5 yaitu :
1) Komunikasi dua arah yang aktif
Diharapkan anak mampu melakukan percakapan paralel dan melontarkan
hal-hal yang diinginkan. Tujuan ini harus selalu diingat, sehingga kecakapan anak
terus dapat ditingkatkan sampai seperti mendekati kemampuan orang yang
normal.
2) Sosialisasi kedalam lingkungan yang umum
Setelah anak mampu berkomunikasi lakukan hal-hal yang menambah
generalisasi menyangkut subyek atau orang lain, instruksi, obyek, respon anak
danlingkungan yang berbeda-beda. Dengan memperkaya generalisasi ini, maka
anak akan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
3) Menghilangkan atau meminimalkan perilaku yang tidak wajar.
Perilaku yang aneh perlu segera dihilangkan sebelum usia 5 tahun, agar
tidak mengganggu kehidupan anak setelah dewasa. Pada usia yang balita, perilaku
aneh yang ringan-ringan masih dianggap wajar dan tidak menarik perhatian,
misalnya mencium makanan sebelum dimakan, memainkan tangan seperti
15
melambai dan sebagianya, tetapi bila perilaku ini menetap terus sampai usia yang
lebih tua, tidak mustahil menetap sampai dewasa.
4) Mengajarkan materi akademik
Kemampuan akademik sangat bergantung pada intelegensia atau IQ
anak. Apabila IQ anak memang tidak yang termasuk dibawah normal, maka
kemampuan akademiknya tidak sulit untuk dikembangkan.
5) Kemampuan bantu diri atau bina diri dan ketrampilan lain.
Ini adalah kemampuan yang juga diperlukan bagi setiap individu agar
dalam hal-hal yang bersifat privacy mampu dikerjakan sendiri tanpa dibantu orang
lain. Makan minum, memasang dan melepas pakaian dan kaos kaki, toiletting,
gosok gigi dan sebagainya dapat diajarkan secara terus menerus sampai anak
benar-benar mampu menguasainya. (Handojo, 2008:50)
Dari Beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan tujuan Metode
ABA (Applied Behavior Analysis) adalah memberikan penguatan yang positif
setiap kali anak merespon dengan benar dan sesuai dengan instruksi yang
diberikan. Suatu perilaku bila diberi imbalan yang tepat akan semakin sering
dilakukan, dan sebaliknya bila suatu perilaku tidak diberi imbalan maka perilaku
tersebut akan terhenti. Selain itu juga adalah untuk membantu setiap pelajar
mengembangkan keterampilan yang akan memungkinkan dia untuk bersikap
mandiri dan sukses mungkin dalam jangka panjang.
c. Penerapan Metode ABA (Applied Behaviour Analisys)
Ada beberapa hal yang perludiketahui dalam penerapan metode ABA
Applied Behaviour Analisys ) yang perlu diketahui antara lain:
Menurut Handoyo dalam Mirza Maulana (2007 :20) Ada berbagai hal
yang berkaitan dengan metode ABA, yang perlu diketahui dan disimak baik-baik.
Hal ini perlu dipahami agar sewaktu menerapkan metode ini, kita juga mengetahui
latar belakang dan alasannya. Dengan demikian kita akan semakin mantap dalam
melakukan terapi dan pembelajarannya.
1). Kaidah-Kaidah yang mendasari
Perilaku atau behaviour adalah semua tingkah laku atau tindakan atau
kelakuan seseorang yang dapat dilihat, didengar atau dirasakan oleh orang lain
atau diri sendiri. Disini dikenal suatu rumusan A®B®C yang disebut operant
conditioning :
16
Pengertian akan rumusan ini sangat penting terutama bila kita ingin
menghilangkan perilaku aneh seorang anak. Dengan dasar rumusan diatas, maka
dapat disimpulkan bahwa suatu perilaku autisme didahului oleh suatu penyebab
atau antecedent. Apabila penyebab ini dapat kita temukan dan kita cegah, anakanak
tersebut tidak mempunyai dorongan lagi untuk menampilkan perilakuperilaku
anehnya. Selanjutnya apabila suatu perilaku yang dilakukan memberikan
akibat (consequence) yang menyenangkan (imbalan) atau (reinvircement) maka
perilaku itu pasti akan diulang-ulang. Dan sebaliknya apabila perilaku ternyata
memberikan akibat yang tidak menyenangkan atau tidak mendapatkan imbalan
maka perilaku tersebut pasti akan dihentikan.
Apapun metode yang dipakai harus berdasar kepada kedua kaidah itu.
Kita hanya perlu melakukan inventarisasi (membuat catatan) mana perilaku yang
harus semakin konsisten dilakukan anak, dan mana perilaku yang harus kita
hilangkan dari kebiasaan anak.
2). Istilah-istilah yang dipakai
Ada beberapa istilah yang dipakai dalam metode ABA (Applied Behaviour
Analisys) yaitu :
a) Instruksi
Yaitu kata-kata perintah yang diberikan kepada anak pada suatu proses terapi
(pembelajaran). Instruksi kepada anak harus S-J-T-T-S : SINGKAT-JELASTEGAS-
TUNTAS-SAMA. Suatu instruksi harus cukup jelas (volume suara perlu
disesuaikan dengan respon seorang anak), namun jangan membentak atau
menjerit.
(a). Singkat
Yaitu cukup 2-3 suku kata, jangan terlalu panjang karena tidak akan
dapat ditangkap / dimengerti anak terutama yang autisme.
I. ANTECEDENT ® BEHAVIOUR ® CONSEQUENCE.
II. PERILAKU + IMBALAN ® TERUS DILAKUKAN
PERILAKU – IMBALAN ® AKAN TERHENTI
17
(b). Jelas
Setiap instruksi harus jelas maksudnya sehingga tidak membingungkan
anak.
(c). Tegas
Berarti instruksi tidak boleh ditawar oleh anak dan harus dilaksanakan
(kala perlu di prompt). guru harus bersikap seperti bos yang tidak
semena-mena, dia harus menyayangi anak namun tidak boleh
memanjakan.
(d). Tuntas
Berarti setiap instruksi harus dilaksanakan sampai selesai, jangan
setengah jalan. Sama yaitu setiap instruksi dari 3 guru / terapis harus
memakai kata yang sama, jangan berbeda sedikitpun.
(e). Sama
Setiap isntruksi harus sama, siapapun yang memberikan apakah itu dari
orang tua, guru ataupun terapis
(b). Prompt
Yaitu bantuan atau arahan yang diberikan kepada anak apabila anak tidak
memberikan respon terhadap instruksi. Prompt disingkat dengan P. Prompt dapat
diberikan secara penuh yaitu hand on hand, tangan guru memegang tangan anak
dan mengarahkan melakukan perilaku yang diinstruksikan. Didalam pencatatan,
apabila anak masih melakukan dengan diberi prompt maka hasilnya ditulis dengan
P (prompt dan bukan A (acchieved).
(c) Reinforcement atau imbalan
Reinforcement atau imbalan adalah “hadiah atau penguat“ suatu perilaku
agar anak mau melakukan terus dan menjadi mengerti pada konsepnya. Perlu
diperhatikan bahwaa imbalan harus terkesan sebagai upah dan bukan sebagai
suap/sogoka. Imbalan lain adalah imbalan taktil yaitu pelukan, ciuman, tepukan,
elusan. Imbalan verbal juga dapat diberikan bersama-sama, yaitu “bagus”,
“pandai”, “pintar” dsb.
Dari Beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode ABA
yaitu S-J-T-T-S SINGKAT-JELAS-TEGAS-TUNTAS-SAMA. Suatu instruksi
harus cukup jelas (volume suara perlu disesuaikan dengan respon seorang anak),
namun jangan membentak atau menjerit.
18
d. Teknik Dasar Pelaksanaan Metode ABA /Applied Behavior Analysis
Menurut Y. Handojo (2008.60) beberapa dasar mengenai tehnik-tehnik
ABA adalah :
1) Kepatuhan (compliance) dan kontak mata adalah kunci masuk ke metode
ABA
2) One on one adalah satu guru untuk satu anak. Bila perlu dapat dipakai guru
pendamping sebagai promter (pemberi promt).
3) Siklus (discrate trial training) yang dimulai dari instruksi diakhiri dengan
imbalan. Tiga kali instruksi dengan pemberian tenggang waktu 3-5 detik
pada instruksi ke-1 dan ke-2.
Tabel Siklus discrate trial training
1 SIKLUS
Instruksi # 1 ® (tunggu 3-5 detik), bila respon tak ada, lanjutkan dengan
Instruksi # 2 ® (tunggu 3-5 detik), bila respon tak ada, lanjutkan dengan
Instruksi # 1 ® langsung lakukan promt atau imbalan
4) Fading adalah mengarahkan anak ke perilaku target dengan promt penuh
makin lama dikurangi secara bertahap.
5) Saving adalah mengajarkan suatu perilaku melalui tahap-tahap
pembentukan yang makin mendekati perilaku target.
6) Chaining adalah mengajarkan suatu perilaku yang komplek yang menjadi
aktivitas kecil. Contoh : memasang kaos dipecah menjadi memegang kaos –
meletakkan kaos di atas kepala – meloloskan kepala melalui lobang kaos –
meloloskan satu tangan – meloloskan tangan yang lain – menarik kasos
setinggi dada – menarik kaos sampai di pinggang.
