Apakah disiplin sama dengan hukuman ?

Dalam kegiatan sehari-hari mendidik dan mengasuh anak kita seringkali berhadapan dengan berbagai perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena itu sering timbul dalam pemikiran untuk “mendisiplinkan” anak tersebut. Namun sayangnya banyak sekali orangtua tidak memahami benar apa makna disiplin yang sebenarnya. Orangtua dan pihak-pihak lain yang sering berurusan dengan anak gagal membedakan disiplin dengan hukuman.

Bahkan sejumlah kamus pun gagal melakukan pembedaan ini. Salah satunya adalah The New Oxford American Dictionary, kata dicipline (disiplin) didefinisikan sebagai “praktik melatih orang untuk mematuhi aturan dengan menggunakan hukuman untuk memperbaiki ketidakpatuhan”. Oleh karena itu tak heran dengan definisi semacam ini maka seringkali pendisiplinan dikaitkan dengan alat-alat yang dipakai untuk membuat para pelaku kejahatan jera : penyalahan, membuat malu dan bahkan hukuman fisik.

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Anak kita adalah seorang murid bagi orangtuanya. Agar ini dapat terjadi maka sebagai orangtua kita selayaknya menjadi pemimpin yang berharga untuk dipatuhi dan diteladani oleh anak-anak kita.

Perbedaan mendasar antara disiplin dengan hukuman adalah :
• Hukuman mengajarkan suatu pelajaran melalui pemaksaan emosional atau kekerasan fisik, hukuman mungkin terlihat bisa menghentikan perilaku yang tidak diinginkan saat ini namun sudah pasti tidak mencegahnya terulang lagi di masa mendatang. Berdasarkan berbagai riset para pakar psikologi hukuman bukan cara yang efektif agar anak bertingkah laku baik untuk jangka panjang.
• Disiplin menggunakan kebijaksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatkan betapa seorang anak dapat menentukan sendiri pilihannya dengan baik sesuai dengan perkembangan emosinya saat itu. Oleh karena itu tak ada “cara yang benar “ yang bisa berfungsi sepanjang waktu untuk semua situasi

Saya jadi teringat dengan seorang klien kecil berusia 5 tahun, ia dikeluhkan oleh ayah dan ibunya sebagai anak yang susah diatur, sulit diberitahu, pemarah dan sukanya hanya main boneka dan menonton film.
Saat pertama kali melihat wajahnya di ruangan saya biasa menerima klien maka saya langsung tertarik dengan gadis kecil ini. Matanya berbinar menandakan kecerdasan dan senyumnya merekah menandakan keceriaan khas anak kecil. Saya tak yakin anak ini susah diatur dan sulit diajak bekerja sama seperti yang dikeluhkan orangtuanya.

Saya langsung menyapa kedua orangtuanya dan kemudian langsung mengalihkan perhatian padanya. Setelah berbincang santai dengannya beberapa saat saya mengirimnya ke dalam ruangan lain untuk bermain bersama dengan putera saya Fio dan Aldo. Dan sekarang saya hanya bertiga bersama kedua orangtuanya. Tak berapa lama saya mendapati kedua orangtuanya over-expectation (berpengharapan lebih) terhadap anaknya yang baru berusia 5 tahun.

“Saya ini sakit tenggorokan dan berusaha mencari cara agar sembuh sendiri tanpa ke dokter karena ingin menghemat biaya. Saya berusaha menjaga makanan yang masuk dan banyak minum air putih. Kemarin dia membuat saya jengkel sekali. Sudah tahu dirinya batuk ehhh …… malah makan es krim. Saya berkali-kali mengingatkan untuk menjaga makanannya namun ia tetap saja bandel. Ia harusnya mengerti bagaimana orangtua susah mencari uang. Kami sudah berulang kali menceritakan bagaimana kami bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup ehhhh ……… dia malah seenaknya saja dan tidak mau mengerti kesulitan orangtua. Akhirnya kemarin saya bentak dia dan saya katakan kalau ia lebih baik di luar saja tidak usah pulang rumah kalau hanya bisa menyulitkan orangtua saja” kata sang ayah menceritakan kejadian yang membuatnya sangat jengkel dengan puteri kecilnya.

Saya hanya bisa terdiam dan berusaha memahami jalan pikiran sang ayah yang lagi frustrasi di depan saya. Kemudian sang istri menanyakan pada sang suami, “Tapi kenapa kamu kemarin menawarkan es krim padanya walaupun sudah tahu bahwa ia batuk?”

“Lho saya kan berusaha mendisiplinkan dia. Saya mau tahu kalau dia lagi batuk seperti itu apakah dia bisa mengontrol diri atau tidak? Eh …… kok malah tidak mengerti kalau sedang dites!”

“Lho kamu ini gimana sih, lha si Ellen itu sukanya es krim kok malah kamu tawari. Kamu ini memang cari perkara kok. Kamu sendiri kemarin makan krupuk sama telor goreng walaupun kamu tahu kamu sedang batuk. Terus anakmu tanya kenapa makan gorengan kamu marah!”

“Lha gimana tidak marah. Ia anak kecil mau tahu urusan orangtua. Kan sudah tidak ada pilihan makanan lain di rumah. Ia harusnya mengerti dong kalau kamu sedang sibuk dan tidak sempat masak. Saya sebenarnya juga tidak ingin makan gorengan tapi terpaksa karena tidak ada makanan lain. Kalau saya sakit lebih parah kan yang susah juga seisi rumah”, kata sang suami menimpali.

Ketika mendengar jawaban dari ayah ini saya sebenarnya ingin tertawa tapi saya tahu itu tidak boleh. Saya hanya tersenyum kecil saja dan mencegah pertengkaran suami istri tersebut agar tidak meledak menjadi perang dunia di ruangan saya.

Jika Anda perhatikan sang ayah terlalu egois dan mau menang sendiri. Ia menetapkan peraturan yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Ia tidak memberikan si anak kesempatan untuk menumbuhkan kesadaran diri sesuai dengan usianya. Itulah “aturan plastis” yang sering dibuat orangtua demi keuntungan dirinya. Aturan plastis itu seperti karet yang lentur. Kalau orangtua yang berbuat maka pasti ada penjelasan masuk akalnya dan anak dituntut mengerti penjelasan tersebut dengan keterbatasan cara berpikirnya tapi kalau anak yang berbuat maka ia pasti disalahkan tanpa mempertimbangkan hal lain.

Dari percakapan singkat itu saja kita tak perlu kuliah psikologi untuk tahu siapa penyebab masalah Ellen, yang menurut laporan orangtuanya, susah diatur. Bagaimana menurut Anda, pembaca?

Disiplin positif berarti bekerja dengan komunikasi yang baik, mendengarkan anak, mangamati anak dan menetapkan batasan yang jelas terhadap perilaku anak. Saat membangun sebuah komunikasi perhatikan tipe kepribadian dan bahasa cinta anak agar terhindar dari masalah yang lebih rumit karena pemaknaan yang kurang pas dari pihak anak. Materi detai tentang tipe kepribadian anak dan bahasa cinta bisa Anda pelajari dalam Parents Club Multimedia Course.

Inilah rencana tindakan umum yang bisa kita lakukan untuk membangun suatu situasi kondusif bagi terlaksananya disiplin positif :
1. Sosialisasi tindakan
• Sejak dini sosialisasikan apa yang hendak tuju ketika anak-anak itu bertumbuh dan berkembang. Hal ini tergantung dari persepsi yang dimiliki orangtua tentang berbagai aspek kehidupan. Secara bertahap sesuai dengan perkembangan mereka ajarkan kebaikan, pentingnya menghargai kebutuhan dan pendapat orang lain serta kasih sayang. Jangan menetapkan sesuatu tanpa sosialisasi terlebih dahulu karena akan mengagetkan anak.

2. Penetapan batas
• Kunci penting di sini adalah keberanian dan kesadaran diri orangtua. Ingatlah bahwa semua anak itu menguji batasan yang ditetapkan untuk dirinya, terutama pada anak yang masih kecil (ini mungkin terdengar agak menjengkelkan Anda, tapi itulah anak-anak). Hal itu menjadi bagian dari proses perkembangan mereka.
• Tips yang bisa berguna untuk Anda kembangkan adalah :
– Batasan yang ditetapkan harus adil
– Aturan yang dibuat harus beralasan dan sesuai dengan kemampuan anak
– Perintah yang diberikan harus jelas, positif dan tegas.

Perintah tidak jelas contohnya, “Mama mau kamu bersikap baik!”. Bagi seorang anak usia 6 tahun pun ini masih membingungkan. Ia tidak tahu maksud dari “baik” itu apa. Kata ini sangat relatif. Anda harus menjelaskan poin- poin yang Anda maksud dengan kata “baik”. Apakah yang Anda maksud meletakkan kembali mainan yang telah selesai digunakan atau mengucapkan terima kasih setiap menerima pemberian atau permisi jika hendak lewat di depan orang yang lebih tua atau apa lagi …. ? Hal ini juga berlaku terhadap kata “sopan”. Seringkali orangtua mengatakan pada anaknya “Kamu harus sopan, Nak!” tanpa dibarengi dengan penjelasan dan batasan tentang kesopanan.

3. Beri kesempatan mereka mengalami akibat alami dari perbuatannya
• Ijinkan mereka menanggung akibat dari perilakunya jika mereka mencoba melanggarnya. Mereka akan belajar dari pengalaman buruknya. Yang penting setelah mereka mengalami akibatnya jangan diolok-olok. Olokan semacam, “Nah, rasakan sendiri akibatnya kalau tidak mau menurut Papa/Mama!”, malah akan menimbulkan kesedihan mendalam dan bahkan luka batin dalam diri anak kita. Cukup katakan,” Mama / papa ikut sedih kamu mengalami hal ini. Apa yang bisa kamu pelajari dari hal ini agar lain kali kamu bisa lebih baik lagi? Bagaimana Mama/ Papa membantumu agar lain kali tidak terulang lagi?”, setelah itu jika perlu peluklah dirinya untuk membuatnya tetap merasa aman dan diterima apa adanya.

4. Penghargaan
• Dekapan dan ciuman selalu merupakan sebuah penghargaan besar bagi seorang anak. Penghargaan berupa hadiah secara perlahan perlu Anda gantikan dengan perhatian positif saat perilakunya mengalami kemajuan. Kita harus waspada terhadap situasi ketika anak-anak hanya akan melakukan sesuatu demi mendapatkan penghargaan. Untuk hal ini Andalah yang tahu batasannya berdasarkan kepekaan yang Anda kembangkan sendiri.

5. Otoritas
• Tegakkan otoritas Anda sebagai orangtua pada saat yang tepat. Gunakan bahasa tubuh dan intonasi suara yang tepat pada saat yang tepat pula untuk menunjukkan bahwa Anda serius dengan ucapan Anda. Ingatlah selalu “seorang anak senantiasa menguji batasan terhadap dirinya dengan perilakunya”

Apa yamg dapat anda lakukan pada anak anda yang cedera otak (sekelumit persoalan dari buku glend doman

Terdapat 6 fungsi yang membedakan antara manusia dengan binatang (mungkin kelak akan bertambah lagi). Mungkin anda akan langsung menjawab bahwa fungsi pertama yang terlihat adalah kemampuan berpikir.

