Autisme ;Tinjauan neurofisiologis

AUTISMAE ; TINJAUAN NEUROFISIOLOGIS
A. Sistem Saraf

Sistem saraf merupakan sistem yang mengatur perasaan, cara berpikir dan pengendalian tubuh kita. Sistem saraf terbagi dalam 2 sistem, yaitu:
• Sistem saraf pusat
a. Otak
Merupakan daerah integrasi utama sistem saraf, yaitu sebagai tempat penyimpanan memori, terjadinya pemikiran, pengaturan emosi, dan fungsi lain yang dikaitkan dengan kejiwaan dan pengendalian tubuh.

b. Medula spinalis
Berfungsi sebagai tempat transfer ke dan dari otak, daerah integrasi untuk koordinasi banyak kegiatan saraf di bawah sadar, seperti refleks menarik bagian tubuh menjauhi perangsangan yang menyakitkan, dll.
• Sistem saraf perifer
a. Serat aferen: untuk mengantarkan informasi sensorik ke sistem saraf pusat
b. Serat eferen: untuk menghantarkan sinyal motorik yang berasal dari sistem saraf pusat.
Saraf tersebar di seluruh tubuh untuk mengatur seluruh aktivitas tubuh. Berdasarkan jenis aktivitas yang dilakukan, saraf dibedakan menjadi 2 :
• Saraf somatik: untuk mengatur gerakan yang sesuai dengan kemauan kita, misalnya menggerakkan tangan, melangkahkan kaki, dan lain-lain.
• Saraf vegetatif (saraf autonom): untuk mengatur gerakan bawah sadar seperti denyut jantung, gerakan usus, dan lain-lain. Saraf autonom tediri dari saraf simpatik dan parasimpatik yang kerjanya saling berlawanan. Saraf simpatik mempunyai sifat mengaktifkan sedangkan saraf parasimpatik bersifat menurunkan aktivitas. Hal ini berkaitan dengan regulasi dalam tubuh untuk menstabilkan kerja organ yang berlebihan dan yang kurang aktif.
Saraf tersusun atas sel-sel saraf yang disebut dengan neuron. Di dalam susunan saraf pusat, informasi dikirimkan melalui serangkaian neuron dalam impuls saraf, berupa hantaran listrik. Hubungan antara satu neuron dengan neuron lain disebut dengan sinaps.
Pola Fungsional Sistem Saraf
Fungsi utama sistem saraf yaitu mengatur aktivitas tubuh, terutama otot-otot, sebagai pusat pengatur emosi, dan lain-lain. Untuk melaksanakan tugas yang beraneka ragam tersebut, berdasarkan fungsinya, sistem saraf dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
• Bagian sensorik
Bagian sensorik bekerja melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Bagian sensorik menghantarkan informasi dan rangsangan dari seluruh permukaan dan struktur dalam tubuh ke dalam sistem saraf melalui saraf spinal dan saraf kranial. Sinyal-sinyal tersebut selanjutnya diteruskan ke hampir semua bagian lain sistem saraf yang akan menganalisa dan mengolah informasi sensorik tersebut.
• Fungsi motorik
Mengendalikan kegiatan-kegiatan tubuh, meliputi pengendalian kontraksi semua otot tubuh, otot polos dan alat-alat dalam tubuh serta sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin. Fungsi motorik dilakukan dengan cara membawa informasi (sinyal saraf) yang berasal dari daerah sentral sistem saraf ke bagian motorik di seluruh tubuh.
• Fungsi integrasi
Mengolah informasi untuk menentukan kegiatan motorik tubuh yang tepat serta mengolah pemikiran abstrak. Beberapa daerah di otak menangani penyimpanan informasi yang disebut memori, sedangkan daerah lain menilai informasi sensorik untuk menentukan pertimbangan sehingga diperoleh jawaban motorik yang tepat terhadap informasi berupa rangsang sensorik. Pada saat keputusan diambil, sinyal dihantarkan ke pusat motorik untuk menyebabkan gerakan motorik. Sebagai pelaksana gerakan motorik adalah otot-otot tubuh yang akan melakukan gerakan.