7) Discrimination Training adalah tahap identifikasi item dimana disediakan
item pembanding, kemudian diacak tempatnya sampai anak benar-benar
mampu membedakan mana item yang harus diidentifikasi sesuai instruksi.
8) Mengajarkan konsep warna, bentuk, angka, huruf dan lain-lain.
Dari Beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Teknik
Dasar Pelaksanaan Metode ABA ( Applied Behavior Analysis) Pertama,
terstruktur, terarah dan terukur.
3. Tinjauan Membaca Permulaan
a. Pengertian Membaca Permulaan
Ada beberapa pengertian dari membaca permulaan Pelajaran membaca
permulaan adalah salah satu perolehan peningkatan ketrampilan membaca yang
dapat menjadi prasyarat atau fasilitator bagi ketrampilan membaca berikutnya
Bryant dalam Mirza Maulana ( 2007 : 12 )
19
Membaca permulaan adalah mengeja atau melafalkan sesuatu yang tertulis dan
mengucapkannya. Membaca merupakan perkembangan ketrampilan yang
bermula dari kata dan berlanjut pada membaca kritis. Membaca juga
merupakan suatu proses psikologis dan sensoris. Menurut Harjasujana dan
Mulyati dalam Sabarti Akhadiah ,dkk ( 1991 : 23 )
Dari pendapat ahli di atas dapat dikatakan bahwa membaca permulaan
merupakan suatu proses psikologis dan sensoris untuk mengeja atau
melafalkan sesuatu yang dapat menjadi prasyarat atau fasilitator bagi
ketrampilan membaca berikutnya.
b. Pembelajaran Membaca Permulaan
Dalam pembelajaran membaca permulaan terdiri dari beberapa unsur
Menurut Oemar Hamalik (1994: 57) adalah suatu kombinasi yang tersusun
menliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur
yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia, terlibat
dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya
tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, kapur, fotografi,
audio, videotape, slide dan film. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan
kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan
metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya.
Oemar Hamalik (1994: 59) mengungkapkan bahwa berdasarkan teori
belajar ada 5 pengertian pembelajaran :
1) Pengajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/
siswa di sekolah
2) Pengajaran adalah mewariskan kebudayaan kepaada generasi muda melalui
lembaga pendidikan sekolah.
3) Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan
kondisi belajar bagi para peserta didik.
4) Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi
warga masyarakat yang baik.
5) Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan
masyarakat sehari-hari.
20
Pembelajaran tidak lepas dari kurikulum. Istilah kurikulum berasal dari bahasa
Latin, yakni “Curriculae” artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang
pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan
yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah.
Ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti bahwa siswa telah menempuh
kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari
telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya
mencapai finish.
Pengertian “Kurikulum” menurut Oemar Hamalik (1994: 33) adalah:
1). Kurikulum adalah pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa dalam
jangka waktu tertentu untuk memperoleh ijazah.
2). Kurikulum adalah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh oleh siswa
untuk memperoleh pengetahuan.
3). Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk
membelajarkan siswa.
4). Kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar.
4. Tinjauan Tentang Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Ada beberapa pendapat tentang Media ini antara lain : Menurut Gagne
dalam Arief S. Sadiman , dkk ( 2006 : 6 ) “media adalah berbagai jenis
komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar dan
media adalah alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa
untuk belajar”.
Romiszowski dalam Basuki Wibawa dan Farida Mukti ( 2001: 11-12)
memberi saran sebaiknya media diberi batasan yang cukup sempit sehingga hanya
mencakup media yang dapat digunakan secara efektif untuk melaksanakan proses
pengajaran dengan baik. Lain halnya dengan Mc. Luhan dalam Basuki Wibawa
21
dan Farida Mukti (2001: 11) memberi batasan media dengan sangat luas sehingga
mencakup semua alat komunikasi dari seseorang ke orang lain yang tidak ada di
hadapannya.
Romiszowski dalam Basuki Wibawa dan Farida Mukti( 2001: 11-12)
mendefinisikan bahwa “media adalah pembawa pesan yang berasal dari satu
sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan”.
Dalm proses belajar mengajar, penerima pesan itu ialah siswa dirangsang
Oleh media itu untuk menggunakan inderanya untuk menerima informasi.
Kadang-kadang siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa
indera supaya dapat menerima pesan itu secara lebih lengkap.
Menurut Suparno (1988: 1-2) “media adalah suatu alat yang dipakai
sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau
(informasi) dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver)”. Pesan
atau informasi yang dikomunikasikan tersebut sejumlah kemampuan yang perlu
dikuasai oleh siswa. Kemampuan-kemampuan tersebut dikomunikasikan melalui
berbagai saluran, yaitu saluran penglihatan (visual), saluran perasaan (sense), dan
saluran yang berwujud penampilan (performance). Media dalam dunia pendidikan
merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau
pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau pendidik (Sudarwan
Danim, 1994: 7) . Dari uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa “
Media “ adalah suatu alat bantu yang dipakai dalam proses belajar mengajar agar
siswa lebih giat dan kreatif dalam proses pembelajaran
b. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran
ada berbagai jenis. Mulai dari media yang sederhana hingga media yang
kompleks, rumit dan mahal. Ada juga yang hanya dari merespons indera
tertentu hingga perpaduan berbagai indera manusia.
22
Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001:39-72) “media
diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: media audio, media visual, dan media
audio visual”. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1) Media audio adalah media yang berfungsi untuk menyalurkan pesan audio
dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang disampaikan dituangkan
dalam lambang-lambang auditif verbal, nonverbal, maupun kombinasinya,
media audio berkaitan erat dengan indera pendengaran. Ada beberapa jenis
media yang dapat dikelompokkan dalam medai audio antara lain radio,
tape recorder, telepon, laboratorium bahasa.
2) Media visual adalah media yang berkaitan erat dengan penglihatan. Jenisjenis
media visual antara lain: gambar, film bingkai (slide), dan media
grafis. Media gambar
3) Media audio visual media yang berkaitan erat dengan pendengaran dan
penglihatan. Ada beberapa jenis media audio visual diantaranya: televisi,
film, dan video.
c. Kegunaan Media Pembelajaran
Kegunaan dari media banyak sekali antara lain ;
Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001, 13-16) menyatakan bahwa
“media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua arah cara,
yaitu sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media belajar yang dapat digunakan
sendiri oleh siswa”. Media yang dipakai sebagai alat bantu mengajar disebut
dependent media. Sebagai alat bantu, efektivitas media itu sangat bergantung pada
cara dan kemampuan guru yang memakainya. Apabila guru memanfaatkannya
dengan baik maka siswa akan belajar dengan baik. Akan tetapi kalau guru tidak
pandai atau tidak banyak memanfaatkan media siswa tak akan banyak belajar dari
media itu.
Dari uarain diatas dapat disimpulkan bahwa kegunaan media adalah
sebagai alat bantu manfaatnya tergantung pada kreatifitas guru dan siswa itu
sendiri.
23
5) Klasifikasi Media Pembelajaran.
Ada beberapa pendapat tentang klasifikasi antara lain :
Menurut Arsyad dalam Basuki dan Farida Mukti ( 2001 : 13 ) mengklasifikasikan
media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media
hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi
berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Berdasarkan batasan-batasan mengenai media seperti tersebut di atas,
maka dapat dikatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk meyampaikan isi materi ajar dari sumber belajar ke anak
(individu atau kelompok), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian
dan minat anak sedemikian rupa sehingga proses belajar (di dalam/di luar kelas)
menjadi lebih efektif.
Penulis menyimpulkan berdasarkan bahwa media pendidikan merupakan
sarana dalam proses pembelajaran antara sumber dan penerima agar dapat
merangsang anak untuk belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses
belajar pada diri anak.
B. Kerangka Berpikir
Membaca merupakan suatu keterampilan yang penting bagi siswa. Siswa
memerlukan keterampilan membaca baik di sekolah maupun di masyarakat. Salah
satu keterampilan membaca yang diajarkan di sekolah adalah membaca
permulaan. Dalam hal ini siswa dituntut mampu memahami bacaan dengan
metode ABA (Applied Behaviour Analisys).
Pembelajaran membaca permulaan di SLB Autis Harmony Surakarta
masih kurang efektif, sehingga siswa menjadi kurang berminat dalam
pembelajaran membaca permulaan. Hal ini juga mengakibatkan proses dan
kualitas hasil keterampilan membaca rendah. Untuk itu guru perlu menerapkan
metode, teknik, atau menggunakan metode ABA (Applied Behaviour Analisys)
yang tepat untuk meningkatkan pembelajaran membaca permulaan di sekolah.
Salah satu metode ABA (Applied Behaviour Analisys) yang akan
diterapkan guru adalah mempermudah siswa dalam memahami bacaan menjadi
24
suatu bacaan yang menurut penalaran, pengetahuan, dan pengalamannya, serta
ide-idenya dapat mereka pahami. Dengan menerapkan metode ABA (Applied
Behaviour Analisys) dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran membaca
permulaan, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan dapat meningkatkan
proses dan kualitas hasil keterampilan membaca permulaan.