Tetapi ternyata bukan itu, karena dalam beberapa eksperimen psikologi, beberapa simpanse bahkan tidak hanya berpikir saja tetapi lebih dari itu mereka menunjukkan penalaran deduktif. Fungsi yang pasti tidak dimiliki oleh binatang adalah ‘Kemampuan berjalan tegak’. Berdiri tegak adalah sebuah fungsi korteks (otak modern) manusia. Manusia memiliki korteks yang berkembang lebih utuh daripada makhluk lainnya, sehingga manusialah satu-satunya makluk yang berdiri tegak. Itu adalah satu fungsi unik dari korteks manusia. Fungsi berikutnya yang membedakan manusia dengan binatang adalah fingsi oposisi yaitu kemampuan untuk menggabungkan ibu jari tangan dengan telunjuk untuk memungut benda-benda kecil dan lebih dari itu bahwa fungsi oposisi adalah pendukung sebuah ketrampilan dalam menghasilkan tulisan. Fungsi bicara dan juga kemampuan menguraikan sandi bicara dalam bentuk bahasa. Sekaligus juga berkaitan dengan aspek fungsi bahasa adalah fungsi membaca, menafsirkannya dalam kerangka bahasa. Dan fungsi terakhir yang membedakan manusia dengan binatang adalah kemampuan mengidentifikasi benda-benda dengan indera perabaan semata. Jadi sebagai rangkuman, terdapat 6 fungsi yang dimiliki oleh manusia dan semuanya terdapat dalam korteks manusia :
1. Kemampuan membaca
2. Kemampuan memahami wicara
3. Kemampuan mengidentifikasi benda dengan
     perabaan.
4. Kemampuan untuk berdiri tegak
5. Kemampuan berbicara
6. Kemampuan oposisi; menggabungkan ibu jari
    dengan telunjuk yang nantinya menghasilkan
    tulisan.
Semua itu adalah fungsi dari bagian otak modern manusia yang disebut korteks. Jadi benang merah dari tulisan ini adalah bila anda melihat ada salah satu atau beberapa fungsi tersebut hilang, maka anda mampu mendiagnosa bahwa terdapat kerusakan pada fungsi korteks. Ini adalah alat diagnostik yang penting dan tidak boleh terlupakan. Itulah mengapa terdapat aneka tingkatan yang berbeda-beda pada anak-anak yang mengalami cedera otal (autisme, epilepsi, hiperaktifitas, ADHD, cerebral palsi, down syndrom, retardasi mental). Itulah dasar pemikiran metoda Glend doman untuk menentukan tahapan cedera otak ; Diagnosis Neurologis Fungsional, untuk selanjutnya dilakukan treatment yang tepat sesuai dengan tingkatan serta lokasi cedera otaknya melalui Patterning Therapy. Metoda assesment dan diagnostik cara glend doman selanjutnya adalah penentuan umur Neurologis anak yaitu dengan membandingkan umur kronologis dengan fungsi-fungsi otak pada usia kritis pada apa yang disebut sebagai Tabel Profile Perkembangan otak.
Berangkat dari acuan tersebut diatas, kami melakukan diagnosis kondisi anak yang mengalami cedera otak (Lihat pembahasan tentang Cedera Otak pada http://www.banyubiru3prast.wordpress.com/apakah cedera otak itu) sampai pada penentuam program terapi yang dijalani anak. Untuk lebih memahami hal tersebut anda dapat menghubungi kami di layanan telpon 081278885051. Pin BB. 2A2EAE05.
sumber bacaan. Doman Glend, Apa yang dapat dilakukan pada anak anda yang cedera otak. GD baby programs (s) Pte Ltd. 2006.
Andreas Andi Prastowo,S.Psi, C.Ht

Posted from WordPress for Android

Kembali Menulis

Dengan berjalannya waktu dan mengingat tuntutan profesi, saya akan kembali aktif menulis dan membagikan informasi tentang  tes psikologi dan psikologi tumbuh kembang anak serta dewada, terapi autis, hipnoterapi dan terapi akupresur dan informasi lainnya pasti diperlukan oleh anda semua..
Salam jumpa lagi
Andreas Andy Prastowo, S.Psi, C.Ht, Accu

image

Patterning Therapi (Terapi mem”pola”kan gerakan)

PATTERNING THERAPI

  1. PENDAHULUAN.

Patterning therapy adalah suatu bentuk upaya mem”pola”kan (patterning) gerakan-gerakan motorik yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi dalam otak yang mengalami cedera atau kerusakan agar dapat berfungsi kembali secara mandiri.

 

  1. SEL OTAK MANUSIA

Perkembangan otak dimulai dari sejak janin berusia 4 bulan sampai umur 2 tahun. Laju perkembangan otak yang sangat cepat ini dapat terlihat dari adanya penambahan berat otak janin usia 4 bulan yaitu 50 gram menjadi 400 gram pada waktu lahir dan akan berkembang menjadi 1000 gram pada usia 18 bulan. Sel otak manusia mengandung bermilyar-milyar sel otak (neuron) yang akan terus tumbuh sampai usia 2 tahun. Setelah usia 2 tahun sel akan  terus berkembang “nerve cell connection”.  Otak adalah bukan organ yang statis tetapi dinamis yang senantiasa tumbuh dan berkembang membentuk “nerve cell connection” yang baru.  Pertumbuhan jaringan antar sel ini dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungannya. Perkembangan fisik otak yang sangat pesat terjadi pada saat bayi lahir hingga usia 18 bulan. Jika sewaktu lahir otak anak sudah sebesar 24% dari otak orang dewasa (sekitar 350 gram), pada usia 18 bulan otak anak berkembang dua kali lipatnya. Otak anak terus berkembang dan pada umur enam tahun sudah mencapai 90% dari berat otak orang dewasa. Otak anak akan mencapai perkembangan 100% pada umur 18 tahun (sekitar 1,4 kilogram). Pada saat kelahiran, otak bayi  mengandung 100 milyar sel aktif, ahli Neurobiologi dari Universitas California Berkeley, Carla  Shatz, seperti dikutip majalah Time (Februari 1997) menyebutkan, terdapat pula satu triliun sel  Glia (perekat) yang membentuk semacam sarang untuk melindungi dan memberi makan sel aktif itu. Bahkan, menurut ahli psikologi dari Inggris, Tony Buzan, masing-masing sel aktif itu mampu membuat 20.000 sambungan yang berbeda dengan sel-sel lainnya. Kemampuan otak anak luar biasa. Apabila jika orangtua mampu memberi rangsangan maksimal pada otak, terutama hingga 18 bulan. Jika tidak dirangsang, otak anak bisa menderita. Para peneliti dari  Baylor College of Medicine pernah menemukan , otak anak akan mengecil 20% – 30% dari ukuran normal jika anak jarang diajak bermain atau disentuh.

C.  NEUROGENESIS

Neurogenesis adalah pertumbuhan sel neuron baru. Paradigma lama mengatakan bahwa otak memproduksi sel neuron baru sampai umur 2 tahun, oleh karena itu sering dikenal dengan istilah  “golden age” karena pada periode pertumbuhan otak ini berpeluang memberikaan modal jumlah sel otak pada anak.  Paradigma baru mengatakaan bahwa ternyata sel neuron dapat terus tumbuh sampai usia berapapun. Oleh karena itu upaya optimalisasi potensi otak seolah tidak terbatas. Umur berapapun, stimulasi pada anak akan memberikan kontribusi pada peningkatan kecerdasannya.

  1. TEORI PERKEMBANGAN MOTORIK.
    1. Penelitian ini dimulai oleh Arnold Gessel di Yale Clinic of Child Development pada 1920-an menyatakan bahwa asumsi studi ini bahwa fungsi gross-motor, fine-motor, bahasa pribadi sosial, dan perilaku menyesuaikan diri anak mengikuti rangkaian urutan kematangan. Data normatif dikumpulkan mengenai perkembangan keterampilan motorik, linguistik, dan pribadi-sosial, serta perilaku menyesuaikan diri sejak lahir sampai usia 6 tahun. Gessel adalah orang pertama yang mempelajari perkembangan gerak motorik anak, bicara dan soaial. Dinyatakan bahwa lantai (the floor) adalah sebagai lapangan atletik untuk anak normal.
      1. Penelitian Glenn Doman  di Institute for Achievement of Human Potential [IAHP] (1991)

Metode Glenn Doman ini menawarkan sebuah gerakan seperti  Patterning dan fisioterapi yang mampu memberikan stimulus ke otak dan dapat memaksimalkan otak. Metode Glenn Doman ini sangat tepat sebagai metode pembelajaran baik bagi anak yang normal maupun bagi anak yang mengalami kebutuhan khusus.  Terdapat beberapa faktor keberhasilan subjek mengikuti metode Glenn Doman yaitu: pertama, subjek menjalani Patterning, karena dalam otak terdapat pusat saraf sentral yang terdiri dari otak dan tulang belakang perlu diaktifkan dengan menggunakan Peripheral Nervous Sistem (saraf yang lain dari luar saraf sentral) melalui program  Patterning. Program  Patterning bertujuan untuk menyambung sel-sel otak yang akan memperbaiki kognisi anak-anak kerusakan pada otak tidak terjadi secara keseluruhan, tetapi pada bagian-bagian tertentu, sehingga masih ada harapan untuk memperbaikinya.  Metode ini melakukan semacam  Reformatting  pada otak anak-anak, mendayagunakan bagian otak yang sehat dengan kanal baru di otak sehingga bisa mem-bypass bagian otak yang rusak. Serangkaian gerak dasar yang harus dilakukan merayap dan merangkak untuk melancarkan aliran darah ke kaki dan tangan yang kerap bertemperatur lebih rendah dibandingkan suhu di tubuh. Ini juga untuk mempererat sambungan  Central Nervous Sytem dan  Peripheral Nervous System yang kadang sekrup penghubungnya Dol (Too Lose) atau terlalu keras (Too Tight) sehingga kelenturan geraknya berkurang. Glenn Doman memberikan panduan napak tilas, yaitu dari  Patterning (memanipulasi anggota badan dan kepala dalam gerak yang ritmit), merayap, merangkak,  Stimulasi Reseptif yang merangsang visual, perabaan, dan pendengaran anak, kegiatan  Ekspresif,  Masking (bernafas ke dalam masker oksigen untuk meningkatkan banyak oksigen terhirup, yang dipercaya meningkatkan aliran darah di otak), berayun pada palang, dan kegiatan gravitasi dan anti gravitasi. Intinya yaitu, pada prinsipnya metode yang diajarkan Glenn Doman adalah menstimulasi otak secara maksimal untuk membuat jembatan-jembatan baru menutupi bagian otak yang cedera. Gerakan ritmik simetris terus-menerus yang bertujuan membuat jembatan yang menyambungkan sel-sel otak yang akan memperbaiki kognisi anak (dalam otak terdapat pusat saraf sentral yang terdiri dari otak dan tulang

belakang yang perlu diaktifkan dengan menggunakan  peripheral nervous sistem).

E.  CEDERA OTAK (BRAIN DAMAGE)

Cedera Otak adalah setiap anak yang mengalami sesuatu yang mencederai otaknya. Sesuatu ini dapat terjadi kapan pun, mulai ketika anak masih ada dalam kandungan, selama proses kelahiran, setelah dilahirkan hingga anak cukup besar. Cedera kepala adalah suatu pukulan atau benturan pada kulit kepala, tulang kepala dan otak yaitu mulai dari selaput otak, saraf kranial dan jaringan otak. Kerusakan otak ini merupakan masalah penting dan perlu mendapat perhatian. Selama masa pembuahan, cedera otak bisa terjadi bila ada faktor genetik yang mempengaruhi, seperti kelainan kromosom yang menyebabkan kelainan otak pada anak Down Syndrome. Ketidak cocokan rhesus darah pada pasangan suami-istri juga bisa menyebabkan cedera otak. Sementara itu, cedera otak juga bisa disebabkan faktor eksternal seperti trauma kepala, radang, pendarahan otak, serta penyakit yang bisa merusak otak secara progresif seperti tumor otak. Anak yang mengalami cedera otak kehilangan kemampuan untuk menyerap informasi (sensorik) dan merespons informasi (motorik). Menurut Douglas, anak-anak yang mengalami cedera otak sering diberi cap yang malah membuat orang menjadi bingung karena sering kali menganggap nama itu sebagai penyakit. Sebut saja keterbelakangan mental, kelumpuhan otak, Down Syndrome, gangguan emosi, lumpuh layuh, autis, epilepsi, hiperaktif, dan masih banyak lagi. Nama-nama itu sebenarnya adalah gejala dari adanya cedera otak. Anak dengan cedera otak akan mengalami gangguan pada satu atau beberapa fungsi sensori dan atau gangguan fungsi motorik.

Untuk mengetahui bagian mana dari otak yang cedera dan sejauh mana berat ringannya cedera perlu dilakukan pemeriksaan klinis (Clinical Asessment).

E. PENYEBAB CEDERA OTAK

Cedera otak dapat terjadi kapan saja, saat pembuahan, saat pertumbuhan dalam kandungan, saat lahir atau setelah lahir sampai saat dewasa. Cedera otak disebabkan oleh  :

  1. Cedera otak akut akibat trauma kepala, radang otak
  2. Malformasi atau kelainan bentuk otak (genetika/kromosom)
  3. Gangguan neurodegenerative : penyakit yang merusak sel-sel otak secara progresif

 

  1. ALTERNATIF PENATALAKSANAAN  CEDERA   OTAK

Patterning therapy merupakan alternatif penanganan yang dapat diberikan pada keadaan cedera otak.  Dalam Perkembangannya, manusia melewati 5 tahapan perkembangan (motorik development) yaitu :

v  Pada bayi baru lahir dapat menggerakkan anggota tubuh, namun tidak dapat berpindah tempat (movement without mobility).

v  Bayi belajar bergerak dengan lengan dan tungkainya dengan perut yang menempel pada lantai yang disebut dengan merayap (crawling).

v  Bayi belajar menentang gravitasi dengan bergerak menggunakan tangan dan lututnya yang disebut dengan merangkak (creeping).

v  Bayi belajar bangkit dengan tungkai bawah dan berjalan, disebut berjalan (walking).

v  Bayi mulai mempercepat jalannya,  berlari (running). Keseimbangan dan koordinasi anak bertambah baik,, sehingga anak seolah-olah terbang (flies).

Urutan tahap-tahap perkembangan yang hilang atau terlewati akan mengakibatkan terjadinya masalah.

 

 

 

 

 

 

Ada empat tingkat perkembangan otak yang esensial dan penting yaitu terbentuknya area dalam otak yang memiliki fungsi-fungi tertentu yaitu :

  1. Terbentuknya batang otak awal dan sumsum tulang belakang.

Akar otak ini mengatur fungsi-fungi dasar kehidupan seperti bernafas dan metabolisme , juga mengendalikan reaksi dan gerakan dengan pola yang sama. Dari akar yang paling primitif ini terbentuklah pusat emosi (akan dibahas dalam makalah yang lain). Area ini berkaitan dengan fungsi menggerakkan badan, lengan, tungkai tanpa berpindah tempat. Otak primitif ini tidak dapat dikatakan berpikir atau belajar, tetapi merupakan serangkaian regulator yang telah deprogram untuk menjaga agar tubuh berfungsi sebagaimana mestinya. Dari akar yang paling primitif inilah terbentuk pusat emosi

  1. Terbentuknya batang otak dan area sub kortikal awal. Tingkat ini berfungsi untuk merayap dengan perut (reptil).
  2. Terbentuknya otak tengah dan area sub kortikal, area ini merupakan area fungsional termasuk ganglia basal, thalamus, otak kecil. Tingkat ini berfungsi untuk merangkak (Aligator).
  3. Terbentuknya korteks yang merupakan puncak otak, yang berkaitan dengan fungsi pergerakan motorik yang lebih kompleks yaitu berjalan berlari.

Pada korteks terdapat 6 fungsi yaitu :

©      Kemampuan berjalan tegak

©      Kemampuan identifikasi objek dengan perabaan

©      Kemampuan untuk memahami bahasa verbal

©      Kemampuan berbicara

©      Kemampuan membaca

©      Kemampuan untuk menjepit objek dengan ibu jari dan telunjuk sehingga anak mampu untuk menulis.

      Penatalaksanaan patterning therapy ;  Mempolakan gerakan.

Gerakan pola satu sisi (homolateral) dan gerakan pola dua sisi (heterolateral). (Gambar terlampir). Apabila cedera otak terdapat pada area otak tengah dan subkortikal dapat ditambahkan dengan merangkak. Bila cedera ada pada batang otak dan area subkortikal awal ditambahkan gerakan merayap.

Perlu diberikan program untuk dilakukan  dengan prinsip sebagai berikut :

  1. Semua anak yang belum bisa berjalan, setiap hari merayap dengan perut dan merangkak
  2. Semua anak diberikan pola gerakan tertentu, bila perlu dengan bantuan
  3. Anak dengan gangguan sensoris, diberikan stimulasi sensoris (dibahas pada makalah Integrasi Sensoris).
  4. Anak yang ambidekstral ; masih menggunakan kedua tangannya untuk aktivitas dapat diberikan program untuk menetapkan dominasi hemispher.

Perlu diingat bahwa keberhasilan therapi ini tergantung pada frekuensi, intensitas dan lamanya program yang dilakukan.

 

Kepustakaan.

1. http://www.banyubiru3prast.wordpress.com, Cedera otak dan  metode Glenn Doman. 2011

2. www. iahp.orgAre you worried about your children.  2004

3. Goleman, Daniel. Emotional Intelligence. Gramedia Pustaka utama, Jakarta. 1997

4. Pearce, evelyn. Anatomi fisiologi untuk paramedic. Gramedia. Jakarta 1993

5. Rohman, minarnur. Peran Glenn Doman sebagai metode pembelajaran membaca pada anak yang mengalami cedera otak. Skripsi . UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang . 2010 (tidak dipublikasikan).

6. Tahir, nordin. Psikologi perkembangan. Artikel ilmiah Institut pendidikan guru kampus Ipoh perak darul Ridzuan. Malaya, 2008

Mengobati Kanker dengan Akupresur, Terbukti Lebih Memuaskan

Mengobati Kanker dengan Akupresur, Terbukti Lebih Memuaskan

 


Hingga saat ini penyakit kanker adalah perenggut jiwa tertinggi di seluruh dunia. Menurut pengetahuan kedokteran modern, penyebab kanker adalah perubahan genetik sel-sel tubuh manusia, serta berkaitan dengan keturunan, lingkungan dan makanan yang dikonsumsi.

Tetapi menurut pendapat ahli Akupresur, penyebab sel kanker adalah toksin yang masuk ke dalam saluran meridian serta organ-organ tubuh manusia.

Menurut data rumah sakit, penderita kanker 80% saat didiagnosa mengidap kanker sudah terlambat, sebagian sudah mencapai stadium parah hingga menyebabkan kematian.Apabila pasien tersebut juga menggunakan metode kemo, bistral maupun operasi, efek dari zat kemo tersebut akan merusak semua metabolisme di tubuh pasien, sehingga sel kanker tersebut menyebar. Dan dalam waktu setengah tahun, kanker tersebut pasti kambuh kembali. Maka dengan fakta tersebut, khalayak mempertanyakan metode pengobatan apa yang paling efektif?

Jawabnya adalah gunakanlah terapi akupresur !!! Karena akupresur dapat membasmi toksin, menyalurkan obat-obatan ke aliran darah dan titik-titik meridian pasien, sehingga dapat diserap oleh tubuh. Dan pada akhirnya bisa mematikan sel-sel kanker yang ada.

Pengobatan akupresur ini baik untuk penderita yang masih stadium awal maupun yang sudah stadium akhir. Dengan waktu pengobatan 3 sampai 14 hari, pasien akan merasakan penyakit tersebut berkurang. Sel kanker tidak menyebar tanpa dikemo, bistral dan tindakan operasi.