Gambar 1 : Bagian Otak yang menyangkut kelainan pertumbuhan/perkembangan anak autis

B. Fungsi Otak dalam Sistem Perilaku
Tingkah laku merupakan fungsi seluruh sistem saraf. Tingkah laku khusus yang berhubungan dengan emosi, dorongan motorik dan sensoris bawah sadar, dan perasaan intrinsik mengenai rasa nyeri dan kesenangan diatur oleh fungsi sistem saraf yang dilakukan oleh struktur subkortikal yang terletak di daerah basal otak yang disebut dengan sistem limbik.
Struktur sentral serebrum basal dikelilingi korteks serebri yang disebut korteks limbik. Korteks limbik diduga berfungsi sebagai daerah asosiasi untuk pengendalian fungsi tingkah laku tubuh dan sebagai gudang informasi yang menyimpan informasi mengenai pengalaman yang lalu seperti rasa nyeri, senang, nafsu makan, bau, dan sebagainya. Gudang informasi selanjutnya disalurkan ke daerah limbik. Asosiasi informasi ini diduga merupakan perangsangan untuk mencetuskan jawaban tingkah laku yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi seperti marah dan lain-lain.
Posisi sistem limbik merupakan batas antara diensefalon dan serebrum. Bagian sistem limbik adalah hipokampus, amigdala, dan talamus yang menghantarkan bagian terbesar sinyalnya ke hipokampus dan menyebabkan efek seperti perasaan senang, perasaan yang dihubungkan dengan makan, marah, dan sebagainya. Amigdala bekerja sama dengan hipotalamus juga berperan penting dalam mengendalikan pola tingkah laku. Amigdala memainkan peranan utama dalam mengendalikan pola tingkah laku tubuh secara menyeluruh.
Beberapa fungsi otak dalam mengatur perilaku antara lain dalam menjalankan fungsi intelektual, fungsi bahasa, fungsi komunikasi, dan lain-lain.
Berikut ini fungsi otak dan gangguan pada bagian otak yang berpengaruh terhadap tingkah laku dan proses berpikir.
1. Fungsi Intelektual
Yang berperan dalam kemampuan intelektual adalah prefrontal korteks serebri yang merupakan bagian anterior otak. Jika bagian tersebut rusak, kemampuan intelektual akan menghilang, terutama kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Kerusakan daerah Wernicke pada orang dewasa dapat merusak fungsi intelektualnya, sebab daerah Wernicke sangat penting untuk fungsi intelektual otak. Jika hubungan neuronal rusak, bagian lain otak tidak dapat berfungsi secara optimal.
Area Wernicke juga disebut daerah integrasi umum, daerah gnostik yang berarti “daerah tahu” (knowing area). Semua pemikiran dan informasi dari daerah sensorik yang berbeda-beda dihubungkan dan dipertimbangkan dalam area Wernicke, untuk mengambil keputusan lebih matang. Pada umumnya, semua informasi yang sampai di otak akhirnya disalurkan melalui area Wernicke. Oleh karena itu, kerusakan di daerah ini dapat membuat seseorang bermental aneh dan menjadi sangat bingung.
Berpikir secara kompleks menjadi sangat kacau jika daerah Wernicke rusak. Selain berfungsi dalam proses intelektual dan berpikir, area Wernicke juga berperan penting dalam proses berbicara dan berkomunikasi.
2. Fungsi Bahasa dan Pusat Bicara

Ketrampilan berbicara terletak di bagian otak sebelah kiri. Bagian otak kiri yang mengatur keterampilan berbicara berkaitan dengan 3 area pada bagian korteks, yaitu :
1. Area Broca
Terletak pada bagian motor korteks yang mengontrol bibir, lidah, dan vokal serta mengontrol keluarnya kata-kata dari otak ke mulut. Gangguan pada area Broca menimbulkan aphasia, yaitu kehilangan kemampuan menggunakan atau memahami kata-kata. Kerusakan yang lebih parah pada area Broca parah, dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan bicara (bisu) atau setidaknya bisa berbicara tetapi terpatah-patah, di samping penguasaan kosa kata yang amat minim/terbatas dan sering mengulangi kata-kata tertentu.
2. Area Wernicke
Area Wernicke memungkinkan seseorang dapat memahami pembicaraan. Ketika kata-kata terdengar, suara akan melintasi area auditori pada korteks yang selanjutnya diteruskan menjadi impuls ke area Wernicke untuk diuraikan dan dipahami. Selanjutnya, ditransmisikan ke area Broca jika ingin berbicara. Area Wernicke yang terletak di atas temporal bagian belakang merupakan tempat yang mengubah pikiran menjadi bahasa. Bagi mayoritas orang yang biasa menggunakan tangan kanan, area Wernicke terletak di otak kiri, sedangkan pada orang kidal, area wernicke terletak di temporal kiri.
3. Angular Gyrus
Angular gyrus terletak di antara area Wernicke dan korteks visual pada bagian belakang lobus occipital. Bagian ini menghubungkan antara pembicaraan yang terdengar dengan bahasa yang dibaca atau ditulis. Bagian ini juga berperan penting dalam menginterpretasikan informasi visual.
Proses Berbahasa dan Berbicara :
1. Dorongan bahasa bermula dari area Wernicke dan ditransmisi ke area Broca di frontal. Di daerah Broca, program yang sudah familiar menyusun bahasa, distimulasi menjadi aktif lalu daerah Broca mentransmisi ke serebrum.
2. Bahasa yang sempurna memerlukan gerakan otot yang mahir. Aktivitas bahasa diselesaikan oleh area motorik serebrum yang berkaitan dengan motorik kortek depan. Kortek memberikan pengaruh pada pusat pernapasan dan mengambil alih kontrol terhadap diafragma dan otot interkostal. Dengan demikian, udara yang digunakan untuk pernapasan dipaksa untuk mengeluarkan suara melalui pita suara.
3. Area motorik serebrum otak mengatur pita suara hingga menimbulkan getaran suara. Akhirnya, kortek motorik mengendalikan otot bibir, lidah, dan tenggorokan untuk menciptakan suara bicara.
4. Ketika berbicara, dorongan perasaan yang multikompleks mempengaruhi informasi ke otak. Mereka membawa perasaan sentuh dan posisi bibir, lidah, dan tenggorokan agar otak memahami bagaimana kemajuan daya, ruang, dan sudut (ketika mulut penuh dengan makanan dan masih berbicara merupakan koordinasi sistem saraf).
5. Saat mendengar suara dari sendiri, dorongan pendengaran akan feedback ke daerah pendengaran pertama yang terletak di temporal. Daerah pendengaran yang bersebelahan dengan area Wernicke dapat membantu area wernicke untuk mengetahui bagaimana setiap intonasi, dan jika perlu membantu melakukan koreksi yang diperlukan.
6. Otak kecil dan basal neuroglia membantu korteks motorik untuk mengkoordinir gerakan otot untuk berbicara.
3. Fungsi Komunikasi
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain juga diatur oleh otak. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk menginterpretasi bahasa dan kemampuan menerjemahkannya ke dalam bentuk bicara. Fungsi komunikatif diatur dan terintegrasi di semua bagian serebrum.
Berikut ini urutan dalam proses komunikasi:
1. Interpretasi gagasan
Gagasan biasanya dikomunikasikan dari seseorang ke orang lain melalui suara atau kata-kata tertulis.
2. Fungsi motorik berbicara
Area Wernicke juga mengembangkan pikiran-pikiran yang ingin disampaikan kepada orang lain. Area Wernicke bekerjasama dengan area Broca dan bagian otak lain dalam memformulasikan pikiran dan perasaan ke dalam bahasa (Lihat proses berbicara dan berbahasa yang telah diuraikan di atas).
3. Kemampuan untuk memperhatikan
Dalam sebuah komunikasi juga diperlukan kemampuan untuk memperhatikan lawan bicara sehingga terjadi komunikasi timbal balik yang berjalan lancar. Hipokampus yang merupakan bagian sistem limbik, memegang peranan dalam menentukan perhatian.

Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi seperti halnya yang terjadi pada anak autisme dapat terjadi karena adanya gangguan dan kerusakan pada area Wernicke, area Broca, dan yang berhubungan dengan bagian otak yang mengatur komunikasi.
Gangguan pada hipokampus juga dapat berpengaruh terhadap komunikasi. Salah satu dari efek perangsangan hipokampus adalah segera hilangnya hubungan dengan orang lain dengan siapa ia sedang berbicara. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan komunikasi.
3. Fungsi Konsentrasi
Dalam kondisi sadar, seseorang mempunyai kemampuan untuk mengarahkan perhatian atau konsentrasinya pada aspek-aspek spesifik dari lingkungan mentalnya. Ada beberapa macam tingkat konsentrasi/perhatian, yaitu :
• Tidak ada perhatian/konsentrasi
• Perhatian yang luas terhadap segala sesuatu
• Perhatian yang sangat besar terhadap sesuatu yang kecil sekalipun.
Tingkat perhatian terhadap sesuatu diatur oleh otak sebagai berikut, yaitu :
Pengaturan sistem pengaktivasi retikularis terhadap seluruh tingkat perhatian.
1. Pengaturan sistem pengaktivasi retikularis terhadap seluruh tingkat perhatian.
Pengaturan tingkat umum perhatian diduga dilakukan oleh pusat pengaturan yang terletak di bagian mesensefalon dan bagian atas pons.
2. Fungsi talamus dalam perhatian.
Kemampuan daerah talamus untuk merangsang daerah spesifik korteks diduga merupakan salah satu mekanisme dalam mengarahkan perhatian pada aspek spesifik lingkungan mentalnya.
Bagian lain yang juga mengatur “perhatian/konsentrasi” adalah daerah prefrontal yang merupakan bagian lobus frontalis yang terletak anterior terhadap daerah motorik. Salah satu sifat yang paling menonjol dari orang yang kehilangan daerah prefrontalnya adalah pikiran dan konsentrasinya sangat mudah dialihkan serta tidak mampu berpikir mengenai sesuatu yang rumit dan dalam jangka panjang. Gangguan tidak mampu konsentrasi dan cepat beralih perhatian yang terjadi pada anak autisme dan ADHD mungkin disebabkan gangguan pada bagian otak yang mengatur perhatian/konsentrasi ini.
5. Fungsi Memori/Daya Ingat
Setiap pikiran dan daya ingat melibatkan isyarat secara serentak di dalam bagian-bagian korteks serebri, sistem limbik (terutama hipokampus), talamus dan bagian atas formasio retikularis batang otak. Daya ingat terdapat dalam berbagai tingkatan, beberapa ingatan hanya bertahan beberapa detik dan lainnya bertahan beberapa menit, berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.
Suatu ingatan harus ‘terkonsolidasikan’ di dalam sirkuit neuron agar dapat bertahan di dalam otak sehingga dapat diingat kembali berhari-hari kemudian. Salah satu tahap dalam proses konsolidasi adalah ingatan harus disusun ke dalam berbagai golongan informasi. Proses konsolidasi tersebut dapat diperkuat dengan fenomena pengulangan. Adanya kelainan pada bagian otak yang berperan dalam proses ingatan seperti korteks serebri, talamus, sistem limbik, atau formasio retiularis batang otak dapat mengakibatkan adanya gangguan atau kelemahan dalam daya ingat. Kerusakan pada area talamus dan hipokampus dapat menimbulkan gangguan pada penyusunan, penyimpanan dan pengingatan kembali ingatan/memori.
6. Fungsi Pengendalian Gerakan
Otak akan menentukan koordinasi dan pengendalian gerakan yang tepat terhadap rangsangan. Bagian otak yang mengendalikan kegiatan motorik tubuh adalah korteks serebri, ganglia basalis, dan serebelum.

Serebelum mempunyai peranan penting dalam fungsi motorik, mengatur pergerakan otot secara terkoordinasi dan seimbang. Kerusakan pada daerah serebelum dapat menyebabkan gerakan menjadi tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan. Anak autisme biasanya melakukan gerakan yang berulang dan tidak bertujuan. Kondisi ini mungkin juga disebabkan oleh adanya gangguan pada bagian serebelum.

Bagian lain yang mengendalikan gerakan motorik adalah ganglia basalis yang terdiri atas massa besar neuron yang terletak jauh di dalam substansi serebrum dan di bagian atas mesensefalon. Kerusakan pada bagian ganglia basalis dapat menyebabkan suatu pola gerakan berulang-ulang, misalnya tangan atau lengan melakukan gerakan memutar, mengulang pola yang sama berulang-ulang. Selain itu, kerusakan pada bagian ini juga dapat menimbulkan gerakan kuat berurutan dan tak terkendali. Kondisi ini sama dengan pola perilaku stereotip anak autisme.

Bagian korteks serebri yang mengatur fungsi motorik adalah korteks premotorik, yaitu area 1-3 cm di depan korteks motorik. Korteks premotorik berfungsi mengatur gerakan-gerakan terkoordinasi yang meliputi banyak otot secara serentak. Kerusakan pada daerah korteks premotorik menyebabkan kehilangan kemampuan untuk mengkoordinasikan gerakan.
Bagian korteks premotorik juga mengatur keterampilan tangan dan jari. Kerusakan daerah ini menyebabkan gerakan-gerakan tangan menjadi tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan (apraksia motorik). Pada anak autisme, biasanya dijumpai gerakan tangan yang tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan, misalnya bertepuk-tepuk tangan tanpa ada sebab yang jelas, dan lain-lain.
7. Tantrum/Agresif/Hiperaktif
Tantrum merupakan kondisi anak autisme yang mengamuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Menurut sebuah teori, jika daerah prefrontal korteks serebri (bagian paling anterior otak yang terletak 5-7 cm di depan lobus frontalis) rusak karena suatu penyakit, trauma, atau penyebab lain, akan muncul reaksi-reaksi ekstrem seperti suka mengamuk, respons yang sangat cepat dan mungkin cenderung berbahaya, atau emosi tinggi yang sulit dipadamkan seketika, tetapi akan mereda kemudian. Kondisi ini merupakan kondisi yang terjadi pada anak autisme saat mengalami tantrum
8. Gangguan Emosi
Emosi umumnya mengacu ke suasana hati yang disertai ekspresi aktif. Dalam konteks ini emosi menggabungkan perasaan subjektif (seperti rasa kosong, defresi, gelisah, senang, ketidaksenangan, kemarahan, kesiagaan dan gembira) dengan tanda-tanda objektif. Tingkah laku yang berhubungan dengan emosi diatur oleh sistem limbik. Bagian sistem limbik antara lain meliputi hipotalamus, hipokampus dan amigdala. Kerusakan atau kelainan pada sistem limbik yang merupakan pusat emosi dalam otak dapat menyebabkan gangguan emosi dan perilaku. Studi autopsi pada jenazah penyandang autisme menunjukkan adanya abnormalitas pada sistem limbik. Hal tersebut menjelaskan mengapa emosi pada penyandang autisme sering terganggu.
9. Gangguan Kontak Mata
Sistem penglihatan meliputi :
• Mata, berfungsi seperti kamera dengan memfokuskan bayangan di retina
• Retina, bagian mata yang mengubah bayangan menjadi impuls saraf yang kemudian diteruskan melalui saraf optikus ke otak.
Bagian retina yang peka cahaya dan mengubah bayangan menjadi impuls saraf ialah sel batang dan sel kerucut. Sel batang mengenali bayangan hitam putih, sedangkan sel kerucut mengenali warna-warna. Di dalam retina terdapat  125 juta sel batang dan kerucut dan 1 juta serat saraf yang menghubungkan mata dengan otak.
• Mekanisme otak dalam menafsirkan sinyal-sinyal penglihatan
• Mekanisme otak dalam mengendalikan fungsi motorik mata, misalnya dalam hal memfokuskan sinar, mengatur cahaya yang masuk ke dalam mata dan mengarahkan mata ke obyek yang menarik perhatian kita.
Masalah kontak mata yang banyak menjadi gejala khas autisme merefleksikan kondisi tidak sempurnanya impuls saraf yang dihantarkan dari mata ke otak. Dalam proses penglihatan, cahaya dari objek ditangkap oleh kornea, dibiaskan dan dibuatkan bayangan oleh ekor retina serta runjung retina. Bayangan yang dibuat tersebut berbentuk impuls saraf dan bukan berbentuk bayangan layaknya objek yang dilihat. Jika impuls saraf ini mengalami gangguan, maka otak tidak dapat menginterpretasikan impuls apa pun sehingga objek yang secara normal seharusnya dilihat dalam bentuk 3 dimensi menjadi berbeda dimensi.

C. Studi Neurofisiologis
Berbagai macam kondisi neuropatologis (kelainan sistem saraf) diduga sebagai penyebab autisme. Beberapa peneliti juga mengungkapkan bahwa area tertentu di otak penyandang autisme mengalami disfungsi (gangguan fungsi). Dugaan ini diperkuat oleh persamaan antara perilaku anak autisme dan orang dewasa yang mengalami lesi otak (luka pada otak). Disfungsi otak terjadi pada beberapa bagian, seperti mesokorteks (meliputi lobus temporal frontal dan neostriatum), sistem pengolahan sensorik yang mengatur perhatian yang terarah (meliputi batang otak dan struktur diensefalon), serebelum, dan bagian lain otak.
Studi autopsi pada orang dewasa autisme menunjukkan perubahan seluler pada amigdala dan hipokampus (bagian dari sistem limbik yang mengatur perilaku), yaitu struktur yang terletak di bagian lobus temporal. Neuron pada bagian hipokampus berukuran 1/3 lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak dan lebih rapat.
Studi lain menunjukkan gejala autisme pada anak setelah bagian lobus temporalnya mengalami kerusakan akibat penyakit herpes simplex encephalitis. Bukti lain yaitu tidak adanya lobus temporalis yang tampak di CT (Computed Tomographic) pada anak autisme usia 3 tahun dan terdapat kerusakan struktur lobus temporalis pada anak autisme usia 3 tahun yang lain. Sebuah penelitian lesi (luka) pada struktur lobus temporal pada hewan menyebabkan hiperaktivitas, terganggunya interaksi sosial, gerakan stereotip (gerakan yang diulang-ulang dan tidak mempunyai tujuan), kurangnya respons terhadap rangsangan, dan hilangnya variabilitas perilaku.
Studi autisme pada setiap anak dan orang dewasa autisme yang berbeda menunjukkan abnormalitas pada bagian otak yang berbeda. Abnormalitas dapat dijumpai pada beberapa bagian, misalnya lobus frontal, sistem limbik (yang bertanggung jawab terhadap pengaturan emosi), atau dalam batang otak dan ventrikel keempat, serebelum (yang berperan dalam koordinasi motorik), dan lain-lain.
Anak autisme mempunyai anatomi otak yang berbeda dengan anak normal. Berdasarkan penelitian Dr. Margaret Bauman, seorang neurologis pediatrik, sel-sel pada sistem limbik penyandang autisme lebih kecil, mengelompok, dan tampak tidak matang dibandingkan sel-sel pada sistem limbik orang normal.
Abnormalitas juga dijumpai pada serebelum penyandang autisme yaitu jumlah sel-sel Purkinje lebih sedikit daripada orang normal. Menurut neurocientist Eric Courchesne, sel-sel Purkinje merupakan elemen penting dalam sistem integrasi informasi yang masuk ke dalam otak. Tanpa sel-sel ini, serebelum tidak dapat melakukan fungsinya, menerima banyaknya informasi dari dunia luar, dan lain-lain.
Studi autopsi lain pada pasien autisme menunjukkan adanya penurunan sebesar 90 % jumlah sel-sel Purkinje dan sel granula pada kedua hemisfer serebral, baik hemisfer kanan maupun hemisfer kiri. Berkurangnya sel-sel Purkinje pada serebelum diduga menyebabkan ketidakteraturan (disregulasi) beberapa fungsi yang menyebabkan abnormalitas pada anak autisme, yaitu gangguan pengolahan sensorik.
Berbagai macam teknik dikembangkan untuk dapat mengamati otak dan yang dipergunakan dalam riset-riset autisme, misalnya CAT (computed axial Tomography) scans, MRI (Magnetic Resonance Imaging) scans, PET (Positron Emission Tomography) scans, dan SPET (Single Photon Emission) scans.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s