Kerangka berfikir penulis, digambarkan sebagai berikut
Gambar 1. Skema Kerangka Berfikir
Keterangan :
1) Kondisi Awal Proses kegiatan belajar membaca permulaan tanpa
menggunakan metode ABA ( Applied Behavior Analysis,) hasil yang dicapai
rendah.
Kondisi Awal
Tindakan II
Kondisi Akhir
Kemampuan membaca
permulaan Anak Autis
ringan di kelas I di SDLB
Autis Harmony Surakarta
masih rendah
Guru menggunakan metode
ABA (Applied Behaviour
Analysis)
Kemampuan membaca
permulaan Anak Autis
ringan di kelas I di SDLB
Autis Harmony Surakarta
meningkat
25
2) Tindakan, Proses kegiatan belajar mengajar membaca permulaan, mata
pelajaran Bahasa Indonesia pada siklus I sudah menggunakan metode ABA
(Applied Behavior Analysis) hasil yang dicapai belum sesuai dengan indikator
kerja.
3) Tindakan, proses kegiatan belajar mengajar membaca permulaan, mata
pelajaran Bahasa Indonesia pada siklus II menggunakan metode ABA
(Applied Behavior Analysis) hasil yang dicapai sesuai dengan indikator kerja.
4) Kondisi akhir, menggunakan metode ABA (Applied Behavior Analysis)
dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SLB
Autis Surakarta Tahun pelajaran 2009 /2010
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah suatu jawaban yang sifatnya masih lemah, harus
dibuktikan kebenarannya. Hipotesis itu sendiri harus konsisten dengan teori yang
telah penulis paparkan diatas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini penulis
mengajukan hipotesis sebagai berikut :
Melalui metode ABA (Applied Behavior Analysis) dapat meningkatkan
kemampuan membaca permulaan Pada Siswa Kelas I SDLB Autis Harmony
Surakarta Tahun 2009 / 2010.
26
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SDLB Autis Harmony
Surakarta, yang terletak di Jalan Sungai Sambas Rt 02 / I Sangkrah, Kecamatan
Pasar. Kliwon, Kota Surakarta. Dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas
sesuai dengan tempat bertugas sehingga peneliti dapat melakukan penelitian
sekaligus melaksanakan tugas tanpa mengganggu tugas sesuai tugas pokok
peneliti. bahkan penelitian ini dapat menunjang proses pembelajaran sehingga
bisa diteliti apa saja penyebab timbulnya masalah, dan kesulitan kesulitan siswa,
bagaimana mengatasinya, sampai dengan ditemukan nya pemecahannya.
2. Waktu Penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester I Tahun Ajaran 2009/ 2010 yaitu
antara bulan april sampai bulan juli 2009 /2010. Agar penelitian dapat berjalan
dengan lancar maka penulis membuat jadwal penelitian dalam tabel 1 sebagai
berikut:
Tabel I
Jadwal penelitian
No Kegiatan April Mei Juni Juli
I II III IV I II III IV V I II III IV I II III IV
1. Pengajuan Proposal v v v v
2. Perijinan v v
3. Penyusunan Instrumen v v
4. Pelaksanaan Penelitian v v v v
5. Pengolahan Data v v
6. Analisis Data v v
7. Penyusunan Laporan v v v
27
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa dan guru kelas I SDLB Autis Harmony
Surakarta. Dengan perincian sebagai berikut :
1) Siswa kelas I Autis sebanyak 4 siswa yang terdiri : 2 siswa putra 2 siswa
putri.
2) Guru sebagai peneliti.
3) Guru sebagai teman sejawat / kolaborator.
Tabel : 2
Daftar Nama Siswa
No Nama Jenis Kelamin Kelas
1. AT L I
2. TO L I
3. ST P I
4. KI P I
C. Data dan Sumber Data
Data penelitian yang dikumpulkan berupa kemampuan membaca permulaan
siswa kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta. Data penelitian dikumpulkan
dalam berbagai sumber yang meliputi :
1. Nara sumber, yaitu siswa kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta.
2. Dokumen, antara lain berupa kurikulum, RPP, Silabus dan buku penilaian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data adalah suatu prosedur yang sitematik dan
standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Oleh karena itu kualitas
data sangat ditentukan oleh alat pengumpulan data atau alat ukuran,
sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
28
1. Tes
a. Pengertian test :
Ada beberapa cara jenis tes yang dapat dipergunakan
Menurut Suharsimi Arikunto (2002 : 127) Test adalah “serangkaian
pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur,
ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki
individu atau kelompok” Sedangkan menurut Budiyono yang dikutip oleh
Suharsimi Arikunto (2002 ; 127 ) Metode Tes adalah cara pengumpulan
data yang menghadapkan sejumlah pertanyaan – pertanyaan atau suruhan
kepada subyek penelitian.”
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan tes adalah suatu Teknik atau
cara, dalam rangka pengukuran atau penilaian yang didalamnya terdapat
sejumlah pertanyaan / latihan diberikan kepada seseorang untuk
mengetahui atau mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok dengan cara
aturan yang sudah ditentukan.
Ada beberapa cara jenis tes yang dapat dipergunakan untuk
mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut :
Menurut Pandit, PL ( 2010 : 12 ) Jenis tes dikelompokkan menjadi :
1). Tes Intelegensi.
Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir,
terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu
dalam belajar di sekolah ( Mental Ability test : Intelegence test; Academy
Ability test; Scholastic aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari
tes ini adalah kemampuan intelektual atau kemampuan akademik.
2 ) Tes Bakat.
Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk
berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau
bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan
intelektual ( Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). Kemampuan khusus
yang diteliti itu mencakup unsur – unsur intelegensi, hasil belajar minat dan
29
kepribadian yang bersama – sama memungkinkan untuk maju dan berhasil
dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar
dibidang tertentu..
3) Tes Minat
Tes minat , mengatur kegiatan – kegiatan macam apa paling disukai
seseorang, Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih
macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya ( Test of Vocational
interest)
4) Tes Kepribadian
Yaitu test yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkapkan ciri – ciri
khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya
bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan dan lain lain.
5) Tes hasil belajar ( Achievement Test).
Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi
jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement
Test) ini adalah taraf prestasi dalam belajar.
6) Tes Perkembangan Vocasional,
Mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak
akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (Vocation) dalam memikirkan
hubungan antara memangku jabatan dan ciri ciri kepribadian serta
mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri.
Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam
mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaan (Career
maturity ).
Menurut Anas sudijono ( 2005 : 74 ), bahwa penggolongan tes dilihat
Dari segi cara pengajuan pertanyaan dan cara memberi jawaban adalah
sebagai berikut :
1) Tes tertulis yaitu tes dimana tester dalam mengajukan butir butir pertanyaan
atau soalnya dilakukan secara tertulis dan teste memberikan jawabannya juga
secara tertulis.
30
2) Tes lisan yaitu tes dimana tester di dalam mengajukan pertanyaan – pertanyaan
atau soalnya dilakukan secara lisan dan testee memberikan jawabannya secara
lisan pula.
3) Tes perbuatan yaitu tes yang digunakan untuk mengukur taraf kompetensi yang
bersifat ketrampilan ( psikomotorik ), dimana penilaiannya dilakukan terhadap
proses penyelesaian tugas dan hasil akhir yang dicapai oleh teste setelah
melaksanakan tugas tersebut.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes diatas, maka bisa disimpulkan
macam – macam tes adalah : tes tertulis , tes lisan, tes perbuatan.
b. Tes yang digunakan
Teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini
adalah menggunakan tes kemampuan membaca permulaan melalui metode
ABA ( Applied Behaviour Analisys ).
Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca permulaan siswa
setelah diberi tindakan.
Tabel 2
Kisi – kisi Tes Kemampuan Membaca Permulaan
Anak - anak Autis Ringan
No Kemampuan
membaca
permulaan
Indikator
1. Membaca
huruf Vokal
a) Siswa dapat memegang huruf vocal a.i.u.e.o
b) Siswa dapat menunjuk huruf vocal
c) Siswa dapat menyamakan huruf vocal.
d) Siswa dapat membaca huruf vocal a,i,u,e,o, berkali – kali.
2. Membaca huruf
konsonan
a) Siswa dapat memegang huruf konsonan b.d,k,r,t
b) Siswa dapat menunjuk huruf konsonan b,d,k,r,t
c) Siswa dapat menyamakan huruf konsonan b,d,k,r,t
d) Siswa dapat membaca huruf konsonan b,d,k,r,t berkali – kali.
31
3. Membaca
konsonan vokal
a. Siswa dapat menunjuk huruf konsonan vocal Misalnya huruf
ca, ci ,cu,ce .co. da.di.du.de dst
b. Siswa dapat memegang huruf konsonan vocal
Misalnya huruf ca,ci,cu,ce,co,da,di,du,de,dst
c. Siswa dapat menyamakan huruf konsonan vocal Misalnya
huruf ca,ci, cu ,ce, co, da, di.du.de. dst
d. Siswa dapat membaca huruf konsonan vocal.
