Menagih Janji Lima Tahun Bencana Jogja

Lima tahun berlalu gempa Jogja yang terjadi pada 27 Mei 2006 telah meluluh-lantakkan pemukiman penduduk di Kabupaten Bantul dan sekitarnya. Bahkan sampai ke Klaten, dan goncangannya pun terasa hingga ke Jawa Timur. Tapi, ganti rugi seperti yang dijanjikan pemerintah tak kunjung tiba. Sementara masih banyak warga Bantul, Yogyakarta yang masih belum memiliki tempat tinggal layak karena belum bisa membangun rumah sebab biaya bahan bangunan sudah semakin melonjak. Hal inilah yang membuat korban musibah bencana gempa Jogja menagih janji kepada pemerintah setelah lima belum mendapatkan apa-apa.

Kekecewaan korban bencana di Jogja tentu menimbulkan polemik. Jika memang pada waktu itu kucuran dana dan bantuan dari beberapa negara luar langsung segera diberikan secara merata kepada korban bencana, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Sebagian warga menduga-duga, jangan-jangan kucuran dana dan bantuan itu memang ditilep?

Di alun-alun Yogyakarta, pada beberapa waktu yang lalu sempat diadakan peringatan gempa 5.9 SR diikuti oleh beberapa elemen termasuk TNI, ORARI, SAR, dan beberapa organisasi dengan begitu sederhana. Dalam acara peringatan itu, beberapa warga korban bencana menyayangkan sikap pemerintah yang terksesan lamban dan selalu mempermainkan rakyat.

Berbagai negara telah menawarkan bantuan, beberapa di antaranya adalah Britania Raya menyumbang sebanyak 5,6 juta dolar AS, Australia 3 juta dolar Australia, RRC 2 juta dolar AS, Amerika Serikat 2,5 juta dollar AS, Uni Eropa 3 juta euro, Kanada 2 juta dolar Kanada dan Belanda 1 juta euro. Sementara Jepang dan UNICEF menawarkan berbagai bantuan langsung. Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Merah, OXFAM dan UNICEF telah memberikan sejumlah tenda dan perbekalan darurat kepada para korban. Jepang, Singapura dan Malaysia pun ikut serta mengirimkan tim ke wilayah bencana.

 

Saya sendiri pernah dimuat oleh Kompas dan Jawa Post terkait dengan bencana gempa di Jogja. Karena ada sebagian warga korban bencana yang kesulitan mendapatkan bantuan. Saya yang tergabung dalam tim relawan lantas membantunya dengan maksud supaya warga segera mendapat bantuan. Namun kenyataannya warga harus berhadapan dengan birokrasi. Mereka harus menyerahkan surat-surat resmi seperti KTP, C1 atau apapun yang berkaitan dengan identitas. Alasannya agar tidak ada penipuan. Tapi itu justru malah menyulitkan warga korban.

Akhirnya, pada waktu itu saya pun ribut dengan pejabat Dinas Kesejahteraan DI Yogyakarta di aula rumah dinas Bupati Bantul hanya karena saya bilang kepadanya “ternyata di lokasi bencana masih ada birokrasi.”

Tak terima dengan ucapan saya, salah satu pejabat dari Dinas Kesejahteraan DI Yogyakarta itu lantas menggebrak meja dan …”saya nggak terima Anda bilang seperti itu,” teriaknya kesal pada saya.

Suasana berubah ricuh. Beberapa relawan berpihak kepada saya, yang lainnya lebih memilih diam katena takut ancaman. Aula menjadi sesak karena ingin tahu apa yang sedang terjadi. Beberapa media TV seperti Metro TV (maaf hanya media itu yang saya ingat telah menyorot saya) dan media cetak diam-diam memberitakan kejadian ini.

Belum lagi masalah beras; bantuan yang diberikan oleh Jusuf  Kalla untuk para korban bencana yang juga hilang entah kemana. Saya sempat melakukan investigasi kecil-kecilan, tapi informasi yang saya dapat di lapangan sangat mengecewakan. Lagi-lagi terlalu banyak pembohongan. Sementara orang-orang baik dan jujur yang bertugas membagi-bagikan setumpuk bantuan dari berbagai negara di pendopo kantor gubernur tak lagi muncul, sebab katanya mereka punya kesibukan lain. Kurang lebih 10.000 KK menaruh harapan pada tim kami untuk segera dapat menyalurkan bantuan kepada korban bencana. Setelah kami selalu berhasil menyalurkan bantuan ke beberapa wilayah bencana seperti di Srandakan dan Kulon Progo.

Lima tahun berlalu setelah bencana gempa 5.9 SR mengguncang Jogja. Ternyata pemerintah belum juga menepati janji memberikan uang ganti rugi sebesar Rp 30.000.000 kepada warga korban bencana Jogja. Warga berharap agar kesulitannya segera terbantu dan tidak hanya mendapatkan janji-janji kosong dari pemerintah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s