Enam langkah mendiagnosis sindrom asperger

Enam langkah mendiagnosis sindrom asperger

Riset-riset masa kini mengindikasikan usia rata-rata untuk diagnosis adalah delapan tahun. Namun, rentang usia bervariasi dari anak yang sangat kecil hingga orang dewasa (Eisenmajer, et. al, 1996). Penulis telah spesialisasikan diri dalam diagnosis dan perawatan anak-anak serta orang dewasa pengidap Sindrom Asperger. Tampaknya, ada enam jalur untuk mendiagnosis. Yang pertama, memberi diagnosis awal autisme. Hal ini dilakukan ketika anak berusia kurang dari dua tahun.

1. Diagnosis Autisme pada Anak Usia Dini
Salah satu alasan mengapa Lorna Wing mengusulkan dukungan yang lebih luas bagi istilah Sindrom Asperger adalah adanya pengakuan bahwa sejumlah anak yang memiliki sinyal-sinyal klasik autisme di usia prasekolah memperlihatkan perbaikan signifikan dalam komunikasi, dan beragam kecakapan. Anak yang semula menarik diri dan mengalami ketidakmampuan berbahasa yang parah mengembangkan kemampuan bicara yang fasih dan kecakapan yang diperlukan untuk masuk ke kelas biasa. Mereka tidak lagi terkucil atau diam. Perilaku dan kecakapan-kecakapan mereka konsisten dengan diagnosis Sindrom Asperger (Ozonoff, Rogers dan Pennington, 1991). Perbaikan ini dapat berlangsung sangat cepat dan terjadi hanya beberapa saat sebelum menginjak usia lima tahun (Shah, 1988). Kami tidak merasa yakin apakah ini merupakan fenomena alamiah untuk sejumlah anak atau akibat program-program intervensi sebelumnya. Mungkin, kedua-duanya. Walau bagaimana juga, diagnosis awal autisme klasik bersifat akurat ketika anak masih sangat kecil, tetapi anak tersebut telah berkembang sepanjang kontinum autistik hingga mencapai ekspresi yang kami sebut sebagai Sindrom Asperger. Dengan demikian, merupakan hal yang penting bila diagnosis autisme selalu dikaji untuk menguji apakah Sindrom Asperger adalah diagnosis yang lebih akurat sekarang, dan anak seharusnya menerima penanganan yang sesuai.

2. Pemunculan Ciri-ciri Tertentu Ketika Pertama Kali Didaftarkan di Sekolah
Perkembangan anak pada usia prasekolah mungkin sangat tidak lazim. Orangtua atau para pakar mungkin tidak pernah dapat menimbang apakah anak memiliki setiap ciri yang mengarah pada autisme. Namun, guru pertama anak biasanya sudah tidak asing dengan rentang perilaku yang normal dan kecakapan pada anakanak kecil serta menjadi lebih peduli ketika anak mulai menghindari permainan kelompok, tidak memahami aturan-aturan ten- tang perilaku sosial di ruang kelas, memiliki sifat yang tidak lazim dalam percakapan dan permainan imajinatif mereka, meng-alami keterpesonaan mendalam pada topik tertentu, dan memiliki kejanggalan ketika menggambar, menulis, atau bermain bola. Anakanak semacam ini juga bisa mengacaukan atau agresif ketika harus berada dekat dengan anak-anak lain atau harus menunggu. Di rumah, anak mungkin menjadi karakter yang nyaris berbeda, bermain dengan saudara sedarah, dan berinteraksi dalam cara yang relatif alamiah dengan orangtua mereka. Namun, dalam kesempatan-kesempatan yang tidak biasa dan dengan rekan-rekan seusianya, tanda-tanda yang ada lebih nyata. Anak-anak ini memiliki tanda-tanda klasik, namun kerap tidak dipertimbangkan oleh guru sebagai prioritas untuk dirujuk ke alat diagnostik. Mereka dianggap sebagai anak yang aneh, terus dianggap aneh di sekolah, dan meninggalkan kebingungan pada semua guru mereka.
Pengujian terbaru di Swedia menggunakan skala nilai yang didesain bagi para guru untuk mengidentifikasi anak-anak, yang kemungkinan mengidap Sindrom Asperger, di kelas mereka. Anakanak semacam itu kemudian mengikuti suatu penilaian diagnostik dengan menggunakan kriteria standar. Sebelumnya, diperkirakan bahwa satu di antara seribu anak yang mengidap Sindrom Asperger—suatu indikasi serupa dengan autisme. Namun, studi ini mengindikasikan bahwa, sesungguhnya, sekitar saw dari 300 anak mengidap Sindrom Asperger (Ehlers dan Gillberg 1991). Maka, mayoritas anak-anak dengan sindrom ini tidak akan memperoleh diagnosis awal autisme.

3. Sebuah Ciri yang Tidak Khas Dari Sindrom Lainnya
Perkembangan dan kecakapan-kecakapan awal anak mungkin telah dikenali sebagai sesuatu yang tidak lazim, dan pemeriksaan telah memberi kesan ada kelainan tertentu. Misalnya, anak memiliki catatan medis tentang perkembangan bahasa yang tertunda, mendapatkan pengobatan dan ahli terapi bicara, atau sekadar diasumsikan memiliki kelainan berbahasa. Namun, observasi yang cermat pada kecakapan-kecakapan sosial dan kognitif anak serta bidang yang menjadi minat mereka menampakkan profil yang lebih kompleks, dan Sindrom Asperger merupakan diagnosis yang lebih akurat. Anak mungkin didiagnosis mengidap gangguan lemah perhatian (ADD), dan kondisi yang satu ini diasumsikan dapat menjelaskan seluruh karakteristik anak. Terkadang, kondisi lain dapat dikenali dengan mudah, seperti cerebral palsy’ atau neurofibrornatosis2. Namun, kendati para ahli klinis memahami bahwa setiap anak memiliki ciri yang tidak khas, tetapi ahli-ahli ini ticlak me-miliki pengetahuan yang memadai mengenai Sindrom Asperger, supaya mereka dapat menganggap hal ini sebagai suatu kemungkinan. Pada akhimya, para ahli klinis memang mengenali tandatandanya, atau orangtua membaca tentang sindrom tersebut, lalu mereka mengontak tim diagnostik yang lebih relevan.Tetapi ketika diagnosis awal dibuat, tidak dimasukkan kcmungkinan kondisi lain, seperti Sindrom Asperger, padahal pengalaman klinis serta penelitian telah mengidentifikasi anak-anak dengan diagnosis ganda. Tetapi, orangtua hams menanti benahun-tahun untuk mendapatkan diagnosis kedua.

4. Diagnosis Adanya Seorang Kerabat yang Mengidap Autisme atau Sindrom Asperger
Ketika seorang anak didiagnosis mengidap autisme atau Sindrom Asperger, orangtua mereka akan segera mengetahui banyak hal, dalam berbagai cara, bentuk kondisi ini. informasi semacam itu diperoleh dari literatur dan percakapan dengan para pakar serta orangtua lain yang memiliki pengalaman serupa. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bahwa, mungkin, ada ang,gota keluarga yang mengidap Sindrom Asperger. Ada keluarga yang beberapa anaknya—lebih dari satu—mengidap Sindrom Asperger, atau kejadian tersebut terjach dalam sejumlah generasi.

5. Gangguan Kejiwaan Tambahan
Orang yang mengidap Sindrom Asperger kemungkinan berkembang melewati masa-masa di sekolah dasar sebagai anak yang eksentrik atau petapa yang mengucilkan diri. Namun, mereka tidak memiliki tanda-tanda yang mengindikasikan rujukan ke penilaian diagnostik. Kendati dernikian, sebagai remaja, orang itu mungkin akan lebih menyadari kondisi isolasi sosial mereka dan mencoba agar menjadi lebih dapat hersosialisasi. Upaya-upaya mereka untuk bergabung dalam aktivitas-aktivitas sosial dengan sebaya mereka berhadapan dengan ejekan dan pengucilan serta menyebabkan mereka menjadi depresi. Depresi tersebut dapat mengarah pada rujukan untuk mendatangi psikiater anak. Pakar itu dengan segera akan menyadari bahwa kasus yang dihadapinya ini merupakan konsekuensi tambahan dari Sindrom Asperger.

Banyak pemuda dewasa yang mengidap Sindrom Asperger melaporkan kecemasan yang mendalam, hingga mencapai tingkat yang memerlukan perawatan tertentu. Orang itu bisa saja mengemhangkan serangan kepanikan atau perilaku kompulsif, seperti mengharuskan diri mencuci tangan berkali-kali karena takut terkontaminasi. Ketika hal ini didiagnosis dan diobati, ahli klinis yang terlibat mungkin adalah orang pertama yang mengenali tandatanda Sindrom Asperger.