Misalnya huruf ca,ci,cu,ce,co,da,di,du,de,do dst
4. Membaca
suku kata
a) Siswa dapat menggabungkan huruf
b) Siswa dapat menggabungkan huruf konsonan
c) Siswa dapat menggabungkan suku kata
d) Siswa dapat membaca suku kata
5. Membaca
sesuai gambar
a) Siswa dapat menyamakan kata dengan gambar
b) Siswa dapat menyamakan kata dengan kata
c) Siswa dapat membaca kata sesuai gambar
d) Siswa dapat membaca berulang – ulang dg benar.
Pelaksanaan penelitian menggunakan skala nilai dengan kriteria sebagai
berikut; Amat Baik : Skor 85 - 100
Baik : Skor 70 - 84
Sedang : Skor 55 - 69
Kurang ; Skor 30 - 54
Tiap item soal memiliki nilai 1 sampai dengan 5, adapun penjelasannya
sebagai berikut;
Nilai 1 : Belum mampu , walaupun telah di bantu dan hasilnya tidak sesuai
dengan kriteria.
Nilai 2 : Belum mampu, walaupun telah dibantu, dan hasilnya kurang sesuai
dengan criteria.
Nilai 3 : Mampu, dengan bantuan tetapi hasilnya tidak sesuai criteria.
Nilai 4 : Mampu, dengan bantuan dan hasilnya sesuai dengan
kriteria.
Nilai 5 : mampu , tanpa bantuan dan hasilnya sesuai dengan kriteria.
32
2. Observasi/ Pengamatan
a. Pengertian Observasi
Ada beberapa pengertian Observasi yaitu :
Menurut Sadjidan dalam Muhammad Idrus ( 2007 : 57 ) : ”Observasi
adalah cara pengumpulan data. Dimana peneliti melakukan pengamatan
terhadap subyek penelitian, sehingga subyek penelitian tidak tahu bahwa dia
sedang diamati” Sedangkan menurut Muhammad Idrus ( 2007 : 59 )
“observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang
dilakukan secara sistematis”.
Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan : observasi atau
pengamatan dan pencatatan dilaksanakan secara langsung, partisipan dan
sistematis terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indra.
Sedang observasi penulis gunakan yaitu observasi partisipan dan
sistematis. Tujuannya adalah untuk mengetahui secara langsung tentang
keadaan siswa terutama tentang kemampuan membaca permulaan pada anak
autis di SDLB Harmony Surakarta.
b. Jenis Observasi
Didalam pengumpulan data, salah satu diantara untuk melengkapi
data tersebut menggunakan observasi. Adapun observasi itu sendiri ada
beberapa macam atau jenis. Sedang observasi menurut Sugiyanto dalam
Muhammad Idrus (2007 : 58) ditinjau dari jenisnya ada tiga macam, yaitu:
1) Observasi partisipatif, dalam observasi ini peneliti terlibat dengan
kegiatan sehari – hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan
sebagai sumber data penelitian.
2) Observasi terus terang atau bersamar, dalam hal ini peneliti dalam
mengumpulkan data mengatakan terus terang kepada sumber data, bahwa
ia sedang melakukan penelitian .
3) Observasi tak berstruktur, observasi yang tidak dipersiapkan secara
sistematis.
Sedangkan menurut Wimamadiun (2010 : 34) jenis jenis observasi
adalah :
33
1) Observasi partisipan, yaitu observasidimana observer ikut aktif
didalam kegiatan observasi .
2) Observasi non partisipan, yaitu observasi dimana abserver tidak ikut
aktif didalam kegiatan observer ( hanya mengamati dari jauh )
3) Observasi kuasi partisipasi, yaitu observasi dimana observer seolah
olah turut berpartisipasi yang sebenarnya hanya berpura – pura dalam
kegiatan observasi
Dari beberapa pendapat tentang jenis observasi diatas dapat di
simpulkan yaitu:
1) Observasi partisipan,.
2) Observasi non partisipan.
.
c Observasi yang digunakan.
Adapun dalam penelitian ini jenis observasi / pengamatan yang penulis
gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis.
Tujuan untuk mengetahui secara langsung kemampuam membaca permulaan
pada siswa kelas I, khususnya siswa autis di SLB Autis Harmony Surakarta.
Kriteria sebagai pedoman penilaian yaitu :
Tabel 4
Pedoman Observasi
No Variabel Aspek Indikator
Kemampuan
Membaca
1. Membaca h vokal
2. Membaca huruf konsonan
3. Membaca kata
Siswa dapat memegang
menunjuk dan membaca huruf
Vokal
Siswa dapat memegang,
menunjuk dan membaca huruf
konsonan.
Siswa dapat menyamakan
huruf Dengan gambar.
34
3. Dokumen
a. Pengertian
Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data, untuk melengkapi data,
yang dirasa kurang lengkap atau kurang yakin bila tidak didukung dengan
dokumen.
Menurut Suharsimi Arikunto ( 2002 : 206) ”Dokumen merupakan salah
satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
agenda, dan sebagainya”.
Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan, dokumen adalah
pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar, transkrip,
majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, buku, berkas, sebuah e-mail dan arsip –
arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa.
b. Jenis Dokumentasi
Untuk melengkapi data dalam penelitian, dukumen merupakan pelengkap
salah satu diantara data – data yang telah ada. Adapun jenis dokumen sebagai
pelengkap penelitian ini adalah :
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata ( 2009 : 213 ) dokumen catatan
kesiswaan yang berada disetiap sekolah, isinya tentang hasil atau prestasi belajar,
latar belakang keluarga, keadaan dan perkembangan pribadi siswa, aktivitas
disekolah dan di luar sekolah.
Menurut Sawarji Suwandi ( 2008 : 68 ) dokumen atau arsip terdiri
dari : Kurikulun, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru, buku
atau materi pelajaran, hasil tulisan atau karangan siswa, dan nilai yang diberikan
guru.
Dari pendapat diatas, jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen
catatan kesiswaan, dokumen hasil karya siswa, dokumen Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang dibuat guru, dokumen nilai yang diberikan guru.
35
Jenis dokumen penulis gunakan adalah : jenis dokumen catatan
kesiswaan, terutama kemampuan membaca permulaan siswa kelas I di SDLB
Autis Harmony Surakarta.
Tujuan jenis dokumen catatan kesiswaan penulis gunakan
adalah : untuk melengkapi data yang telah ada, agar penulis mudah untuk
menentukan sikap.
E. Validitas Data
Validitas data adalah alat ukur yang sesuai dengan apa yang akan diukur.
Dalam penelitian ini untuk mencari validitas ialah dengan mengkorelasikan skor
tiap soal dengan skor total. Untuk mengetahui valid atau tidak hasil korelasi itu di
konsultasikan dengan tabel.
Informasi-informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa
validasinya, sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dapat
dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik kesimpulan. Tehnik yang
digunakan untuk memeriksa validitas data yaitu triangulasi dan review informan
kunci.
Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan validitas data dengan
memanfaatkan sarana diluar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding
data itu. Lexy J. Moleong dalam Sawarji Suwandi (2008 : 69 ).
1. Triangulasi sumber data
a. Data dari buku ulangan harian siswa menunjukan hasil prestasi
Matematika rendah.
b. Data dari raport semester I, nilai rata-rata 55
2. Triangulasi Pengumpulan data
a. Tugas membaca permulaan didepan kelas, siswa mengalami
kesulitan membaca.
b. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di
rumah.
c. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas / media
pembelajaran di sekolah.
36
Setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen
diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valid.
Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat
mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat
digunakan siapa saja.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan validitas : conten validity atau
validitas isi, validitas dokumen, validitas koesioner. Conten validity atau validitas
isi untuk mengukur sejauh mana item-item dalam test mencakup keseluruhan
materi yang akan diukur, yang telah disesuaikan dalam kurikulum, Validitas
dokumen untuk mengetahui prestasi siswa nilai raport semester I, Validitas
koesioner untuk mengetahui keaktifan siswa terhadap proses pembelajaran.
Tujuannya untuk menghindari ketidak validan data dalam arti datanya
dari tes, tes itu sendiri dapat mengukur semua item – item dan keseluruhan
materi, yang telah ditentukan dalam kurikulum. Data dari dokumen, dokumen itu
betul-betul data nilai rapor atau nilai ulangan harian semester I. Data dari
koesioner data koesioner betul – betul dari hasil pengamatan pada waktu kegiatan
proses belajar mengajar berlangsung.
F. Tehnik Analisis Data
Dalam penelitian ini analisis data yang digunakan untuk hipotesis
mengenai
“Upaya peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui metode ABA
(Applied Behaviouer Analisys) pada anak kelas I SDLB Autis Harmony
Surakarta“, penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif (statistik deskriptif
komparatif)
Tehnik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif,
yaitu membandingkan hasil yang diperoleh antara siklus. Nilai rata-rata siswa
dalam kemampuan membaca pada kondisi sebelum diberi tindakan, dan setelah
diberi tindakan pada siklus I, siklus II, dan seterusnya dibandingkan hasilnya.
Tehnik analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkapkan
kelebihan dan kelemahan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar mengajar
37
berdasarkan kriteria normative yang diturunkan dari kajian teoritis maupun dari
ketentuan yang ada.
