Perkembangan Psikoseksual

Fase-fase Psikoseksual dari Anak hingga Remaja
Ada fase-fase psikologis yang harus dilalui tiap individu. Antara lain fase
psikoseksual yaitu tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan fungsi seksual yang dapat
mempengaruhi perkembangan psikologis individu tersebut. Tiap individu akan mengalami
fase/tahap psikoseksual dalam tiap tahap perkembangan umurnya (0-18 tahun). Bila individu
tersebut gagal melewati suatu masa yang harus dilaluinya sesuai dengan tahap perkembangannya
maka akan terjadi gangguan pada diri orang tersebut.
Pada kesempatan ini kita akan melihat fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui
setiap individu sesuai dengan tahap perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah:
1. Fase oral/mulut (0-18 bulan)
Yaitu fase pertama yang harus dilalui oleh seorang anak sejak dilahirkan.
Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi manusia lebih tidak berdaya dibandingkan dengan
bayi binatang menyusui lainnya, dan ketidakberdayaan ini berlangsung lebih lama daripada
spesies lain.
Pada mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan puting
susu ibunya, yaitu asosiasi antara rasa kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan
kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu terpenuhi kebutuhannya, bayi menjadi
frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada waktu kebutuhannya terpenuhi.
Inilah pengalaman pertama kesadaran akan adanya obyek diluar dirinya. Jadi kelaparan
menuntutnya untuk mengenal dunia luar.
Reaksi primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukkan
semua benda yang dipegangnya ke mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat
pemuasan (oral gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap puting susu
ibunya. Kebutuhan-kebutuhan, persepsi-persepsi dan cara ekspresi bayi secara primer
dipusatkan di mulut, bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut.
Dorongan oral terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan
agresif. Dorongan libido yaitu dorongan seksual pada anak, yang berbeda dengan libido pada
orang dewasa. Dorongan libido merupakan dorongan primer dalam kehidupan yang
merupakan suber energi dari ego dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan, sehingga
memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan membawa pada pencarian kepuasan
oral yang ditandai dengan diamnya bayi pada akhir menyusui. Sedangkan dorongan agresif
dapat terlihat dalam perilaku menggigit, mengunyah, meludah, dan menangis.
Pada fase oral ini, peran Ibu penting untuk memberikan kasih sayang
dengan memenuhi kebutuhan bayi secepatnya. Jika semua kebutuhannya terpenuhi, bayi
akan merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini merupakan dasar perkembangan
selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar.
Jika pada fase oral ini bayi merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini
akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami
gangguan tingkah laku seksual misalnya kepribadian oral sadistik yang dimanifestasikan
dalam penyimpangan seksual sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila didahului atau
disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya, bila bayi mendapat kepuasan yang
berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis,  narcistik
(cinta diri sendiri), dan selalu menuntut. 2. Fase Anal (1 1/2 - 3 tahun)
Fase ini ditandai dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfingter anus sehingga
anak mulai dapat mengendalikan beraknya.
Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan
didapatkan pada waktu menahan berak. Kenikmatan lenyap setelah berak selesai.
Jika kenikmatan yang sebenarnya diperoleh anak dalam fase ini ternyata
diganggu oleh orangtuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik dan
sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman yang dapat
menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan kepribadian anak.
Dimana pada perkembangan seksualitas deawasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat
kelaminnya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan partnernya.
Oleh karena itu sikap orangtua yang benar yaitu mengusahakan agar anak
merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang
biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang menjijikkan. Hal ini penting, karena akan
mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya.
Jika terjadi hambatan pada fase anal, anak dapat mengembangkan sifat-sifat
tidak konsisten, kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal
yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal.
Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anal kurang efektif, karakter anal menjadi
ambivalensi (ragu-ragu) berlebihan, kurang rapi, suka menentang, kasar dan cenderung
sadomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti). Karakter anal yang khas terlihat
pada penderita obsesif kompulsif.
Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan
kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan
ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerjasama yang baik tanpa perasaan rendah diri.
3. Fase Uretral
Pada fase ini merupakan perpindahan dari fase anal ke fase phallus.  Erotik
uretral mengacu pada kenikmatan dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada
fase anal.
Jika fase uretral tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan
mengembangkan sifat uretral yang menonjol yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat
timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra.
Jika fase ini dapat diselesaikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan
persaingan sehat, yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Anak laki-laki
meniru dan membandingkan dengan ayahnya. Penyelesaian konflik uretra merupakan awal
dari identitas gender dan identifikasi selanjutnya.
4. Fase Phallus (3-5 tahun)
Pada fase ini anak mula mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak,
adik atau temannya. Anak mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang
memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi orangtua sering
marah bahkan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau mempermainkan
kelaminnya. Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan
dipotong (dikebiri). Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat menjadi dasar penyebab
gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual.
Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap orangtua dari jenis kelamin
yang berbeda. Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam
tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya, meraba buah dada atau alat kelamin
orangtuanya.
Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap
ayahnya, dan keinginan untuk mengganti posisi ayah disamping ibu, disebut  kompleks
Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks Elektra. Kompleks elektra biasanya disertai
rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin seperti anak laki-laki dan merasa takut jika
terjadi kerusakan pada alat kelaminnya.
Bila kompleks oedipus/elektra tidak dapat diselesaikan dengan baik, dapat
menyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.
5. Fase Latensi (5/6 tahun-11/13 tahun)
Pada fase ini semua aktifitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan, karena
perhatian anak lebih tertuju pada hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin-tahuan tentang
seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya anak-anak juga menerima informasi
tentang seksualitas yang sering menyesatkan.
Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi yang salah dan
menyesatkan itu. Pada fase ini dapat terjadi gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki
maupun wanita.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri
sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada minat belajar dan
pengembangan ketrampilan.
6. Fase genital (11/13 tahun-18 tahun)
Pada fase ini, proses perkembangan psikoseksual mencapai "titik akhir".
Organ-organ seksual mulai aktif sejalan denga mulai berfungsinya hormon-hormon seksual,
sehingga pada saat ini terjadi perubahan fisik dan psikis. Secara fisik, perubahan yang paling
nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks
sekunder.
Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12-
13 tahun, sedangkan remaja putra sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini, biasanya
para gadis tampak lebih tinggi daripada anak laki-laki seusia pada periode umur 11-14 tahun
Perkembangan tanda seksual sekunder pada gadis adalah pertumbuhan
payudara, tumbuhnya rambut pubes dan terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar,
pinggang ramping dan suara feminin. Sedangkan pada anak laki-laki terlihat buah pelir dan
penis mulai membesar, tumbuhnya rambut pubes, rambut kumis, suara mulai membesar.
Terjadi mimpi basah, yaitu keluarnya air mani ketika tidur (mimpi basah).
Bersamaan dengan perkembangan itu, muncullah gelombang nafsu birahi baik
pada laki-laki maupun wanita. Secara psikis, remaja mulai mengalami rasa cinta dan tertarik
pada lawan jenisnya.
Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas. Itulah fase-fase psikoseksesual yang harus dialami oleh tiap-tiap individu.
Dengan mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan bila gagal ataupun berhasil dalam
melewati tiap fase, maka hendaknya orangtua dan para pendidik dapat mengambil
manfaatnya, sehingga kita dapat memberikan kesehatan mental putra-putri kita sedini
mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s