Selama masa remaja, orang tersebut dapat kembali ke dunia mereka sendiri, berbicara dengan dirinya sendiri, serta kehilangan minat pada kontak sosial dan gizi pribadi. Ada kecurigaan bahwa mereka mengidap skizofrenia, namun penelitian yang cermat akan mengungkapkan bahwa mereka tidak gila, dan hal itu hanyalah reaksi Sindrom Asperger yang dapat clipahami di masa remaja. Kelainan kejiwaan tambahan ini, juga pencegahan dan perawatannya, akan dibahas di Bab 8. Namun, bagi beberapa individu, semua itu merupakan tanda-tanda yang mengarah ke diagnosis sindrom ini.

6. Sisa-sisa Sindrom Asperger pada Seorang Dewasa
Kini, setelah kita lebih menyadari karakteristik Sindrom Asperger, rujukan-rujukan tidak hanya ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Sejumlah orang dewasa juga merujuk did mereka sendiri untuk penilaian diagnostik. Mungkin, mereka adalah orangtua atau kerabat anak yang telah didiagnosis mengidap Sindrom Asperger, lalu menimbang bahwa sejumlah ciri sindrom juga tampak pada masa kecil mereka. Yang lain telah membaca tentang sindrom ini di majalah atau artikel-artikel koran, dan menimbang bahwa kemungkinan mereka juga memiliki tanda-tanda sindrom ini. Ketika seorang dewasa menjalani pemeriksaan diagnostik untuk Sindrom Asperger, merupakan hal yang penting bagi tim diagnostik untuk mendapatkan informasi yang dapat diandalkan menyangkut ke-cakapan-kecakapan dan perilaku orang itu saat masih anak-anak. Orangtua, kerabat, atau guru dapat mcnjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga untuk membantu orang dewasa tersebut mengingat kembali masa kecilnya.

Layanan-layanan tentang masalah kejiwaan bagi orang dewasa terkadang juga mengidentifikasi tanda-tanda pada seseorang dengan diagnosis awal skizofrenia yang tidak khas atau alkoholisme. Ratarata penderita skizofrenia di antara orang-orang penderita Sindrom Asperger sebenarnya sama saja dengan rata-rata penderita skizofrenia dalam populasi keseluruhan, namun gejala pada beberapa individu bisa terlihat serupa sehingga dapat mengarah ke diagnosis yang keliru. Terkadang, kecanduan alkohol merupakan suatu tanda depresi atau upaya untuk mengurangi kecemasan dalam kehidupan sosial. Ketika orang tersebut menjalani perawatan untuk alkoholisme, mereka juga didiagnosis mengidap Sindrom Asperger.

Seorang pengidap Sindrom Asperger pada umumnya jarang melakukan Uncial< kriminal kecuali hila herkaitan dengan minat khusus mereka. Misalnya, seorang anak muda terpesona oleh kereta api. Maka, saat berada di sebuah Peron stasiun, ia memutuskan “mencuri” mesin kereta. Diragukan bahwa ia betul-betul memiliki niat jahat; anak muda itu hanya sangat antusias dan ingin tahu. Maka, layanan tentang masalah kejiwaan yang berhubungan dengan peradilan mungkin akan merujuknya untuk mendapatkan pemeriksaan diagnostik. Akhirnya, sejumlah biro penempatan tenaga kerja milik pemerintah kini menyadari perlunya pekerjaan khusus bagi mereka yang memiliki tanda-tanda sindrom ini dengan cukup parah. Staf pakar biro tersebut dapat menunjuk orang yang akan didiagnosis dan diberi saran mengenai karier serta bantuan pekerjaan.

Ringkasnya, ada enam jalan untuk mendiagnosis. Terlepas dan apakah anak atau orang dewasa tersebut sudah mendapat diagnosis yang telah diverifikasi, bab-bab berikut akan menyediakan lebih banyak lagi informasi mengenai karakteristik sindrom dan sejumlah strategi untuk mempelajari sejumlah keterampilan yang bisa diperoleh oleh orang lain dengan mudah, namun harus dipelajari oleh para pengidap Sindrom Asperger.

Pustaka
Sindrom Asperger Oleh Tony Attwood


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s