G Indikator Kinerja
Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan
dalam menentukan keberhasilan penelitian. Ukuran keberhasilan dalam
pencapaian tujuan penelitian tindakan kelas ini dinyatakan secara kuantitatif.
Setelah siklus berakhir diharapkan pembelajaran dengan metode ABA (Applied
Behaviour Analisys) yang dirancang dan dilaksanakan, dapat meningkatkan
kemampuan membaca permulaan pada pelajaran Bahasa Indonesia Khususnya.
Sedangkan tujuan akhir dari penelitian ini adalah siswa mampu membaca 5 kata
sederhana tanpa mengeja. Tolak ukur keberhasilan penelitian sebagai berikut:
a. Siswa mampu mencapai standar kriteria kelulusan minimal sebesar 6,0
b. Siswa yang memperoleh nilai 60 tidak kurang dari 80%
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini mencakup tahap-tahap sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
a. Mempelajari kurikulum
b. Mengindentifikasi siswa yang prestasinya kemampuan membaca rendah
c. Membuat alat peraga
d. Membuat lembar observasi
2. Tahap Tindakan
Pelaksanaan tindakan dengan berpedoman pada bentuk siklus.
Direncanakan 2 siklus yang setiap siklusnya tercakup 4 kegiatan, yaitu
perencanaan, tindakan, pengamatan,dan refleksi
Perencanaan Siklus I :
Tolak ukur keberhsilan siklus I siswa dapat mengenal membaca
huruf – huruf, suku kata, kata dan kalimat dengan nilai 60.
1) Tahap Perencanaan ( Planning )
a) Merancang sekenario pembelajaran membaca
38
b) Menyusun RPP tentang kegiatan membaca
c) Membuat lembar keaktifan , kretifitas dan evaluasi siswa
d) Menyiapkan media pembelajaran berupa kartu huruf
e) Membuat lembar observasi
2) Pelaksanaan tindakan ini berarti perlakuan yang akan dilaksanakan
kepada siswa. Adapun langkah kegiatannya adalah:
a) Guru memberikan materi pelajaran membaca permulaan
dengan metode ABA ( Applied Behaviour Analisys)
b) Guru meminta siswa untuk mengamati kartu huruf, kemudian
siswa menjawab sesuai dengan kartu yang dilihat,
c) Guru memberi tulisan , siswa membaca
d) Siswa mengenal huruf, yang ada dan cara membacanya
dengan bantuan gambar
e) Setelah siswa mengenal huruf
f) Dilanjutkan membaca tanpa bantuan media
g) Kemudian menganalisis kalimat menjadi kata, suku kata
dan huruf .
3) Pengamatan ( Observing )
Pengamatan diarahkan pada poin-poin yang telah ditetapkan
dalam Indikator. Hasil pengamatan dicatat dalam bentuk jurnal
harian.
4) Refleksi ( Reflecting )
Refleksi merupakan pengkajian dan penilaian hasil pengamatan
dalam kaitannya dengan indikator kinerja tahap I , apabila hasil
pengamatan menunjukkan peningkatan, maka dirumuskan tujuan
tahap selanjutnya lebih tinggi tingkat pemahamannya. Untuk
itu perlu disusun rencana tindakan ke II.
b. Rencana Siklus II
Pada siklus II perencanaan tindakan dengan hasil yang telah dicapai
pada tindakan dalam siklus I. Sebagai upaya perbaikan dari siklus
tersebut materi pembelajaran sesuai kurikulum sehingga pelaksanaan
39
penelitian tidak mengganggu jadwal pembelajaran, Karena tujuannya
adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca.
Tolak ukur keberhasilan siklus II adalah siswa dapat membaca
huruf-huruf, suku kata yang mengandung konsonan rangkap mencapai
nilai 60
Rencana penelitian penggunaan media dalam meningkatkan
kemampuan membaca permulaan dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Menurat Kemmis dan Tanggari dalam Sawarji Suwandi ( 2008 : 15
) yang meliputi : “tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap
observasi, dan tahap refleksi".
Siklus penelitian yang dirancang dapat digambarkan sebagai berikut
Siklus n
SIKLUS I
Dalam proses pembelajaran (Membaca permulaan ) kelas I SDLB Autis
Harmony Surakarta metode yang cocok adalah metode ABA (Applied Behaviour
Analisys). Pada tahapan ini guru menunjukkan huruf yang bertulisan dibawahnya
yang berhubungan dengan gambar tersebut, dengan kata sederhana yang
mengandung huruf ( b,d,k, r, t) sehingga siswa dapat membacanya.
Rencana 1 Rencana 2
Rekomendasi
Refliksi 1 Tindakan 1 Refleksi 2
Obsevasi 1 Obsevasi 2
Siklus I Siklus II
Tindakan 2
40
Adapun tahapan pada siklus I adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan Tindakan ( Planning )
Subyek penelitian sebanyak 4 siswa I SLB Autis Harmony Surakarta,
ternyata setelah diamati masih belum lancar membaca, sehingga dalam hal
upaya peningkatan membaca permulaan guru perlu memilih dan
menggunakan media yang sesuai dengan materi pembelajaran yakni metode
ABA (Applied Behaviour Analisys)
Guru menunjukkan kartu huruf, siswa disuruh menyebut kartu huruft
tersebut dan guru memberi tulisan siswa diajak membacanya. Setelah siswa
mampu mengenal huruf dalam kata maka huruf-huruf digabungkan dan
akhirnya menjadi kata kembali Dari hasil membaca dan menguraikan dan
mengabungkan huruf, hasilnya selalu dinilai guru. Guru selalu memberi
bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan, dan memberi rewards
berupa pujian dan penilaian sehingga siswa menjadi lebih senang dan
semangat.
b. Pelaksanaan Tindakan ( Acting )
Pada tahap ini guru menunjukkan kartu huruf dan gambar. Guru
menjelaskan cara membaca, mengajak membaca kata bersama–sama,
kemudian guru menguraikan kata sampai menjadi huruf dan menggabungkan
lagi menjadi kata, Guru menyuruh salah satu siswa yang sudah lancar membaca
untuk membaca didepan kelas, siswa lain menirukan. Ini dilakukan secara
bergantian dan berulang-ulang sampai siswa yang belum lancar membaca
sampai bisa membaca. Guru selalu memberi motivasi, rewards dan membantu
siswa yang mengalami kesulitan membaca. Guru selalu mengamati
perkembangan dan kemajuan siswa dalam belajar membaca.
c. Observasi ( Observing )
Pada tahapan ini guru mengumpulkan data dan mengamati siswa pada
waktu proses pembelajaran membaca secara langsung, sehingga dapat
diketahui apakah siswa sudah bisa membaca dan menggabungkan serta
menguraikan kata dengan benar.
41
d. Refleksi ( Reflecting )
Pada tahapan ini penulis melakukan pengolahan data dalam membaca
permulaan, hasil pengamatan selama pembelajaran. Pengolahan data yang
berasal dari pengumpulan data (Observasi) tersebut dinyatakan berhasil bila
siswa dapat nilai 60 Hasil pengolahan data tersebut untuk menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas I SDLB Autis
Harmony Surakarta.
Berdasarkan pengolahan data tersebut dipakai sebagai dasar analisis
peningkatan kemampuan membaca untuk tindak lanjut menuju siklus berikutnya.
2) Tindakan.
Kegiatan pemberian program pembelajaran didalam kelas. Kegiatan ini
diikuti oleh seluruh siswa yang berjumlah 4 orang yang terdidi dari 2 siswa putra
dan 2 siswa murid. Langkah – langkah proses kegiatan pembelajaran sebagai
berikut :
I Kegiatan Awal
1.1 Berdoa.
Appersepsi yaitu menyanyikan lagu A.B.C.D
1.2 Mengenalkan arti pentingnya membaca
2 Kegiatan Inti
2.1. Membaca huruf Vokal.
2.2 Membaca huruf Konsonan.
2.3 Membaca kata.
3. Kegiatan Akhir
3.1 Membaca huruf dan mengurutkan membacanya
3.2 Membaca huruf dan menggabungkan menjadi kata.
4. Penilaian.
Nilai 1 : Belum mampu, walaupun telah dibantu , dan hasilnya tidak
Sesuai kriteria
Nilai 2 : Belum mampu, walaupun telah dibantu dan hasilnya kurang
Sesuai kriteria
42
Nilai 3 : Mampu, dengan bantuan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan
Kriteria
Nilai 4 : mampu , tanpa bantuan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan kriteria
Nilai 5 : Mampu, tanpa bantuan hasilnya sudah seperti kriteria
SIKLUS II
Setelah melaksanakan siklus I yaitu membaca kalimat sederhana yang
mengandung kata dengan huruf b,d,k,r,t di depan maupun ditengah kata. Dianalis
yaitu diuraikan sampai menjadi huruf dan yang digabungkan dari huruf menjadi
sebuah kata Setelah itu guru menyuruh siswa untuk membaca bersama-sama tanpa
gambar. Tindakan pada siklus II akan dilaksanakan apabila materi yang dikuasai
tidak mencapai 60 persen dari keseluruhan soal yang diberikan. Dalam putaran
kedua ini diadakan tindakan perbaikan dari siklus sebelumnya. Tetapi apabila
anak mampu mengerjakan soal mencapai 60 persen maka akan dilanjutkan
putaran kedua.
Adapun tahapan pada siklus II adalah :
a. Perencanaan Tindakan ( Planning )
Tindakan siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I dengan
melaksanakan proses pembelajaran membaca kalimat sederhana yang
mengandung huruf b,d.k,r,t dalam belajar membaca permulaan. Materi
pembelajaran pada siklus II Sesuai kurikulum yaitu membaca nyaring dengan
lafal dan intonasi yang tepat .
b. Pelaksanaan Tindakan ( Acting )
Pada tahapan ini guru menunjukan gambar dan kata sederhana yang
mengandung kata dengan huruf b,d,k,r,t Guru menjelaskan cara membaca.
Siswa menirukan kata yang dibaca guru bersama – sama. Kemudian guru
bersama – sama siswa menguraikan proses (analitik) kalimat menjadi kata,
suku kata dan huruf serta menggabungkan kembali, (proses sintetik) dari
huruf, suku kata menjadi sebuah kalimat. Siswa yang sudah lancar membaca
memberi contoh membaca, selanjutnya siswa lain membaca bersama-sama
dan berulang-ulang satu persatu siswa membaca didepan kelas tanpa gambar.
Guru selalu memberi penguatan kepada siswa yang sudah bisa membaca dan
43
memberi bantuan serta motivasi kepada siswa agar lebih giat lagi dalam
belajar membaca untuk mencapai hasil yang lebih baik. Guru mengamati
proses membaca siswa dan memberi nilai pada setiap siswa.
c. Observasi ( Obseving )
Pada tahap ini guru telah melaksanakan proses pembelajaran dengan
menggunakan metode ABA ( Applieid Behaviour Analisys ) sesuai materi
pokok bahasan. Setiap akhir pembelajaran diadakan evaluasi atau tes
membaca. Hasil atau nilai yang dicapai siswa dicatat oleh guru digunakan
untuk menganalisa perkembangan atau kemajuan proses belajar membaca
permulaan siswa.
d. Pengolahan Data ( Reflecting )
Guru melakukan pengolahan data berdasarkan observasi selama
pembelajaran. Dari hasil tes yaitu tes proses membaca dan tes membaca
diketahui sejauh mana hasil yang dicapai dalam upaya peningkatan membaca
permulaan dengan menggunakan metode ABA (Applied Behaviour Analisys)
bagi siswa kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta. Dalam pengolahan data
(Reflecting) yang berasal dari observasi dinyatakan berhasil bila siswa telah
mencapai nilai 60.
44
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
1. Kondisi Awal
Dari hasil pengamatan / observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa
kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta Tahun Ajaran 2009 / 2010 belum dapat
membaca, hal ini terbukti pada ulangan harian Membaca permulaan pada kondisi
awal sdapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 5
Nilai Ulangan Membaca Permulaan Sebelum tindakan
No Nama Nilai KKM Kriteria Nilai
Tuntas Tdk Tuntas
1 AT 52 60 X
2 TO 56 60 X
3 ST 54 60 X
4 KL 52 60 X
5 Nilai rata-rata 53 60 X
Keterangan : V : Tuntas X : Tidak tuntas
Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa nilai rata – rata pada saat pre
tes adalah 53. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa belum siap menerima pelajaran
membaca permulaan. Karena nilai rata – rata klasikal kurang dari 60.
Dari keaadaan tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan perbaikan
prestasi belajar membaca permulaan dengan menggunakan metode ABA (Applied
Behaviour Analisys)
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat pula dalam bentuk grafik seperti
dibawah ini.
45
Grafik I. Nilai Kemampuan Membaca Sebelum Tindakan
2 Pelaksanaan Penelitian Siklus I
a. Perencanaan I
Langkah – Langkah Pengajaran Kemampun membaca permulaan sebagai
persiapan membaca permulaan dengan metode ABA (Applied Behaviour
Analisys). Dilaksanakan dengan frekuensi 2 kali seminggu maka rencana program
pembelajaran (RPP) yang telah dibuat sebagai berikut ;
1) Kegiatan awal
Kegiatan pertama yang dilakukan oleh guru pada awal pengajaran
adalah memberikan penjelasan kepada siswa materi pelajaran tentang
membaca permulaan dengan menggunakan metode ABA (Applied
Behaviour Analisys). Guru juga menjelaskan tentang urutan kegiatan ini,
maka untuk selanjutnya adalah siswa melakukan kegiatan membaca dengan
konsentrasi penuh, mengingat anak autis gampang beralih perhatiannya.
Kegiatan ini dilakukan dengan cara memperhatikan huruf, memegang,
menyamakan dan menyebutkan huruf. Hal ini dilakukan selama 5 menit.
2) Kegiatan inti
Kegiatan ini dilakukan kurang lebih selama 30 menit, kegiatan ini
meliputi :
0
10
20
30
40
50
60
70
Nilai KKM
AT TO ST KL Nilai rata-rata
46
a) Membaca Huruf Vokal
Kartu huruf vocal a,i,u,e,o.secara bergantian diperlihatkan pada siswa.
Kemudian siswa melihatnya berkali – kali ,memperhatikan dan bisa
menunjukkan semua huruf vocal . Bisa menyamakan huruf , akhirnya
setelah dikuasai bisa menyebutkan semua huruf vocal a.i.u.e.o.
b) Membaca Huruf Konsonan.
Kartu huruf konsonan b, d, k, r ,t. diperlihatkan berkali kali oleh
guru. Siswa memperhatikan. Kemudian disuruh menunjuk huruf
konsonan tersebut. Akhirnya siswa disuruh menyamakan huruf
konsonan dan setelah dikuasai bisa menyebutkan semua huruf
konsonan b,d,k,r,t,.
c) Membaca Huruf Konsonan – Vokal .
Kartu Huruf Konsonan – Vokal, misalnya :
ba,bi,bu,be,bo,da.di,du,de,do dst, diperlihatkan pada siswa. Guru
menyebutkan berkali kali. Anak menirukan. Jika sudah dikuasai , guru
menyebutkan bunyinya anak mengulanginya, akhirnya guru bertanya
huruf apa ini ?
Proses kegiatan selanjutnya adalah menggabungkan huruf menjadi
suku kata dan kata, ini sekaligus mengajarkan membaca. Anak satu
persatu secara bergiliran diberi tugas membaca sesuai dengan huruf
yang ditunjukkan guru dan nama gambar yang ditunjuk guru.
3) Kegiatan Penutup.
Kegiatan penutup dilakukan dengan membaca kembali huruf – huruf yang
sudah dipelajari dan membacanya. Kemudian menggabungkan huruf menjadi
suku kata dan kata Akhirnya guru menyampaikan pesan agar siswa belajar lagi
dirumah sesuai dengan materi yang telah disampaikan.
b) Tindakan.
Kegiatan pemberian program pembelajaran membaca permulaan di dalam
kelas. Kegiatan ini diikuti oleh 4 orang siswa yang terdiri dari 2 siswa putra
dan 2 siswa putri. Langkah – langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut :
47
1 Kegiatan Awal
1.1 Berdoa
Appersepsi yaitu menyanyikan lagu A, B, C, D
1.2 Mengenalkan arti pentinya membaca
2. Kegiatan Inti.
2.1 Membaca huruf vocal.
2.1.1 Mengamati semua huruf vocal a,i,u,e.o
2.1.2 Menunjuk semua huruf vocal a,i,u,e,o.
2.1.3 Menyamakan semua huruf vocal a,i,u,e,o
2.1.4 Membaca semua huruf vocal a.i.u.e.o.
2.2. Membaca huruf konsonan .
2.2.1 Mengamati huruf konsonan b,. d, k ,r ,t.
2.2.2 Menunjuk huruf konsonan b, d,k.r,t.
2.2.3 Menyamakan huruf konsonan b, d,k r,t.
2.2.4 Menyebut Huruf konsonan b,d,k, r ,t
2.3. Membaca Huruf Konsonan - Vokal.
2.3.1 Mengamati huruf konsonan vocal ba.bi.bu.be,bo.da,di,du,de,do
dst
2.3.2 Menunjuk huruf konsonan vocal ba.bi.bu.be.bo.da.di.du.de.do
dst
2.3.3 Menyamakan huruf konsonan - vokal ba.bi,bu,be,bo,
da.di.du.de.do.dst
2.3.4Menyebutkan huruf konsonan vocal ba,bi,bu,be,bo,da.di,du,de,do
dst
3. Membaca suku kata dan kata sederhana
3.1.1 Membaca huruf dan menggabungkan menjadi suku kata
3.1.2 Membaca suku kata dan menggabungkan menjadi kata
48
3. Kegiatan Akhir
3.1. Membaca kembali huruf dan kata yang sudah diajarkan-
3.2. Guru memberikan saran – saran dan menutup pelajaran.
c. Observasi dan Monitoring
Pada tahap ini peneliti mengadakan pengamatan terhadap minat siswa pada
pembelajaran kemampuan membaca permulaan. Dan kemampuan siswa dalam
memahami, mengerti dan mengenal tentang huruf, serta bisa menyusun kartu
huruf menjadi kata dan bisa membacanya. Kemudian diadakan evaluasi dan
menemukan bukti – bukti nyata dari peningkatan yang terjadi setelah
dilaksanakan tindakan.
Data yang akan diungkapkan dalam kegiatan pembelajaran kemampuan
membaca permulaan dengan metode ABA (Applied Behaviour Analisys). adalah
perkembangan kemampuan siswa dalam hal mengenal dan membedakan huruf,
membacanya serta menyusun kata sesuai gambarnya.
Tabel 6
Hasil Data Siklus ke I
Jumlah siswa yang melakukan Minimal 60 % benar
No Aspek Pengamat Jumlah
siswa
Prosentase Keterangan
1 Keaktifan KBM 1 25%
2 Membaca Huruf 2 50%
3 Menyusun Huruf 1 25%
Dari tabel diatas dapat dibuat grafik sebagai berikut
49
Grafik 2 : Grafik Hasil Data Siklus ke I
Tabel 7
Nilai Kemampuan Membaca Permulaan Siklus ke I
No Nama Nilai KKM Kriteria Nilai
Tuntas Tdk Tuntas
1 AT 62 60 V
2 TO 56 60 X
3 ST 60 60 V
4 KL 54 60 X
5 Nilai rata-rata 53 60
Keterangan V : Tuntas
X : Tidak Tuntas
Dari Tabel diatas bisa dibuat grafik sebagai berikut:
50
Grafik 3 : Grafik Nilai Hasil Test Siklus ke I.
d). Refleksi.
Setelah diadakan serangkaian tindakan pada siklus I ini maka data yang
diperoleh dianalisis secara diskriptif, kemudian diadakan refleksi terhadap proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan dari rencana tindakan berikutnya .
Dari hasil proses pembelajaran yang dimulai dari penyusunan rencana
pembelajaran sampai pelaksanaan evaluasi. Masih ada beberapa hal yang perlu
diperbaiki agar hasilnya nanti ada peningkatan.
Nilai KKM dari tindakan kelas siklus I ini yang harus dicapai adalah 60.
Padahal Rerata kelas sebesar 57 dari 4 siswa , yang mendapat nilai 60 sebanyak 2
siswa, dan yang 2 siswa masih mencapai nilai dibawah rata- rata jadi belum
mencapai ketuntasan.
Meskipun secara klasikal belum mencapai ketuntasan, tetapi berdasarkan
data tersebut, kondisi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan
kemampuan membaca permulaan sebelum diadakan tindakan. Maka peneliti ingin
mengadakan kembali dan memperbaiki proses pembelajarannya dan penambahan
materinya.
51
3. Pelaksanaan Siklus II
Pelaksanan Siklus ke II ini tindakan akan diulang kembali dan
perbaikan dari siklus I sebelumnya. Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran
yang dilaksanakan di dalam kelas sebagai berikut : karena materi yang dikuasai
siswa tidak mencapai 60 % dari keseluruhan materi yang diberikan. Maka
diadakan perbaikan, tetapi kalau siswa menguasai 60 % persennya maka tidak
dilakukan perbaikan. Sebab jika siswa masih belum mampu juga pada putaran
Tindakan II, maka akan diulang kembali pada Putaran Tindakan III dan
seterusnya
a) Perencanaan Tindakan II
Pada tahap ini rencana tindakan mengacu pada hasi dan refleksi yang
dilakukan , setelah bermusyawarah dengan guru kelas. Rencana tindakan adalah
berupa program kemampuan membaca permulaan yang sudah ada perubahan
yaitu:
1) Waktu pembelajaran membaca permulaan selama 35 menit
2) Peneliti menyiapkan media pembelajaran berupa kartu huruf dan gambar
Yang beraneka warna
3) Jumlah latihan/ frekuensi pembelajaran ditingkatkan menjadi 3 x per ming
Gunya, agar siswa lebih menguasainya.
4) Proses pembelajaran harus lebih bervariasi dan waktunya ditambah.
b) Tindakan II dan Observasi II
Pada tahap ini pemberian tindakan dilakukan setelah mengadakan refleksi
dengan tindakan putaran pertama. Tindakan putaran kedua dapat dilihat sebagai
berikut :
52
1. Kegiatan Awal
1.1 Berdoa
Appersepsi yaitu menyanyikan lagu A, B, C, D
1.2 Mengenalkan arti pentinya membaca
2. Kegiatan Inti.
2.1 Membaca huruf vocal.
2.1.1 Mengamati semua huruf vocal a,i,u,e.o
2.1.2 Menunjuk semua huruf vocal a,i,u,e,o.
2.1.3 Menyamakan semua huruf vocal a,i,u,e,o
2.1.4 Membaca semua huruf vocal a.i.u.e.o.
2.2. Membaca huruf konsonan .
2.2.1 Mengamati huruf konsonan b,. d, k ,r ,t.
2.2.2 Menunjuk huruf konsonan b, d,k.r,t.
2.2.3 Menyamakan huruf konsonan b, d,k r,t.
2.2.4 Menyebut Huruf konsonan b,d,k, r ,t
2.3. Membaca Huruf Konsonan - Vokal.
2.3.1 Mengamati huruf konsonan vocal ba.bi.bu.be,bo.da,di,du,de,do
dst
2.3.2 Menunjuk huruf konsonan vocal ba.bi.bu.be.bo.da.di.du.de.do
dst
2.3.3 Menyamakan huruf konsonan - vokal ba.bi,bu,be,bo,
da.di.du.de.do.dst
2.3.4 Menyebutkan huruf konsonan vocal
ba,bi,bu,be,bo,da.di,du,de,do dst
3. Membaca suku kata dan kata sederhana
3.1.1 Membaca huruf dan menggabungkan menjadi suku kata
3.1.2 Membaca suku kata dan menggabungkan menjadi ka
53
3. Kegiatan Akhir
3.1. Membaca kembali huruf dan kata yang sudah diajarkan-
3.2. Guru memberikan saran – saran dan menutup pelajaran.
c) Observasi dan Monitoring II.
Pada tahapan ini guru mengumpulkan data dan mengamati siswa pada waktu
proses pembelajaran membaca secara langsung, sehingga dapat diketahui apakah
siswa sudah mampu membaca dan menggabungkan serta menguraikan kata
dengan benar. Dalam hal ini semua proses pembelajaran membaca dengan
menggunakan metode ABA (Applied Behaviour Analisys).
Setiap akhir pembelajaran diadakan evaluasi atau tes membaca. Hasil atau nilai
yang dicapai siswa dicatat oleh guru digunakan untuk menganalisa perkembangan
atau kemajuan proses belajar membaca permulaan siswa.
Tabel 8
Hasil Data siklus ke II
No Aspek Pengamat Jumlah
siswa
Jumlah siswa yang
melakukan minimal
60 % benar
Prosentase Keterangan
1 Keaktifan KBM 3 75%
2 Membaca Huruf 4 100%
3 Menyusun Huruf 3 75%
Nilai rata-rata
Dari tabel diatas dapat dibuat grafik sebagai berikut :
54
Grafik 4. Hasil Data Siklus ke 2
Tabel 9
Nilai Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II
No Nama Nilai KKM Kriteria Nilai
Tuntas Tdk Tuntas
1 AT 75 60 V
2 TO 70 60 V
3 ST 60 60 V
4 KL 65 60 V
5 Nilai rata-rata 70 60 V
Keterangan : V : Tuntas
X : Tidak Tuntas
Dari tabel tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut :
55
Grafik 5 : Grafik Nilai Hasil Tes Siklus ke II
d) Refleksi II
Guru melakukan pengolahan data berdasarkan observasi selama
pembelajaranyang sudah dilaksanakan. Kemudian dianalisis secara deskritip
Refleksi dilakukan untuk mengamati dan mempertimbangkan dampak dari
tindakan yang dilakukan siklus pertama.
Dari hasil tes setelah diadakan proses pembelajaran membaca
permulaan dengan metode ABA (Applied Behaviour Analisys) yang telah
direvisi. Menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan
dari para siswa.
Dari segi perhatian dan konsentrasinya semakin meningkat, anak semakin
mampu untuk membaca sehingga proses pembelajaran membaca permulaan
berjalan lebih aktif, efisien dan efektif.
Pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil tes kemampuan membaca
permulaan jika dibandingkan dengan dengan nilai pada siklus I. Dari hasil
tindakan kelas siklus II nilai KKM nya yang harus dicapai 60. Rerata kelas
pada siklus II sebesar 70. Dilihat dari banyaknya soal yang diberikan siswa
maka dapat diperoleh hasil dari 4 siswa yang memperoleh nilai lebih dari 60,
2siswa. Sedangkan yang memperoleh nilai diatas 70 ada 2 siswa.
Nilai rata – rata kelas pada siklus II ini diperoleh 70. Dengan
demikian kemampuan membaca permulaan anak autis kelas I SDLB Harmony
Surakarta termasuk“ Tinggi dan meningkat “Hal ini menunjukkan bahwa
indikator keberhasilan dalam penelitian ini.
56
B . Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I
dan siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut : hasilnya dari analisis
peningkatan nilai dari sebelum tindakan dengan prosentase pencapaian 25 %,
Siklus I dengan prosentase pencapaian pencapaian 50 % dan pada siklus II
meningkat menjadi 75%. Peningkatan dari siklus I sampai siklus II meningkat
menjadi 50 % Analisis hasil antar siklus dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 10
Hasil Data Siklus ke 1 dan siklus 2
No Aspek Pengamatan Jumlah siswa yang melakukan minimal 60 % benar
Siklus I Siklus II
Jumlah siswa Prosentase Jumlah siswa Prosentase
1. Keaktifan KBM 1 25% 3 75%
2. Membaca Huruf 2 50% 4 100%
3. Menyusun Huruf 1 25% 3 75%
Dari tabel tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut :
Grafik 6 Hasil Data Siklus ke 1 dan siklus ke 2
57
Tabel 11
Data Nilai awal , Siklus I dan Siklus II
No Nama Nilai awal Nilai siklus Nilai siklus KKM
1 AT 52 62 72 60
2 TO 56 56 70 60
3 ST 54 60 63 60
4 KI 52 54 65 60
Nilai Rata-rata 53 57 70 60
Dari tabel tersebut dapat dibuat grafik sebagai berikut :
Grafik 7 Grafik Nilai Hasil Test Siklus ke I dan ke II
Dari hasil analisis hasil pelaksanaan penelitian dapat dijelaskan bahwa
nilai pada kondisi awal, nilai siswa sebelum tindakan rata –rata kelas 53.
Sedangkan pada siklus I setelah adanya tindakan nilai rata – rata kelas meningkat
menjadi 57. Pada siklus II lebih meningkat lagi dibandingkan dengan siklus I .
Menjadi 70. Dengan demikian setelah adanya tindakan maka nilai kemampuan
belajar permulaan siswa autis kelas I SDLB Autis Harmony Surakarta meningkat.
58
C Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa menggunakan.
Metode ABA (Apllied Behaviour Analisys) dapat meningkatkan kemampuan
membaca permulaan pada anak autis ringan pada siswa kelas I SDLB Autis
Harmony Surakarta tahun Pelajaran 2009 / 2010
Dari hasil Penelitian bila dihubungkan dengan kajian teori masih relevan,
karena penggunaan metode mengajar yang tepat dapat memperlancar tercapainya
tujuan pengajaran. Sebaliknya bila metode metode mengajar yang digunakan guru
tidak tepat, misalnya kurang sesuai dengan materi pelajaran disajikan , maka
penggunaan metode ini justru dapat menghambat tercapainya tujuan
pembelajaran. Dengan pemakaian metode yang tidak tepat, siswa dapat merasa
malas dan bosan dalam mengikuti pelajaran , sehingga prestasi belajar siswa
yang dihasilkan kurang optimal.
Dengan pertimbangan bahwa metode ini yang paling cocok atau tepat untuk
suatu proses pembelajaran membaca permulaan, karena didalam metode ABA
(Applied Behaviour Analisys) juga diajarkan kontak mata, kepatuhan sehingga
anak lebih konsentrasi dengan urut urutan proses pembelajaran, dan memudahkan
guru dalam mengajar.
Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilakukan ini masih ada
beberapa kelebihan dan kelemahan daripada metode ABA ( Applied Behaviour
Analisys ) antara lain ;
1. Kelebihan penelitian ini :
a) Melatih kontak mata dengan baik
b) Melatih kepatuhan anak
c) Melatih konsentrasi anak lebih baik
d) Melatih komunikasi dua arah
e) Melatih kemandirian
f) Melatih kedisplinan
g) Menghilangkan/meminimalkan perilaku yang berlebihan
h) Anak menyukai pembelajaran ini, karena medianya berwarna warni dan
i) Proses belajar mengajarnya diulang – ulang,
59
2 Kelemahannya
a) Ketika guru mengajar siswa masih ada yang ramai, sehingga konsentrasi
gampang berubah.
b) Siswa cepat bosan kalau tidak bisa menjawab
Cara mengatasi kelemahannya :
a) Guru hendaknya memberi motivasi supaya anak lebih semangat belajar.
b) Guru harus selalu memberi rewards berupa pujian setiap anak selesai
tugasnya.
c) Guru hendaknya lebih kreatif dalam dan inovatif dalam setiap
pembelajarannya sehingga lebih kreatif.
60
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan dengan hasil analisa dan pembahasan hasil penelitian maka
dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode ABA ( Applied Behaviour Analisys
) dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak autis kelas I di
SDLB Autis Harmony Surakarta. Tahun Pelajaran 2009 / 2010. Hal ini dapat
dipahami dengan memperhatikan nilai kondisi awal prestasi belajar kemampuan
membaca permulaan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia 53. Pada Siklus I
diketahui nilai membaca permulaan 57. Pada siklus II nilai membaca permulaan
rerata kelas 70. Seluruh siswa mendapat nilai 60 atau lebih. Sehingga ketuntasan
secara klasikal telah mencapai 100 %. Berdasarkan data tersebut maka secara
klasikal telah mencapai ketuntasan belajar.
B. Saran.
Berdasarkan hasil penelitian dan kenyataan yang ada dilapangan, maka
penulis mengajukan saran – saran sebagai berikut:
1. Bagi Guru:
Sebaiknya guru didalam mengajar anak autis menggunakan metode ABA
( Applied Behaviour Analisys ) yang menyangkut aspek membaca
permulaan.
2. Bagi Siswa .
Siswa dapat mengoptimalkan metode ABA (Applied Behaviour Analisys )
karena dengan metode ini akan memudahkan siswa dalam proses
pembelajaran dan akan menambah kepatuhan, konsentrasi anak.
3. Bagi Sekolah
Sekolah sebaiknya menyediakan media pembelajaran yang menarik
warnanya dan bentuknya agar siswa lebih tertarik untuk belajar.
61
DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono . 2005 . Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta
Aris Sudiyanto. 2001. “Gangguan Perkembangan Anak Autis”. Seminar Ehari
Diagnosa dan Intervensi Serta Peran Ortu dalam Menangani Autis.
Surakarta. RS. Dr. Oen.
Arief Sadiman, dkk. 2006. Media Pendidikan (Pengamatan Pengembangan dan
Pemanfaatan) Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Basuki Wibawa dan Farida Mukti. 2001. Media Pengajaran :Bandung cv Maulana
Budi Santoso. 2000. "Autisme " Makalah Politeknik Kesehatan Surakarta.
Depdiknas. 2006 . Kurikilum Tingkat Satuan pendidikan. Jakarta : Badan Standar
Nasional Pendidikan
D.S. Prasetyono. 2008. Serba-serbi Anak Autis (Autisme dan Gangguan
Psikologis Lainnya).Yogyakarta: Diva Press.
Firdy Permana. 2000.” Seminar Deteksidan Intervensi Dini Autisme”,
Yogyakarta.
Galih A Veskarisyanti. 2008. 12 Tempi Autis Paling Efektif & Hemat Untuk
Autisme, Hiperaktif, Retardasi Mental Yogyakarta: Pustaka Anggrek.
Gayatri Pamodji. 2007. Seputar Autisme Jakarta: Gramedia
Gina Green. 2008, Autism and ABA. Jakarta: Gramedia.
Hadari Nawawi. 1995. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah.
Mada University Press.
Handojo. 2008. Autisma. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
Jessica Kingley. 2006. Applied Behavior Analysis. Jakarta: Gramedia.
Mirza Maulana. 2007. Anak Autis (Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental
Lain Menuju Cerdas dan Sehat). Yogyakarta: Katahati.
62
Mohammad Efendi. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta :
Bumi Aksara.
Mulyono Abdurrahman, 2003, Pendidikan Bagi Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Muhammad Idrus. 2007. Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial. Graha Indonesia.
Munawir Yusuf dan Edy Legowo. 2007. Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak
Dalam Belajar Melalui Pendekatan Modofikasi Perilaku. Surakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.
Nana Sudjana. 2008. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. 1994 . Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Bumi Aksara
Pandit PL .2010. Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data .. Co. id
Sudarwan Danim. 1995 . Media Komunikasi Pendidikan Pelayanan Profesional
Pembelajaran dan Mutu hasil belajar ( proses belajar Mengajar di
Perguruan Tinggi ). Jakarta : Bumi Aksara
Sadjidan . 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas dan
Penulisan Karya Ilmiah. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru,
Rayon 13 Surakarta.
Sarwiji Suwandi dan Madya Eko Susilo.2007. Penelitian Tindakan Kelas dan
Penulisan Karya Ilmiah. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru,
Rayon 13 Surakarta.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sitta R Muslimah. 2009. Terapi ABA Anak Autistik. Jakarta : Gramedia
63
Sumadi Suryabrata. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta; PT. Raja Grafindo
Persada.
Sunardi dan Sunaryo, 2007. Intervensi Dini Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:
Depdiknas.
Wimamadiun. 2010. http : // - www. Penelitian Tindakan Kelas . Com/ konten.
Php / nama = prosedur & penelitian + 7 & id = 63 , diakses tgl 8 mei 2008
Yoswan Azwandi. 2005. Mengenal dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: