Melawan Cuci otak……tidak sulit kok

LIMA PEMAHAMAN UNTUK MELAWAN CUCI OTAK

Cuci otak atau brainwashing sepanjang sejarah menjadi istilah yang menakutkan. Ketakutan itu karena kita tahu, otak adalah organ dimana manusia menghasilkan pikiran, pikiran menghasilkan kehendak dan tingkahlaku. Dari sanalah cikal bakal kepribadian. Sehingga ketika mendengar frasa cuci otak maka asosiatif dengan berubahnya kepribadian

Ketakutan terhadap cuci otak sebetulnya tidak perlu dilebih lebikan, sebab menurut berbagai penelitian, ketika seseorang memahami apa itu cuci otak, maka resistensi terhadap cuci otak akan meningkat, sekaligus efektifitas metode brainwashing akan menurun. Sangat simpel bukan? Jadi yang perlu dilakukan agar masyarakat terhindar dari gerakan cuci otak adalah kampanye  rame rame supaya  masyarakat mengenali gejala awal cuci otak. Tulisan ini merupakan bagian dari edukasi itu.

 

Secara garis besar, langkah cuci otak terdiri dari tiga hal; Pertama;  uninstall dimana pelaku mempereteli belief system yang ada di pikiran target.  Kedua; Preparation to install, menyiapkan  target untuk bersedia di install dengan beliefe system yang baru. Ketiga instalation, dimana target terus menerus di cekoki dengan paham paham baru.

Tulisan ini akan menjabarkan gejala gejala yang observable dari setiap langkah brainwashing supaya lima pemahaman ini Anda kenali dan kemudian diteruskan ke sanak saudara, teman, sahabat, di-share di rapat-rapat RT, di gardu ronda dan di tempat2 umum lainnya. Berikut ini lima pemahaman untuk korban:

 

Pertama : Isolasi. Kalau Anda diundang untuk menghadiri rapat, kaderisasi, pengajian, atau apapun yang sifatnya isolatif (tertutup) harap segera nyalakan alarm dalam diri anda. Brainwashing selalu dilakukan dalam kondisi isolasi. Orientasi korban terhadap tempat dimanipulasi sedemikian rupa. Korban dibawa kesuatu tempat yang asing, bahkan  beberapa diantaranya menceriterakan bahwa matanya ditutup sampai di tempat tertentu, sehingga target bingung dan disorientasi. Korban hanya perlu mengingat bahwa upaya mengisolasi  adalah upaya pertama dari para brainwasher.

Melepaskan diri dari cengkeraman mereka dalam tahap ini resikonya jauh lebih ringan dibanding ketika korban sudah masuk ke tahapan  berikutnya. Oleh sebab itu ketika korban mengenali upaya isolasi ini segeralah nyalakan alarm dalam diri. Kalau HP belum disita, kirimlah kabar ke orang dekat  posisi terakhir dimana dan siapa yang mengajak anda, supaya keluarga bisa melacak  sekiranaya  kesulitan keluar dari ruang isolasi itu. Pada saat ini kondisi emosi dan fisik korban masih segar bugar, adakan negosiasi semaksimal mungkin kepada orang yang mambawa anda dan katakan anda tidak sanggup meneruskan proses ini. Sembari melakukan negosisiasi tinggalkanlah jejak sebanyak mungkin kepada orang orang terdekat, melalui sms, telpon, BBM dan sarana yang masih mungkin dipakai. Catatan pentingnya, bahwa pada kondisi ini, korban masih ketemu dengan pe-rekrut belum ketemu eksekutor, sehingga negosisasi kepada mereka jauh lebih mudah.

 

Kedua : Mindclouding. Tanda tanda kedua dari praktek brainwashing adalah apa yang disebut tehnik Mindclouding. Teknik ini adalah cara cara tidak etis yang dilakukan oleh brainwasher untuk mereduksi fungsi fungsi kognitif korban. Ada banyak caraMindclouding , yang kerap kali dipakai adalah mengurangi asupan makan dan mengurangi jam tidur. Pada tahapan ini ada beberapa penyerangan terhadap pikiran pikiran korban sementara fungsi kognitif direduksi sehingga tidak sanggup berpikir kritis lagi. Kekurangan asupan makanan dan kehilangan jam tidur dalam waktu 48 jam biasanya cukup untuk membuat pikiran seseorang melemah. Dalam episode inibrainwasher meng-uninstal identitas korban untuk nanti ditukar dengan identitas bau

 

Fisik manusia tebatas, demikian pula kekuatan berpikirnya. Otak membutuhkan protein untuk bisa bersinar terang, dan tubuh membutuhkan nutrisi dan istirahat yang cukup untuk perform. Pada episode kedua ini, brainwasher sengaja mengurangi dua hal itu: makan dan tidur, sesuatu yang elementer untuk kewarasan manusia. Selain fisiknya menjadi lemah, mindclouding juga membuat listrik dalam otak melemah, akhirnya si empunya otak cendrung malas berpikir keras, menyimpan pikiran kritisnya dan akhirnya mengikuti alur berpikir brainwasher.

 

Ketika korban menyadari adanya praktek mindclouding ini, cara yang paling bijak dilakukan adalah menyimpan energi semaksimal mungkin. Jangan melakukan gerakan gerakan yang menghabiskan kalori, dan tetap tenang dan jaga kewarasan berpikir. Mintalah makan yang cukup dan istirahat yang cukup, meskipun permintaan ini akan sia sia. Yang penting terus katakanlah bahwa anda lapar dan capek semata mata untuk membuat konsentrasi brainwasher terpecah pecah. Dalam kondisi kepepet kembang gula cukup untuk menjadi makanan suplemen sementara, meskipun sebetulnya tubuh anda tetap membutuhkan karbohidrat,  protein dan air.

 

Ketiga :Penyerangan terhadap identitas. Tanda ketiga yang bisa dirasakan oleh korban adalah penyerangan terhadap idntitas. Pada tahap ini korban distimulir untuk  tidak lagi mempercayai siapa dirinya, siapa namanya, siapa orang tuanya. Tatanan belief yang sudah lama berakar dalam diri korban dipeloroti satu persatu, sehingga nanti korban siap untu diberi identitas baru.

 

Celakanya, penyerangan terhadap identitas ini dilakukan bersamaan dengan teknikmindclouding. Coba bayangkan, ketahanan fisik dan pikiran korban di reduksi, fungsi fungsi kognitif di nol-kan, dalam waktu yang sama korban diserang identitas dirinya. Penyerangan identitas ini dimulai dari nama, pekerjaan, keluarga, lama lama ke penyangkalan terhadap ajaran agama yang sudah lama melekat dalam dirinya dipeloroti juga. Korban di bawa kepada sebuah situasi dimana ia harus menyangkal semua identitas dirinya. Ketika hal itu dilakukan dalam kondisi biasa mungkin langkah ini akan menjadi langkah yang lucu. Tetapi ketika dilakukan bersamaan dengan teknikmindclouding, maka cara ini akan sangat efektif.

 

Cara bertahan dari dua serangan sekaligus ini adalah dengan tetap teguh pada identitas dirinya. Teguhkan tekad anda dalam hati bahwa anda adalah anda. Kepekaan terhadap identitas diri akan menjadi tolok ukur brainwashing diteruskan apa tidak. Pemeretelan terhadap identitas diri korban adalah pintu gerbang. Kalau fisiknya lemah,  fungsi fungsi kognitif direduksi si korban tetap bertahan pada identitasnya, kemungkinan besar brainwasher akan frustrasi juga.

Catatan besarnya adalah bahwa tidak semua orang bisa di brainwash. Kedua bahwa untuk meng-install paham yang baru dalam benak korban, korban harus lebih dulu meng-un-install beliefe yang lama.  Pemeretelan identitas adalah tahap awal, apakah seseorang bisa di instal paham yang baru apa tidak, Kalau tidak ada harapan untuk menginstall paham yang baru, tidak ada pilihan bagi brainwasher kecuali melepaskan anda. So, episode ini adalah titik kritis bagi kedua belah pihak. Kunci utamanya adalah pertahankan identitas anda sebagaimana adanya. Teguhkan diri anda, pertahankan nama anda, keluarga anda, pekerjaan anda, agama anda dan hal hal lain yang selama ini anda percayai dan menjadi bagian melekat dalam diri anda.

 

Keempat: Feel guilty. Pada tahap ini brainwasher akan berusaha keras untuk memunculkan dalam hati korban situasi merasa bersalah yang berlebihan. Termasuk rasa bersalah terhadap hal hal yang sepele yang pada mulanya bukan masalah. Misalanya merasa bersalah sudah begitu lama memakai nama Budi, rasa bersalah sebagai pemeluk agama yang (dianggap) tidak benar, dan rasa bersalah yang lain.

 

Rasa bersalah ini akan sangat erat kaitanya dengan paham baru yang siap diinstallkan dalam pemahaman korban. Korban dibuat merasa bersalah yang berlebihan sudah memeluk agama yang selama ini diyakini kebenarannya. Ketika rasa bersalah ini sudah bersinggasana dalam diri korban, maka brainwasher akan membuatkan gap antara diri korban dengan sejarah yang membuat ia merasa bersalah itu. Akan distimulir ke dalam pikiran korban bahwa penderitaan (rasa bersalah) itu diakibatkan oleh paham lama yang selama ini diyakininya, maka tidak ada cara lain supaya korban menjauhi apapun yang berkaitan dengan beliefe lamanya.

 

Sampai disini keluarga biasanya mulai menerima akibatnya. Pekerjaan, sekolah dan Institusi keagamaan yang telah menanamkan banyak kepaercayaan dalam dirinya mulai dimusuhi sebagai sebuaah entitas yang “menyengsarakan” hidupnya. Sosialitas korban mulai berubah.

 

Dalam kondisi ini korban sudah masuk kedalam situasi   ideological trance. Mencoba meluruskan pengertiannya hanya akan membuahkan pertengkaran yang sia sia. Dia sendiri sudah tidak kuasa melawan paham baru yang hidup dalam benaknya. Pada kondisi ini sepenuhnya penyelamatan sangat tergantung kepada keluarga dan pihak pihak lain.

 

Kelima: Kekerasan fisik dan psikologis. Teknik ini tidak selalu dipakai. Brainwasher akan memakai cara ini kalau korban masih saja terasa “keras” setelah diterapkan teknik teknik sebelumnya. Cerita tentang kekerasan fisik dan psikologis bisa kita temukan dalam sejarah perang di berbagai belahan dunia. Penuturan para mantan tawanan perang akan membawa pembaca pada pemahaman itu.

 

Lima pengertian diatas lebih ditujukan untuk korban. Bagaimana dengan keluarga? Hal lain yang layak menjadi catatan bagi keluarga adalah : Pertama, hendaknya semua keluarga mulai jeli pada jadwal anak anak.  Biasanya brainwashing dimulai dari suatu kegiatan dalam durasi yang cukup lama, tempatnya tidak jelas, dan pihak penyelenggara juga tidak jelas. Kalau anak anda sempat pamit untuk sebuah kegiatan yang cukup lama, perjelaslah informasinya. Kedua, Ciri yang bisa ditangkap oleh keluarga pada diri korban brainwashing adalah pemisahan terhadap sejarah. Korban mengingkari sebagai bagian dari keluarga dan institusi agama. Mereka menganggap orang diluar kelompoknya adalah kafir, jahat dan sebagainya. Kalau keluarga melihat gelagat ini, jangan buru buru men-judge sebagai anak durhaka. Ketahuilah bahwa dia adalah korban yang harus ditolong, meskipun dia tidak tahu kalau harus ditolong.

 

Ciri lain yang bisa dikenali oleh keluarga adalah bertambahnya nama alias. Biasanya korban diberi nama baru, identitas baru. Selain itu korban menjadi sangat terikat dan loyal terhadap komunitas barunya. Kalau ciri ciri ini dikenali, sekali lagi, berhentilah men- judge dia sebagai anak durhaka. Pertolongan dari ahli perubahan tingkah laku sangat dibutuhkan. Konsultasikan fenomena fenomena yang dapat diamati ini kepada orang yang betul betul mengetahui soal otak, pikiran, perasaan dan perilaku. Semoga tulisan ini bisa menjadi guiding bagi sidang pembaca.

 

R Budi Sarwono

Master Hypnotist, Mahasiswa S2 Psikologi Klinis UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s