Media Untuk Edukasi Bangsa

Evi Sabir – Gitawan, BSc.

 

            Yayasan Kailila Indonesia 2003

 

Pendahuluan

 

Gangguan Bahasa & Bicara anak dengan Autistic Spectrum Disorders (ASD) luas dengan meliputi bermacam-macam sisi dari bahasa & bicara itu sendiri. Sedangkan setiap klasifikasi dari Autisma dalam spectrum gangguan juga memiliki ciri-ciri gangguan bahasa & bicara tersendiri.

Untuk dapat menangani permasalahan ini secara maksimal maka dibutuhkan pengambilan maupun penganalisaan data yang seakurat mungkin dari profil bahasa & bicara anak tersebut. Dari hasil yang didapat, terapis yang bersangkutan haruslah membuat sebuah perencanaan terapi dimana kesulitan dalam bahasa dan bicara menjadi target utama dari penanganan yang akan diberikan (Individualized Therapy Program); berikut pula tahapan yang sesuai untuk tercapainya program yang telah direncanakan.

Makalah ini akan mencoba untuk membahas tahapan-tahapan pokok yang harus dilewati untuk mendapatkan sebanyak mungkin data mengenai profil bahasa & bicara anak gangguan bahasa & bicara yang mungkin dialami oleh anak; maupun garis besar untuk menanggulanginya dalam terapinya dan kehidupan sehari-hari anak.

 

 

I. Apa yang dimaksud dengan Gangguan Bahasa & Bicara:

 

Menurut Van Riper: Gangguan berbicara dapat disimpulkan sebagai berikut: Speech is defective when it calls unfavourable to it self, interferes with communication, or causes the speaker to be maladjusted; (conspicuous, unintelligible, and unpleasant). berbicara dikatakan terganggu bila berbicara itu sendiri membawa perhatian yang tidak menyenangkan pada si pembicara, komunikasi itu sendiri terganggu, atau menyebabkan si pembicara menjadi kesulitan untuk menempatkan diri (terlihat aneh, tidak terdengar jelas, dan tidak menyenangkan).

Menurut Berry and Eisenson “devective speech (1) It is not easily audible, (2) it is not readily intelligible, (3) it is vocally unpleasant, (4) it contains specific sound errors, (5) it is labored, or lacks normal inflection or rhythm, (6) it is linguistically devicient, (7) it is inappropriate to the age, sex or physical development. of the speaker, and (8) it is visible unpleasant.” Gangguan pada berbicara: (1) Tidak mudah didengar, (2) Tidak langsung terdengar dengan jelas, (3) Secara vocal terdengar tidak enak, (4) Terdapat kesalahan pada bunyi-bunyi tertentu, (5) bicara itu sendiri sulit diucapkannya, kekurangan nada dan ritme yang normal, (6) Terdapat kekurangan dari sisi linguistik, (7) Tidak sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan perkembangan fisik pembicara, dan (8) Terlihat tidak menyenangkan bila ia berbicara.

Salah satu kesulitan yang biasanya dialami anak dengan ASD adalah kesulitan berkomunikasi yang karakteristik luarnya dapat dilihat dari ciri-ciri diatas. Dengan demikian mereka yang berhubungan dalam bidang ini (Terapis Wicara) akan bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau gangguan pada berbicara.

Pertama-tama yang akan dilakukan oleh seorang Terapis Wicara adalah yang disebut dengan Evaluasi Awal untuk Bahasa & Bicara. Evaluasi ini dilakukan untuk mendapatkan profil dari Bahasa & Bicara anak, melihat ditahap mana kemampuan bahasa & bicara anak berada; Apa jenis gangguan yang dialami oleh anak serta salah apa yang akan diberikan untuk mengatasi masalah yang terlihat.

Ada beberapa sisi-sisi pokok yang dipakai oleh Terapis Wicara untuk mendapatkan profil bahasa & bicara anak tersebut. Semuanya berkaitan dengan kemampuan untuk bahasa dan berbicara, dan sebagai prosedur standart Terapis Wicara, sisi-sisi ini dilihat dan dievaluasi sebagaimana mestinya.

 

 

II. Evaluasi Awal untuk Bahasa & Bicara

 

Evaluasi yang efektif meliputi minimal patokan yang ada dibawah ini. Bagian ini juga akan mengikutsertakan gangguan-gangguan bahasa & bicara yang mungkin dialami di setiap sisi; dan garis besar dari terapinya:

 

1. Oral peripherai Mechanism Examiniation (Pemeriksaan Mekanisme Mulut dan Sekitarnya):

 

Pemeriksaan mekanisme mulut dan sekitarnya (Oral Peripheral/ oral facial) sangatlah penting karena termasuk bagian dari berbicara secara lengkap. Tujuannya agar dapat mengetahui bahwa faktor yang menyebabkan kelainan atau gangguan dalam berbicara tidak disebabkan oleh struktur dari alat berbicara tersebut. Patokan yang dipakai untuk pemeriksaan ini adalah bentuk (structure), Kekuatan (strenght), Pergerakan (movement).

            Beberapa observasi sering terlihat pada pemeriksaan ini dan kemungkinan pentingnya hal tersebut dalam mendeteksi gangguan pada bicara antara lain:

 

pada BENTUK:

 

  • Warna yang tidak normal pada lidah, palatal atau pharynx. Antara lain warna ke abu-abuan biasanya dihubungkan dengan paralisis otot. Kebiruan mungkin disebabkan dari pendarahan dari dalam. Warna keputihan pada batas palatal kertas dan palatal lunak dapat menandakan adanya submucosal cleft. Warna terlewat gelap atau bening dapat pula menandakan adanya palatal fistula atau celah. Daerah yang hitam dapat menandakan adanya oral canser.
  • Ketinggian atau kelebaran yang tidak normal pada palatal arch (lengkung palatal). Bentuk dari lengkung platal biasanya tidak sama dari satu orang ke orang yang lain. Tetapi lengkung palatal yang terlalu tinggi atau terlalu lebar akan menyebabkan kesulitan untuk pengucapan artikulasi yang membutuhkan kontrak antara palatal dan lingual. Lengkung palatal yang terlalu rendah atau lebar dengan keadaan lidah yang terlalu besar akan menyebabkan pengucapan, konsonan yang tidak jelas (distortion).
  • Kesimetrisan pada wajah atau palatal. Biasanya berhubungan dengan adanya gangguan neurologi atau kelemahan pada otot.
  • Deviasi dari lidah dan/ atau uvula ke kanan atau kekiri. Indikasi dari gangguan neurologi biasanya kearah sisi yang lebih lemah.
  • Pembesaran dari tonsil. Kadang kala tidak ada efek apa-apa pada anak-anak. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, mengganggu kesehatan, resonansi, pendengaran bila menutup eustachian tube. Kadang menyebabkan lidah lebih banyak terjulur kedepan dan mempengaruhi artikulasi.
  • Gigi yang hilang/ ompong Tergantung pada gigi yang hilang, artikulasi dapat terganggu. Biasanya pada anak-anak tidak secara serius mempengaruhi artikulasi.

 

 

pada KEKUATAN:

 

  • Kelemahan pada tekanan Indra-oral. Kelemahan ini menandakan lemahnya tekanan udara pada pipi dan velopharyngeal. Biasanya ada udara yang keluar dari hidung atau mulut.
  • Lingual frenum yang pendek. Dapat mengakibatkan gangguan pada artikulasi. Bila si anak tidak dapat mengadakan kontak antara lidah dengan alveolar ridge atau gigi untuk dapat mengucapkan suara-suara seperti t,d,n,l,c,j.
  • Kelemahan atau tidak adanya gag reflex. Biasanya menandakan adanya kelemahan pada otot. Kemungkinan adanya gangguan neurologi, tidak selalu mengakibatkan gangguan berbicara.
  • Kelemahan pada bibir, lidah dan atau rahang. Biasanya pada mereka yang mempunyai gangguan neurologi. Kemungkinan adanya aphasia atau dysarthria.

 

 

pada PERGERAKAN:

 

  • Secara informal, terapis dapat mengobservasi terhadap penggunaan organ bicara tersebut yang digunakan untuk hal lainnya seperti makan dan minum (pergerakan untuk mengisap, mengunyah, menelan dan lainnya).
  • Secara formal dengan pengambilan Diadochokinetik Rate (evaluasi kemampuan untuk secara cepat melakukan gerakan bicara yang berganti-ganti): Misalnya: mengulang/papapapa/; /tatatata/; /kakakaka/ dan /patakapatakapataka/ dalam hitungan 1 (satu) menit.

 

 

Bantuan dan Twrapi yang dapat diberikan:

 

1. Untuk hal-hal yang bersifat struktural/fisik, disebut juga organik, Terapis Wicara akan merujuk kepada dokter yang bersangkutan.

2. Untuk hal-hal yang sifatnya fungsional, maka Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.

 

Untuk permasalahan dengan pergerakan dan kekuatan dari organ mulut dan sekitarnya, tentu berhubungan dengan otot-otot dan syaraf. Kesulitan di bagian ini akan mengganggu artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena artikulasi/ pengucapan terjadi dengan menggunakan organ berbicara yang diatur sedemikian rupa menurut Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation).

 

 

2. Artikulasi atau pengucapan

 

Artikulasi atau pembentukan vokal, dimana udara yang berasal dari pernafasan melalui pita suara dan kaviti-kaviti yang ada dibentuk menjadi suara yang dipakai untuk berbicara dibantu oleh organ-organ bicara seperti bibir, lidah gigi dan sebagainya.

Artikulasi Vowel (Huruf Hidup). Karakteristik dari Vowel adalah diucapkan dengan saluran suara yang terbuka (open vocal tract). Secara umum dapat dijelaskan dari posisi lidah, bibir dan pharynx.

Artikulasi Konsonan (Huruf Mati). Karakteristik dari konsonan adalah diucapkan dengan saluran suara yang lebih konstriksi. Ada konsonan yang diucapkan dengan saluran suara yang ditutup secara sesaat, yang lainnya diucapkan dengan penutupan saluran suara pada titik-titik tertentu.

 

 

Klasifikasi Konsonan dari Cara dan Tempat ucapan.

 

Cara Pengucapan Tempat pengucapan

Labial-       Lingua-    Lingua

Dental     Dental      Alveolar       Palatal  Velar

Bilabial

Glottal

Stop +

p         b

-          + -          + +                –          +      +            –     +

t            d                      k        g

Fricative   f           v   s            z                                    h
Affricate     th        th o            j
Nasai m     ng                                            n
Gllde w     ny
Lateral         l

-   tanpa suara (unvoiced)

+ dengan suara (voiced)

 

 

Stops atau Plosives. Pengucapan dengan Stop, Kaviti mulut pada titik tertentu ditutup. Penutupan ini membuat tekanan udara yang tiba-tiba dilepas dengan pembukaan.

Fricatives. Pengucapan terjadi dengan arus udara yang kencang melalui konstruksi yang cukup untuk menimbulkan gesekan suara atau suara yang aperiodik.

Affricates: Pengucapan yang terjadi dengan kombinasi antara plosives dan fricatives.

Nasal: Suara yang diucapkan dengan tambahan Kaviti Hidung.

Glides dan lateral: Kadang disebut senuvowels karena pengucapan yang serupa dengan vowels. Saluran suara dibuka pada pengucapan tetapi disebut konsonan karena dapat memulai atau dipasangkan dengan vowels.

 

Dalam mengevaluasi Terapis Wicara akan mencoba mendapatkan suatu gambaran tentang kemampuan si anak dalam pengucapannya bila memungkinkan, bila Terapis Wicara akan mencoba mengobservasi suara apa yang terdengar atau mendapatkan keterangan dari Orang Tua tentang pengucapan apa yang dapat diucapkan oleh anak dan sisi artikulasi (repertone of sounds).

Data yang Terapis Wicara coba dapatkan adalah kemampuan anak dalam mengucapkan konsonan-konsonan dalam bahasa Indonesia yaitu /p,m,h,n,w,b,k,g,d,t,ng,y,r,l,s,c,j/ pada posisi: Awalan – Pertengahan – Akhiran. hal ini dilakukan dengan menggunakan tes gambarsederhana sesuai usia perkembangan. Contohnya:

 

 

 

 

Huruf

Kata

 

 

 

 

 

 

<2.0 – 3.0 tahun

        P pintu/ api/ asap
        m matahari/ tomat/ hitam
        h harimau/ pohon/ merah
        n nanas/ kuning/ balon
        w wortel/ awan
 

 

 

 

<2.0 – 4.0 tahun

        b buku/ babi
 

 

 

 

2.0 – 4.0 tahun

k kodok/ kaki/ sendok
        g gunting/ gigi
        d daun/ hidung
        t tangan/ mata/ semut
       ng bunga/ binatang
 

 

 

 

2.6 – 4.0 tahun

 

y

 

yoyo/ payung
 

 

 

3.0 – 6.0 tahun

r rumah/ piring/ telur
l lampu/ bola/ botol
   

3.0 – 8.0 tahun

 

s sepatu/ pisang/ gelas
 

 

 

 

3.6 – 7.0 tahun

c cincin/ kunci
 

 

 

 

4.0 – 7.0 tahun

i jendela/ meja

Ref. Templin, 1957 & Wellman et al., 1931

 

Berikut ini beberapa patokan usia dan Perkembangan konsonan-konsonan pada anak-anak. Antara lain yang diambil dari norma oleh:

 

Perkembangan Suara-suara dalam berbicara

 

Mildred Templin, “Certain Language Skills in Children,” Institute of Child Welfare Monograph 26, 1957.

 

Umur Konsonan
3 M,n,ng,p,f,h,w
3,5                  V
4                 k,b,d,g,r
4,5                 s,sh,ch
6,5                 t,n,l,th (tipis)
7                 z,zh,th (tebal), y

 

 

 

Jarak umur dari perkembangan konsonan yang normal

 

Templin, 1957;Wellman el al., 1981, (Dari E. Sander [1972] “When Are Speech Sounds Learned?” Journal of Speech and Hearning Disorders, 37, 56-63)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: