Media Untuk Edukasi Bangsa

oleh Majalah Anak Spesial pada 01 Maret 2010 jam 9:54

Saat bayi Anda sudah mampu berjalan pada usia seharusnya ia merangkak, janganlah Anda cepat merasa bangga dan senang hati! Bisa jadi anak Anda tersebut potensial mengalami yang namanya cedera otak.

Apa itu cedera otak?
Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, cedera otak atau lumpuh otak adalah gangguan kendali terhadap fungsi motorik dikarenakan kerusakan pada otak yang sedang berkembang.
Sementara itu dalam buku Apa yang Dapat Dilakukan Pada Anak Anda yang Cedera Otak yang ditulis Glenn Doman, definisi anak cedera otak adalah ”setiap anak yang mengalami sesuatu yang mencederai otaknya”. Sesuatu ini dapat terjadi kapan pun, mulai ketika anak masih ada dalam kandungan, selama proses kelahiran, setelah dilahirkan, hingga anak cukup besar. Sesuatu atau masalah tersebut mempengaruhi kemampuan otak untuk menyerap informasi (sensorik) atau kemampuan otak untuk merespons informasi (motorik).
Meski seringkali hanya dikaitkan dengan penderita cerebral palsy, cedera otak sebenarnya juga merupakan inti permasalahan pada anak-anak yang menyandang berbagai label gangguan perkembangan, seperti autisme, hiperaktif, epilepsi, down
syndrome, serta berbagai gangguan lain yang kian bertambah jumlahnya sekarang ini. Jika cedera otak pada palsi serebral sebagian besar cenderung mempengaruhi kemampuan fisiknya, cedera otak pada autisme dan gangguan hiperaktif, misalnya, cenderung mempengaruhi penalaran indera mereka, baik inner sense (pancaindera)
ataupun outer sense (vestibular, pro-prioception, dan tactile), dan
gangguan ini mendatangkan pelbagai permasalahan yang menyiksa hidup
mereka setiap detik. Mereka tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri,
bahkan ada yang membenci badannya sehingga kerap melukai badan mereka
sendiri. Derita mereka sering jauh lebih berat dibandingkan derita
orangtua mereka sendiri. Mereka terperangkap pada badan yang penuh masalah dan kendala.
Namun, apapun label yang diberikan pada anak kita, inti permasalahan sebenarnya adalah bahwa anak kita itu memiliki otak yang cedera atau terluka, karena itu dalam penanganannya pun haruslah pada bagian yang terluka itu.

Penyebab cedera otak
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, cedera otak terjadi dikarenakan suatu masalah atau kecelakaan yang berakibat pada cederanya otak si anak. Kecelakaan tersebut bisa terjadi kapan saja, mulai ketika anak masih dalam kandungan, selama proses kelahiran, setelah dilahirkan, atau saat anak beranjak dewasa.
Selama masa pembuahan, cedera otak bisa terjadi bila ada faktor genetik yang mempengaruhi, seperti kelainan kromosom yang menyebabkan kelainan otak pada anak Down Syndrome. Ketidakcocokan rhesus darah pada pasangan suami-istri juga bisa menyebabkan cedera otak.
Sementara itu, cedera otak juga bisa disebabkan faktor eksternal seperti trauma kepala, radang, pendarahan otak, serta penyakit yang bisa merusak otak secara progresif seperti tumor otak. Anak yang mengalami cedera otak kehilangan kemampuan untuk menyerap informasi (sensorik) dan merespons informasi (motorik).
Contoh kasus yang banyak terjadi adalah cedera otak pada bayi prematur, yang merupakan akibat dari adanya gangguan saat kehamilan si bayi. Redistribusi aliran darah janin dan tanda-tanda ketidakcukupan plasenta bisa mengakibatkan volume otak yang lebih kecil pada bayi prematur. Pada kondisi ini, janin mengarahkan sebagian besar aliran darah ke otaknya.
Para ahli berpendapat bahwa radang plasenta dapat mengakibatkan cedera otak pada bayi prematur. Sekitar 45% bayi prematur ternyata mengalami radang plasenta. Namun demikian, radang plasenta bukanlah satu-satunya penyebab utama cedera otak ataupun gangguan pertumbuhan otak bayi. Tingkat prematurlah yang sebenarnya sangat mempengaruhi tingkat resiko cedera otak.
Contoh lain adalah cedera otak yang terjadi pada orang dewasa, yakni pada mantan petinju dunia, Greg Page. Page mengalami cedera otak ketika bertanding di Louisville. Saat itu, Page koma selama satu minggu ketika bertanding memperebutkan gelar WBA. Ia mengalami koma ketika menjalani operasi seusai bertanding dan lemah pada bagian tubuhnya sebelah kiri dan setelah itu ia sempat menjalani terapi sebelum akhirnya meninggal dunia pada usia 50 tahun.

Ciri-ciri cedera otak
Cedera otak pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui gejalanya sejak usia bayi 3-6 bulan, yakni saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan. Bila orangtua jeli, umumnya gejala atau ciri tersebut bisa dilihat secara kasat mata, seperti refleks pada bayi yang seharusnya menghilang tapi masih ada (misal: refleks menggenggam yang harusnya hilang saat bayi berusia tiga bulan) dan bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan kaki satu diseret. Yang terjadi pada anak cedera otak biasanya adalah entah dia tidak dapat berjalan, tidak dapat berbicara, atau setidak-tidaknya kekurangan salah satu kemampuan itu sebagaimana halnya anak-anak normal.
Anak yang sehat seharusnya merangkak sebelum ia berjalan, merayap sebelum ia merangkak dan ia tidak akan berjalan tanpa adanya kesempatan untuk berlatih dengan mengusahakan untuk maju melalui tahap-tahap itu. Anak cedera otak berada di hampir semua tempat kecuali di tempat di mana seharusnya ia berada, yaitu di lantai. Anak cedera otak yang hampir tidak dapat berjalan dan tidak dapat berlari, pola merangkak mereka buruk dan sama sekali tidak dapat merayap dengan posisi tengkurap. Anak-anak cedera otak yang mampu berjalan dan berlari tidak pernah mendapat kesempatan merayap dan merangkak karena mereka memiliki disorganisasi atau cedera pada otak tengahnya.
Selain gejala yang bisa dilihat sejak anak masih bayi, yang perlu diperhatikan adalah gejala yang terjadi bila seseorang mengalami kecelakaan dan mengalami benturan keras pada bagian kepalanya dengan sesuatu (seperti jok mobil, aspal, dan sebagainya). Kecelakaan ini bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. Orang tersebut harus diobservasi setidaknya selama 24 jam dan dilihat apakah ada tanda-tanda terjadinya cedera otak, seperti sakit kepala yang sangat hebat, mual, muntah, pandangan mata kabur atau ganda, kesadaran menurun, separuh tubuh mengalami kelemahan. Bila didapatkan tanda-tanda tersebut di atas, segeralah bawa yang bersangkutan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Jenis-jenis Cedera Otak
Secara umum cedera otak dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:
1. Spastik (tipe kaku-kaku) dialami saat penderita terlalu lemah atau terlalu kaku. Jenis ini adalah jenis yang paling sering muncul. Sekitar 65 persen penderita cedera otak masuk dalam tipe ini.
2. Atetoid terjadi dimana penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang aneh.
3. Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.
4. Hipotonis terjadi pada anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang menjadi spastic atau athetoid.
Cedera otak juga bisa berkombinasi dengan gangguan epilepsi, mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara.

Menangani Cedera Otak
Ketika seorang anak divonis mengalami cedera otak, sering kali orangtua bingung harus berbuat apa. Berbagai terapi dilakukan untuk membuat anak-anak mereka normal kembali seperti terapi fisik, terapi wicara, dan terapi penglihatan. Sayangnya, hasilnya kerap dianggap kurang memuaskan meskipun pada beberapa kasus terapi semacam ini membawa sedikit perubahan. Padahal anak yang mengalami cedera otak sebenarnya mempunyai peluang hidup seperti anak normal. Dengan mendayagunakan bagian otak yang masih sehat, anak cedera otak bisa dioptimalkan kemampuan motorik maupun intelektualnya. Anak yang mengalami cedera otak sering dianggap bodoh karena mereka tidak mampu bicara, berdiri, atau berjalan. Padahal jika kemampuan otaknya bisa dioptimalkan, anak cedera otak bisa memiliki kemampuan intelektual sama dengan anak normal atau bahkan melebihi anak normal.
Direktur The Institutes for The Achievement of Human Potential dari Philadelphia, Amerika Serikat, Douglas Doman, mengatakan, terapi yang dilakukan pada anak-anak yang mengalami cedera otak banyak yang salah sasaran. Anak dengan cedera otak sulit mengalami kemajuan karena terapi dilakukan hanya untuk mengobati gejalanya, bukan pada sumber penyebabnya. ”Kalau sumbernya ada di otak, terapi seharusnya dipusatkan pada otak, bukan pada anggota tubuh yang dianggap bermasalah,” kata Douglas.
Anak yang mengalami cedera otak masih bisa ”diperbaiki” karena biasanya kerusakan tidak terjadi menyeluruh, tetapi hanya bagian-bagian tertentu saja. ”Masih ada sel otak yang bisa diformat ulang,” kata Douglas. Format ulang dilakukan dengan menciptakan gerakan dasar yang seharusnya dilewati seluruh manusia sejak kelahirannya, yaitu bergerak tanpa pindah tempat, merayap, merangkak, dan berjalan. Gerakan dasar ini diciptakan untuk menstimulasi otak. ”Lama-lama otak akan menyerap informasi kemudian akan merespons balik informasi tersebut,” kata Douglas.

Metode Glenn Doman
Mungkin orangtua anak-anak cedera otak mulai dari autisme, adhd, down syndrome, atau cerebral palsy sudah sangat lelah dan jenuh dengan banyaknya ragam terapi yang mereka berikan untuk anak-anak mereka itu, namun hanya memberikan hasil yang tak seberapa. Ditambah lagi biaya terapi yang cukup mahal dan kurang terjangkau sehingga harta orangtua yang memiliki anak-anak dengan cedera otak umumnya
habis terkuras untuk membiayai terapi anak-anaknya. Dengan terapi Glenn Doman (GD), orangtua tak perlu mengeluarkan banyak biaya dan terapi ini juga mudah untuk dilakukan sendiri di rumah. Namun, terapi ini memang mengharuskan orangtua mencurahkan segala daya dan perhatian pada sang anak, dan hali ini tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Anak yang mengalami cedera otak pada umumnya perlu napak tilas melewati proses merayap, merangkak, berjalan, dan berlari, sebab mereka tidak melalui semua ini dengan sempurna. Tujuannya, untuk mematangkan cerebral cortex (otak bagian atas mereka). Karena itu, inti metode terapi GD pada prinsipnya adalah menstimulasi otak secara maksimal untuk membuat jembatan-jembatan baru menutupi bagian otak yang cedera tersebut. Dengan demikian, perhatian metode GD ini tertuju pada otak anak-anak cedera otak yang sedang ”korsleting” dan kemudian berusaha mengajarkan otak untuk memperbaiki ”korsleting tersebut.
Metode Glenn Doman dirancang untuk menciptakan kanal-kanal baru pada bagian otak yang belum terpakai. Kanal baru itu nantinya bisa memotong jalur penyampaian informasi pada otak yang cedera. Menurut Douglas Doman, sebagian besar manusia menggunakan potensi otaknya hanya dua sampai tiga persen dan selebihnya belum terpakai.
Metode GD melakukan semacam reformatting pada otak anak-anak, mendayagunakan bagian otak yang sehat dengan membuka kanal baru di otak sehingga kita bisa mem-bypass bagian otak yang rusak. Serangkaian gerak dasar yang harus dilakukan merayap dan merangkak untuk melancarkan aliran darah ke kaki dan tangan yang kerap bertemperatur lebih rendah dibandingkan suhu di tubuh. Ini juga untuk mempererat sambungan central nervous system dan peripheral nervous system yang kadang “sekrup” penghubungnya “dol” (too lose) atau terlalu keras (too tight) sehingga kelenturan geraknya berkurang.

Disiplin dan Tega: Kunci Keberhasilan Glenn Doman
Kasih sayang dan perhatian orangtua sangat penting demi kemajuan perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus, karena dukungan berupa kasih dan kelembutan memang bisa memberikan motivasi bagi anak-anak kita.
Namun, terlalu sayang juga bisa menjadi kelemahan orangtua bagi kemajuan anaknya. Karena, dalam beberapa kasus, saking besarnya rasa sayang orangtua pada si anak, si orangtua menjadi tidak tega saat harus menjalani terapi pada anaknya yang pada akhirnya akan menghambat kemajuan si anak itu sendiri.
Sikap seperti itulah yang yang harus dibuang jauh-jauh bila ingin sungguh-sungguh merasakan keberhasilan metode Glenn Doman ini. Karena metode ini memang mengharuskan peran serta orangtua dan anggota keluarga lainnya di rumah dalam menerapkannya, alhasil mereka pun harus bisa disiplin menerapkannya. Bahkan, bisa dibilang, orangtua harus bisa membuang rasa kasihan pada si anak dan menerapkan sikap keras dan tega.
Jangan sampai saat sedang melakukan terapi pada anak pada waktu yang sudah ditentukan, orangtua kemudian menghentikan terapi dari waktu yang sudah seharusnya dengan alasan ”tidak tega”, ”kasihan”, ”dia sudah capek”, atau alasan-alasan lainnya yang mengatas-namakan anak. Padahal, bisa saja si anak masih mampu melakukannya. Sikap seperti ini tentu saja bisa berdampak buruk pada kemajuan si anak dan menahan potensi diri yang sebenarnya ada di dalam si anak tersebut.
Salah satu contoh kasus yang bisa dijadikan pembelajaran adalah yang terjadi pada Ibu Lanneke atau Lanny, yang merupakan ibunda dari Anthony (17 tahun). Anthony yang dipastikan menyandang CP saat berusia sekitar enam atau delapan bulan itu, hingga kini tidak bisa menggunakan kakinya untuk berjalan dan hanya bisa mengandalkan kursi roda. Walaupun Ibu Lanny sudah menerapkan metode Glenn Doman sejak Anthony berusia di atas satu tahun, namun kemajuan pada Anthony tidak terlalu banyak, meskipun memang ada. Hal ini dikarenakan sikap sang ibu yang menyayangi anaknya dan tidak secara disiplin menerapkan metode GD akibat rasa ’tidak tega’ tadi.
”Mungkin kasus saya ini bisa dijadikan pelajaran buat para ibu dari anak penyandang CP lainnya. Seorang ibu sayang pada anaknya itu adalah sesuatu yang alamiah. Namun, tak selamanya rasa sayang itu ditunjukkan dengan kelembutan, terkadang kita harus menjadi keras dan disiplin demi kebaikan anak-anak kita,” tutur Ibu Lanny.
Ibu Lanny kembali menjelaskan bahwa kesalahannya sebagai orangtua adalah bahwa saking terlalu sayangnya pada anak, sehingga ia menjadi terlalu protektif dan berhati-hati dalam memperlakukan Anthony. Alhasil, metode GD yang ia lakukan pun tidak terlalu membawa hasil yang maksimal bagi perkembangan Anthony, dikarenakan ia tidak menerapkan metode yang ada secara menyeluruh alias setengah-setengah.
”Memang sampai sekarang pun terkadang saya masih melakukan terapi GD pada Anthony, tapi sudah agak sulit dikarenakan tubuh Anthony yang cukup besar karena usianya sudah 17 tahun. Saya tidak bisa lagi mengatur dia seenaknya lagi karena dia pun memiliki tenaga yang lebih besar dari saya.”
Anthony yang sekarang memang sudah mengalami kemajuan dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Meskipun tidak bisa berjalan, ia bangun sendiri dari kasur untuk duduk. Makanannya pun tidak lagi harus dihaluskan, ia kini sudah bisa mengunyah makanan jenis apapun, termasuk makanan keras seperti kerupuk atau keripik. Ia juga tidak lagi sering sakit seperti dulu, dikarenakan ia kini sudah banyak bergerak dan tidak hanya berbaring di tempat tidur. Namun, Ibu Lanny berharap kasusnya tidak diikuti oleh para ibu lainnya.
”Sebagai orangtua, kita harus selalu aktif untuk kebaikan anak kita. Kita harus rajin menerapkan terapi dengan disiplin, jangan setengah-setengah. Yang paling penting adalah, kita harus menganggap anak kita sebagai anak yang normal, bukan anak cacat dan sebagainya. Jangan pedulikan omongan orang yang mengatakan bahwa anak kita tidak akan mampu. Yakinlah mereka bisa dan pasti akan bisa, tergantung dari kita sendiri,” pesan Ibu Lanny.
Karena itu, siapkah Anda para orangtua menjadi orangtua yang ”tega”, ”keras”, dan ”disiplin” saat menerapkan metode ini? Bila tidak, sebaiknya Anda tidak memulainya sama sekali.

Beberapa Kisah Sukses dengan Glenn Doman
Banyak orangtua yang melihat perubahan yang cukup besar pada anak-anak mereka setelah menggunakan metode GD. Salah satu contohnya adalah para orangtua yang tergabung dalam KOACI (Komunitas Orangtua Anak Cidera otak Indonesia) yang berada di Bandung.

Ibu Leti
Ibunda dari Elfa (4 tahun)
”Elfa sudah didiagnosa CP sejak bayi. Sejak menerapkan metode GD sekitar setahun lalu, sudah banyak kemajuan yang Elfa dapatkan. Misalnya, kini Elfa sudah mulai berani tiduran di atas lantai, padahal sebelumnya ia sangat takut menyentuh lantai. Selain itu, Elfa juga sudah bisa minum dengan sedotan dan bergaya dengan cantik ketika di foto. Elfa juga sudah bisa duduk meskipun masih dibantu. Padahal, sebelum kenal dengan metode GD, Elfa sempat diterapi selama tiga tahun di sebuah klinik terapi di Bogor, namun tidak memberikan hasil yang nyata.
Berawal dari hadirnya saya dalam pelatihan Prinsip 2M (Merem-Melek) di sanggar Buah Hati Bogor, dimana Mami Ling melatih metode GD, sekitar 3 (tiga) bulan yang lalu. Berbekal pelatihan dan buku Metode GD yang saya punya, Elfa saya latih setiap hari. Hasilnya sungguh membuat kami sekeluarga melihat titik cerah kehidupan, dan tentu saja saya sangat bersyukur dengan kemajuan yang Elfa dapatkan. Hal ini membuat saya ingin sekali berbagi dengan ibu-ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi yang sama. Setiap bertemu para ibu yang senasib dengan saya, saya selalu menyarankan untuk menerapkan metode ini.”

Ibu Melly
Ibunda dari Aryo (6,5 tahun)
”Sewaktu Aryo dilahirkan, proses kelahirannya memang mengalami beberapa masalah. Mungkin karena itulah Aryo mengalami kondisi seperti sekarang ini. Sejak usia empat bulan, Aryo sudah didiagnosa menyandang CP yang cukup parah. Aryo hanya bisa berbaring karena seluruh tubuhnya lemas, penglihatan Aryo juga mengalami gangguan. Sejak itu, Aryo pun diikutkan berbagai jenis terapi, misalnya fisioterapi, namun hingga usianya mencapai empat tahun, tidak ada peningkatan yang berarti pada Aryo.
Suatu ketika, secara tak sengaja saya membaca potongan surat kabar bekas yang saya dapatkan ketika saya berada di angkot. Isi potongan surat kabar itu menarik perhatian saya karena menceritakan kisah Ibu Ling-Ling yang berhasil membuat anak temannya yang juga CP menjadi layaknya anak normal, seperti berjalan dan berlari. Hingga akhirnya, pada saat Aryo berusia 4,5 tahun, saya bertemu dengan Ibu Ling-Ling yang kemudian mengenalkan saya dengan metode terapi GD. Saya pun mulai menerapkannya pada Aryo. Hasilnya, walaupun sedikit, kini Aryo sudah bisa merayap. Matanya pun kini sudah bisa merespon gerakan yang ada di depannya, walaupun memang masih harus lebih ditingkatkan lagi.
Target saya saat ini fokus pada mata Aryo, karena saya memang ingin sekali setidaknya dia bisa melihat. Saya juga ingin menyekolahkan Aryo di TK, supaya lebih meningkatkan sosialisasinya dengan anak-anak lain.”

Ibu Nurhasanah
Ibunda dari Fadel/Aa (7 tahun)
”Aa sebenarnya lahir dan tumbuh sebagai bayi yang sehat. Hingga saat berusia 9 bulan, saya membawanya ke puskesmas untuk imunisasi walaupun saat itu ia sedang panas tinggi. Sejak diimunisasi, panasnya bukan turun malah semakin tinggi dan kondisinya memburuk.
Saat usia 1,5 tahun, saya membawa Aa ke rumah sakit untuk di periksa. Setelah menjalani EEG, Aa positif didiagnosa CP. Berbagai terapi pun akhirnya saya coba lakukan. Namun, kurang membawa hasil. Hingga saat usia Aa mencapai 5,5 tahun, akhirnya saya dan teman saya (Ibu Melly) tak sengaja menemukan artikel surat kabar mengenai Ibu Ling-Ling. Dari situlah saya kemudian mengenal metode GD yang kemudian aktif saya terapkan pada Aa selama 1,5 tahun ini..
Alhamdulillah Aa sekarang sudah bisa melakukan banyak hal layaknya anak normal. Ia sudah bisa berjalan, berlari, makan sendiri, dan berbicara walaupun masih kurang jelas. Sekarang Aa sudah sekolah kelas dua SD di sebuah SLB dan ia pun sudah bisa membaca. Target saya saat ini adalah, saya ingin tahun 2010 nanti sudah bisa membuat Aa berbicara lebih jelas lagi sehingga bisa dimengerti orang lain.”

About these ads

Comments on: "Cedera Otak dan Metode Glenn Doman (Patterning Therapy)" (8)

  1. Saya sangat tertarik dengan metode ini. Alamat ibu ling ling dimana dan ada no tlp? Mohon informasi trimakasih

  2. Bagaimana kami dapat menghubungi orang tua-orang tua yg telah menjalankan metode Glen Doman tsb?

  3. kalo boleh tau dmn bisa mendapatkan buku glenn doman? terima kasih…

  4. djunita rahayu said:

    bleh minta alamat atw nope tmpt terapi y gk?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: