Autisme dan Penatalaksanaan

0
Authors :
Aidia Fitri Yeni, S. Ked
Junita Yuni Murni, S. Ked
Reni Oktora, S. Ked
Faculty of Medicine – University of Riau
Pekanbaru, Riau
2009
© Files of DrsMed – FK UR (http://www.Files-of-DrsMed.tk
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Autisme merupakan fenomena yang masih menyimpan banyak rahasia
walaupun telah diteliti lebih dari 60 tahun yang lalu. Sampai saat ini belum dapat
ditemukan penyebab pasti dari gangguan autisme ini, sehingga belum dapat
dikembangkan cara pencegahan dan penanganan yang tepat. Pada awalnya
autisme dipandang sebagai gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis
yaitu pola pengasuhan orangtua yang tidak hangat secara emosional, tetapi
barulah sekitar tahun 1960 dimulai penelitian neurologis yang membuktikan
bahwa autisme disebabkan oleh adanya abnormalitas pada otak.1
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin, di desa
di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya
di dunia. Jumlah anak yang terkena autisme semakin meningkat pesat di berbagai
belahan dunia, kondisi ini menyebabkan banyak orangtua menjadi was-was
sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa kurang normal selalu
dikaitkan dengan gangguan autisme. Di California pada tahun 2002 disimpulkan
terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autisme
terjadi pada 15.000 – 60.000 anak dibawah 15 tahun. Di Indonesia yang
berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah
penderita namun diperkirakan jumlah anak autisme dapat mencapai 150-200 ribu
orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak
perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.2
Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui
pemeriksaan yang teliti di rumah sakit, dokter atau sekolah khusus. Dewasa ini
terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme
infantil) yang datang pada praktek neurologi dan praktek dokter lainnya.
Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan
bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah anaknya tuli.3
Terapi anak autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi yang
intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, dan
peran serta orang tua sehingga melibatkan banyak bidang, baik bidang
2
kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang sosial. Dalam bidang
kedokteran, untuk menangani masalah autisme dengan pengobatan khususnya
medika mentosa, di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan memberikan
latihan pada orang tua penderita. Terapi perkembangan perilaku dapat dilakukan
dalam bidang psikologi, sedangkan mendirikan yayasan autisme sebagai lembaga
yang mampu secara professional menangani masalah autisme adalah salah satu
contoh yang dilakukan dalam bidang sosial.4
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme,
anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa
mempunyai prognosis yang baik.1,3 Berdasarkan gangguan pada otak, autisme
tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah
ke arah positif dengan berbagai terapi.4 Sejauh ini masih belum terdapat kejelasan
secara pasti mengenai penyebab dan faktor risikonya sehingga strategi
pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini tujuan pencegahan
mungkin hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan yang terjadi tidak lebih
berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autisme.2
3
AUTISME DAN PENATALAKSANAAN
Pengertian Autisme
Autisme berasal dari bahasa Yunani “autos” yang berarti segala sesuatu yang
mengarah pada diri sendiri. Autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo
Kanner 1943, seorang psikiatri Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk
menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang
sering disebut dengan sindroma Kanner.5
Autisme adalah salah satu defisit perkembangan pervasif pada awal kehidupan
anak yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan
ciri pokok yaitu terganggunya perkembangan interaksi sosial, bahasa dan wicara,
serta munculnya perilaku yang bersifat repetitif, stereotipik dan obsesif.3
Ahli lain mendefinikan autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang
ditandai oleh adanya kelainan atau hendaya perkembangan yang muncul sebelum
usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang interaksi sosial,
komunikasi dan perilaku yang terbatas dan berulang.2
Epidemiologi
Gangguan autisme dapat terjadi dengan angka 2-5 kasus/100.000 anak (0,02-
0,05%) di bawah usia 12 tahun. Jika retardasi mental berat dengan ciri autistik
dimasukkan, angka dapat meningkat sampai setinggi 20/10.000. Pada sebagian
kasus autisme mulai sebelum 36 bulan tetapi mungkin tidak terlihat oleh orangtua,
tergantung pada kesadaran mereka dan keparahan gangguan.6 Jumlah anak yang
terkena autisme semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada
dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri
pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Di Amerika
Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000 – 60.000 anak dibawah 15 tahun.
Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autisme
meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisme. Di
Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa
persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah anak autisme dapat
mencapai 150-200 ribu orang.2
4
Gangguan autisme ditemukan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan
pada anak perempuan. Tiga sampai lima kali lebih banyak anak laki-laki yang
memiliki gangguan autistik dibandingkan anak perempuan. Tetapi anak
perempuan yang memiliki gangguan autistik cenderung terkena lebih serius dan
lebih mungkin memiliki riwayat keluarga gangguan kognitif dibandingkan anak
laki-laki.6
Penelitian permulaan menemukan gangguan ini lebih sering pada status sosioekonomi
tinggi, namun hal ini mungkin dipengaruhi oleh bias, karena dalam 25
tahun terakhir terdapat peningkatan kasus pada kelompok sosio-ekonomi rendah.
Penemuan ini mungkin akibat bertambahnya kewaspadaan akan ganguan ini dan
bertambahnya fasilitas kesehatan untuk anak-anak miskin.6
Etiologi dan Patogenesis
Penyebab autisme sampai sekarang belum dapat ditemukan dengan pasti.
Banyak sekali pendapat yang bertentangan antara ahli yang satu dengan yang
lainnya mengenai hal ini.7 Gangguan autistik adalah suatu gangguan
perkembangan perilaku. Walaupun gangguan autistik pertama kali dianggap
berasal dari psikologis atau psikodinamik, banyak bukti-bukti yang terkumpul
mendukung adanya substrat biologis.6
1. Faktor Psikodinamika dan Keluarga
Penelitian terakhir yang membandingkan orangtua dari anak-anak autistik
dengan orangtua anak-anak yang normal tidak menunjukan perbedaan yang
bermakna dalam kemampuan membesarkan anak. Tidak ada bukti memuaskan
yang menyatakan bahwa jenis tertentu fungsi keluarga yang menyimpang atau
kumpulan faktor psikodinamika yang menyebabkan perkembangan gangguan
autistik. Namun demikian, beberapa anak autistik berespon terhadap stresor
psikososial, seperti kelahiran seorang adik atau pindah rumah baru, dengan
eksaserbasi gejala.6
2. Kelainan Organik-Neurologis-Biologis
Gangguan autistik dan gejala autistik berhubungan dengan kondisi yang
memiliki lesi neurologis, terutama rubella kongenital, fenilketonuria (PKU),
sklerosis tuberosus dan gangguan rett. Defek metabolisme dasar pada PKU adalah
5
ketidakmampuan untuk mengubah fenilalanin menjadi paratirosin karena adanya
atau tidak aktifnya enzim fenilalanin hidroksilase, yang mengkatalisis perubahan
tersebut. Anak PKU adalah hiperaktif dan menunjukan perilaku temper tantrum
serta kadang-kadang menyerupai anak autisme.6 Ada pendapat yang mengatakan
bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B dan MMR (Mumps, Measles dan
Rubella) bisa berakibat anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan
vaksin ini mengandung zat pengawet thimerosal, yang terdiri dari etilmerkuri
yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder. Tapi hal ini
masih diperdebatkan oleh para ahli karena tidak adanya bukti yang kuat. 6, 7, 8 4-32
% orang autistik memiliki kejang grand mal pada suatu saat dalam kehidupannya,
dan kira-kira 20-25% orang autistik menunjukkan pembesaran ventrikular pada
pemeriksaan tomografi komputer.6
Berbagai kelainan elektroensefalogram (EEG) ditemukan pada 10-83% anak
autistik, walaupun tidak ada temuan EEG yang spesifik untuk gangguan autistik,
etrdapat indikasi kegagalan lateralisasi serebral. Pada pemeriksaan Magnetic
Resonance Imaging (MRI) ditemukan hipoplasia pada lobulus vermal VI dan VII
sereberal, dan penelitian MRI lain menemukan abnormalitas kortikal terutama
polimikrogria, pada bebrapa pasien autistik.6
3. Faktor Genetika
Dalam beberapa penelitian didapatkan 2-4% sanak saudara orang autistik
terkena gangguan autistik dimana angka ini 50% lebih besar dibandingkan pada
populasi umum. Angka kesesuaian gangguan autistik pada dua penelitian besar
terhadap anak kembar adalah 36% pada pasangan monozigotik dibandingkan 0%
pada pasangan dizigotik pada salah satu penelitian dan kira-kira 96% pada
pasangan monozigotik dibandingkan kira-kira 27% pada pasangan dizigotik pada
penelitian kedua. Laporan klinis dan penelitian menyatakan bahwa anggota
keluarga nonautistik memiliki berbagai masalah bahasa atau kognitif lainnya yang
sama dengan orang autistik, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan.6
4. Faktor Imunologis
Beberapa bukti menyatakan bahwa inkompatibilitas imunologi antara ibu dan
embrio atau janin dapat menyebabkan gangguan autistik. Limfosit beberapa anak
autistik bereaksi dengan antibodi maternal yang meningkatkan kemungkinan
6
bahwa jaringan neural embrionik atau ekstraembrional mungkin mengalami
kerusakan selama kehamilan.6
5. Faktor Perinatal
Selama gestasi, perdarahan maternal setelah trimester pertama dan mekonium
dalam cairan amnion telah dilaporkan lebih sering ditemukan pada anak autistik
dibandingkan populasi umum. Dalam periode neonatus, anak autistik mempunyai
insidensi tinggi sindroma gawat pernapasan dan anemia neonatus. Beberapa bukti
menyatakan tingginya insidensi pemakaian medikasi selama kehamilan oleh ibu
dari anak autistik.6
6. Temuan Neuroanatomi
Lobus temporalis diperkirakan sebagai bagian penting dalam otak yang
mungkin abnormal dalam gangguan autistik, hal ini didasarkan pada laporan
sindroma mirip autistik pada beberapa orang yang mengalami kerusakan lobus
temporalis. Temuan lain pada gangguan autistik adalah penurunan sel purkinye di
serebellum, kemungkinan menyebabkan kelainan atensi, kesadaran, dan proses
sensorik.6
7. Temuan Biokimiawi
Pasien dengan gangguan autistik mengalami peningkatan serotonin plasma
pada sepertiga pasien. Temuan ini tidak spesifik untuk gangguan autistik, karena
orang dengan retardasi mental tanpa gangguan autistik juga memiliki
kecendrungan tersebut. Pasien dengan gangguan autistik tanpa retardasi mental
juga memiliki insidensi tinggi hiperserotonemia.6
Pada beberapa anak autistik, peningkatan homovanilic acid (suatu metabolit
utama dopamin) dalam cairan serebrospinalis adalah disertai dengan peningkatan
penarikan diri dan stereotipik. Beberapa bukti menyatakan bahwa keparahan
gejala menurun saat rasio 5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA) yang merupakan
metabolit serotonin cairan serebrospinalis terhadap homovanillic acid cairan
serebrospinalis meningkat. 5-HIAA cairan serebrospinalis mungkin berbanding
terbalik dengan kadar serotonin darah; kadar tersebut meningkat pada sepertiga
pasien dengan gangguan autistik, suatu temuan nonspesifik yang juga ditemukan
pada pasien dengan retadasi mental.6
7
Gambaran Klinis
Tanda-tanda awal pada pasien autisme berkaitan dengan usia anak. Usia anak
dimana sindroma autisme dapat dikenal merupakan kunci untuk segera melakukan
intervensi berupa pelatihan dan pendidikan dini. National Academy of Science
USA menganjurkan bahwa pendidikan dini merupakan kunci keberhasilan bagi
seorang anak dengan sindroma autisme. Pada umumnya semua peneliti sepakat
bahwa sindroma autisme merupakan diagnosis sekelompok anak dengan
kekurangan dalam bidang sosialisasi, komunikasi dan afeksi. Mereka juga sepakat
bahwa mengenal tanda-tanda awal autisme yaitu sejak usia dini (bayi baru lahir
bahkan sebelum lahir) sangat penting untuk upaya penanggulangan.9
Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak
menurut usia.9, 10
USIA 0 – 6 BULAN
· Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
· Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
· Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
· Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
· Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
· Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
· Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
· Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
· Gerakan tangan dan kaki berlebihan
· Sulit bila digendong
· Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
· Tidak ditemukan senyum sosial
· Tidak ada kontak mata
· Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
· Kaku bila digendong
· Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
8
· Tidak mengeluarkan kata
· Tidak tertarik pada boneka
· Memperhatikan tangannya sendiri
· Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
· Mungkin tidak dapat menerima makanan cair
USIA 2 – 3 TAHUN
· Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
· Melihat orang sebagai “benda”
· Kontak mata terbatas
· Tertarik pada benda tertentu
· Kaku bila digendong
USIA 4 – 5 TAHUN
· Sering didapatkan ekolalia (membeo)
· Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
· Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
· Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
· Temperamen tantrum atau agresif
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada
sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir.
Seorang ibu yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya kontak mata
dan kurangnya minat untuk berinteraksi dengan orang lain.10
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas
saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu: 5
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat
dimengerti , ekolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti
maknanya.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak mata,
tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri.
9
3. Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang
berlebih (excessive ) dan kekurangan ( deficient ) seperti impulsif, hiperaktif,
repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan
permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda
tertentu seperti gambar, karet, dll yang dibawanya kemana-mana.
4. Gangguan pada bidang perasaan/emosi, seperti kurangnya empati, simpati,
dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang
nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia
inginkan.
5. Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit
mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga,
tidak menyukai rabaan dan pelukan.
Gejala–gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme,
tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.5
Diagnosis
Kriteria diagnostik untuk gangguan autistik 6
A. Total enam atau lebih hal dari 1, 2 dan 3 dengan sekurangnya dua dari 1 dan
masing-masing satu dari 2 dan 3
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial seperti ditujukan oleh sekurangkurangnya
dua dari berikut:
a. Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti
tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh dan gerak-gerik untuk
mengatur interaksi sosial.
b. Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang
sesuai menurut tingkat perkembangan.
c. Tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat,
atau pencapaian dengan orang lain (misalnya tidak memamerkan,
membawa, atau menunjukkan benda yang menarik minat).
d. Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi seperti yang ditujukkan oleh
sekurangnya satu dari berikut :
10
a. Keterlambatan dalam atau sama sekali tidak ada, perkembangan
bahasa ucapan (tidak disertai oleh usaha untuk berkompensasi melalui
cara komunikasi lain seperti gerak-gerik atau mimik).
b. Pada individu dengan bicara yang adekuat gangguan jelas dalam
kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan
orang lain.
c. Pemakaian bahasa atau bahasa idiosinkratik secara stereotipik dan
berulang.
d. Tidak adanya berbagai permainan khayalan atau permainan pura-pura
sosial yang spontan yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
3. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipik,
seperti ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut :
a. Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan
terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.
b. Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual
yang spesifik dan nonfungsional.
c. Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya menjentikkan,
atau memuntirkan tangan atau jari atau gerakan kompleks seluruh
tubuh).
B. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sekurangnya satu bidang berikut
dengan onset sebelum usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial.
2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial.
3. Permainan simbolik atau imaginatif.
C. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Rett atau gangguan
disintegratif masa anak-anak.
Pedoman Diagnostik (PPDGJ III) 11
- Biasanya tidak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika
dijumpai, abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun.
-. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. Ini berbentuk
tidak adanya apresiasi adekuat terhadap isyarat sosio emosional yang tampak
11
sebagai kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi
terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat sosial
dan lemah dalam integrasi perilaku sosial, emosional dan komunikatif; dan
khususnya, kurangnya respon timbal balik sosial emosional.
- Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan sosial dari kemampuan bahasa yang ada; hendaya dalam
permainan imaginatif dan imitasi sosial; buruknya keserasian dan kurangnya
interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya fleksibilitas dalam bahasa
ekspresif dan relatif kurang dalam kreativitas dan fantasi dalam proses pikir;
kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang lain;
hendaya dalam menggunakan variasi irama atau tekanan modulasi komunikatif;
dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan komunikasi
lisan.
- Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
pengulangan dan stereotipik. Ini berbentuk kecendrungan untuk bersikap kaku dan
rutin dalam aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan baru
atau kebiasaan sehari-hari yang rutin dan pola bermain. Terutama sekali dalam
masa kanak, terdapat kelekatan yang aneh terhadap benda yang tak lembut. Anak
dapat memaksa suatu kegiatan rutin seperti upacara dari kegiatan yang sebetulnya
tidak perlu; dapat menjadi preokupasi yang stereotipik dengan perhatian pada
tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik; sering menunjukkan
perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda (seperti bau dan
rasa); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas atau dalam tata
ruang dari lingkungan pribadi (seperti perpindahan dari hiasan dalam rumah).
- Anak autisme sering menunjukkan beberapa masalah yang tak khas seperti
ketakutan/fobia, gangguan tidur dan makan, mengadat (terpertantrum) dan
agresivitas. Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan) sering kali terjadi,
khususnya jika terkait dengan retardasi mental. Kebanyakan individu dengan autis
kurang dalam spontanitas, inisiatif dan kreativitas dalam mengatur waktu luang
dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan konsep untuk menuliskan sesuatu
dalam pekerjaan (meskipun tugas mereka tetap dilaksanakan dengan baik).
12
Abnormalitas perkembangan harus tampak dalam usia 3 tahun untuk dapat
menegakkan diagnosis, tetapi sindrom ini dapat didiagnosis pada semua usia.
Diagnosis Banding
- Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental yang
lebih rendah dan dengan I.Q yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak
autistik.6
Kriteria Gangguan Autistik Skizofrenia dengan onset
masa anak-anak
Usia onset
Insidensi
Rasio jenis kelamin
(L:P)
Riwayat keluarga
skizofrenia
Status sosioekonomi
Penyulit prenatal dan
perinatal dan
disfungsi otak
karakteristik perilaku
fungsi adaptif
Tingkat inteligensi
<36 bulan
2-5 dalam 10.000
3-4:1
Tidak naik atau
kemungkinan tidak naik
Terlalu mewakili kelompok
SSE tinggi (artefak)
Lebih sering pada gangguan
autistic
Gagal untuk
mengembangkan hubungan
: tidak ada bicara (ekolalia);
frasa stereotipik; tidak ada
atau buruknya pemahaman
bahasa; kegigihan atas
kesamaan dan stereotipik.
Biasanya selalu terganggu
Pada sebagian besar kasus
subnormal, sering terganggu
>5 tahun
Tidak diketahui,
kemungkinan sama atau
bahkan lebih jarang
1,67:1
Naik
Lebih sering pada SSE
rendah
Lebih jarang pada
skizofrenia
Halusinasi dan waham,
gangguan pikiran
Pemburukan fungsi
13
Pola I.Q.
Kejang Grand mal
parah (70%)
Jelas tidak rata
4-32%
Dalam rentang normal,
sebagian besar normal
bodoh (15%)
Lebih rata
Tidak ada atau insidensi
rendah
- Retardasi mental dengan gangguan emosional/perilaku
Kira-kira 40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat,
dan anak yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri
autistik.
Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental
adalah :6
1. Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau
anak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2. Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3. Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi
- Gangguan bahasa reseptif /ekspresif campuran
Sekelompok anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspresif memiliki ciri mirip
autistik.6
Kriteria Gangguan autistik Gangguan bahasa
reseptif/ekspresif
campuran
Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000
Ratio jenis kelamin (L:P) 3-4 : 1 sama atau hampir sama
Riwayat keluarga adanya
keterlambatan bicara /
gangguan bahasa
25 % kasus 25 % kasus
Ketulian yang
berhubungan
sangat jarang tidak jarang
Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter Ada
14
(gerak gerik, dll)
Kelainan bahasa
(misalnya ekolalia, frasa
stereotipik diluar
konteks)
lebih sering lebih jarang
Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering
Tingkat intelegensia sering terganggu parah Walaupun mungkin
terganggu, seringkali
kurang parah
Pola test IQ tidak rata, rendah pada
skor verbal, rendah pada
sub test pemahaman
lebih rata, walaupun IQ
verbal lebih rendah dari
IQ kinerja
Perilaku autistik,
gangguan kehuidupan
sosial, aktivitas
stereotipik dan ritualistik
lebih sering dan lebih
parah
tidak ada atau jika ada,
kurang parah
Permainan imaginatif tidak ada/rudimenter biasanya ada
- Afasia didapat dengan kejang
Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit
dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak.
Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan
bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa
bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat
onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas
dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara
yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan
gangguan bahasa residual yang cukup besar.6
- Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah
Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut
sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap
15
bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang
berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal
dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan – 1
tahun. Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial
cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli.
Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang
tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong.6
- Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh)
dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan
bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hampir
selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial
yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.6
PENATALAKSANAAN
Autisme merupakan gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable),
namun bisa diterapi (treatable), maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak
bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal
mungkin sehingga anak tersebut nantinya dapat berbaur dengan anakanak lain
secara normal.5
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :5
a. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
b. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak
saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup,
sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda.
16
e. Terapi yang intensif dan terpadu.
Terapi yang terpadu
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan
intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8 jam
sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu
yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog,
dokter anak, terapis bicara dan pendidik.5
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi
Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman (1998), pemberian obat pada anak harus
didasarkan pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan
ketat terhadap efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa
setiap anak memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat
dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam
pemberian obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.5
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI
(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan keseimbangan
antara neurotransmitter serotonin dan dopamin. Yang diinginkan dalam
pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan
tanpa efek samping.5
Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak
terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi
lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat
dikurangi bahkan dihentikan.5
17
Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan
lambat dan mudah hilang. Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan
kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi
perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri (self mutilation),
temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan
“menyembuhkan” dalam arti mengembalikan anak autisme ke kondisi normal.5
Terapi Wicara
Umumnya hampir semua anak autisme menderita gangguan bicara dan
berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada anak autisme merupakan keharusan.
Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab lain. Anak
yang mengalami hambatan bicara dilatih dengan proses pemberian reinforcement
dan meniru vokalisasi terapis.5
Fisioterapi
Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk
merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh.5
Alternatif terapi lainnya
Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan
anak autisme menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) , yaitu :5
a. Terapi musik
Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alat
musik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri,
termasuk pada anak autisme.
b. Son-rise program
Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan mencintai tanpa syarat
pada anak-anak autistik. Diciptakan oleh orangtua yang anaknya didiagnosa
menderita autisme tetapi karena program latihan dan stimulasi yang intensif dari
orangtua anak dapat berkembang tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik.
18
c. Program Fasilitas Komunikasi
Meskipun sebenarnya bukan bentuk terapi, tetapi program ini merupakan
metode penyediaan dukungan fisik kepada individu dalam mengekspresikan
pikiran atau ide-idenya melalui papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau
komputer.
d. Terapi vitamin
Anak autis mengalami kemajuan yang berarti setelah mengkomsumsi
vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi yang dikombinasikan dengan
magnesium, mineral dan vitamin lainnya.
e. Diet Khusus ( Dietary Intervention)
Keluhan autisme dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah
satunya karena manifestasi alergi. Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan setelah
melakukan eliminasi/diet makanan beberapa gejala autisme tampak membaik
secara bermakna. Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan
saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan
fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan sistem susunan saraf
pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan
tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autisme
melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome.
Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya
disebabkan karena alergi makanan. Salah satu teori yang menjelaskan gangguan
pencernaan berkaitan dengan gangguan otak adalah kekurangan enzim
dipeptidilpeptidase IV (DPP IV) pada gangguan pencernaan ternyata
menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau
neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.2
Prognosis
Prognosis yang lebih baik adalah berkaitan dengan inteligensi yang lebih
tinggi, kemampuan berbicara fungsional dan kurangnya gejala-gejala dan
perilaku aneh. Gejala-gejala sering berubah karena anak-anak tumbuh semakin
tua. Sebagai aturan umum, anak-anak autistik dengan IQ diatas 70 dan mereka
yang menggunakan bahasa komunikatif pada usia 5-7 tahun memliki prognosis
19
yang terbaik.Prognosis membaik jika lingkungan atau rumah adalah suportif dan
mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang sangat banyak.12
20
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh
adanya kelainan atau hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3
tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam tiga bidang interaksi sosial,
komunikasi dan perilaku yang terbatas dan berulang.
2. Angka kejadian gangguan autisme yaitu sekitar 2-5 kasus dalam 100.000
anak (0,02-0,05%) di bawah usia 12 tahun, dimana tiga sampai lima kali
lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
3. Penyebab autisme sampai saat ini belum diketahui secara pasti namun ada
beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor psikodinamika dan
keluarga, kelainan organik-neurologis-biologis, faktor genetika, faktor
imunologis, faktor perinatal, temuan neuroanatomi dan temuan
biokimiawi.
4. Tanda-tanda awal pada pasien autisme berkaitan dengan usia anak, dimana
beberapa gejala yang tampak semakin jelas saat anak berusia 3 tahun yaitu
gangguan dalam komunikasi verbal dan non verbal, interaksi sosial,
perilaku, perasaan/emosi dan persepsi sensoris.
5. Kriteria diagnostik gangguan autisme yaitu ditemukan dua gejala dari
gangguan interaksi sosial dan masing-masing satu gejala dari gangguan
komunikasi dan pola perilaku serta minimal satu keterlambatan atau fungsi
abnormal.
6. Diagnosis banding untuk gangguan autistik adalah skizofrenia dengan
onset masa anak-anak, retardasi mental dengan gejala perilaku, gangguan
bahasa reseptif/ekspresif campuran, ketulian kongenital,dan pemutusan
psikososial.
7. Terapi autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi yang
intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih
baik, dan peran serta orang tua dan melibatkan banyak bidang yaitu bidang
kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang sosial.
21
8. Prognosis gangguan autisme dipengaruhi oleh tingkat intelegensi,
kemampuan berbicara fungsional, ada/tidaknya perilaku aneh dan faktor
lingkungan.
Saran
1. Bagi instansi kesehatan diharapkan dapat mendiagnosis gejala gangguan
autis dengan teliti sehingga gangguan ini dapat dideteksi secara dini dan
dapat segera diberikan intervensi dengan tepat.
2. Diperlukan keterlibatan orang tua dalam proses terapi anak autis seperti
memberikan perhatian yang lebih dan kasih sayang dalam membimbing
dan membesarkan anak autisme.
22
DAFTAR PUSTAKA
1. Ginanjar A. Memahami Spektrum Autistik Secara Holistik.
http://www.putrakembara.org [diakses tanggal 24 Maret 2008].
2. Judarwanto W. Deteksi Dini dan Skrening Autis.
http://www.autime.blogsome.com [diakses tanggal 24 Maret 2008].
3. Autisme. http//www.medlinux.blogspot.com [diakses tanggal 24 Maret 2008].
4. Seminar Autisme. http://www.bpkpenabur.or.id [diakses tanggal 24 Maret
2008].
5. Yusuf EA. Autisme Masa Kanak. http://www.library.usu.ac.id [diakses
tanggal 24 Maret 2008].
6. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Jilid II, Edisi Ketujuh.
Jakarta: Binarupa Aksara, 1997. 712-722.
7. Autisme Pada Anak. http://www.med.unhas.ac.id [diakses tanggal 26 Maret
2008].
8. Autisme. http://www.wikipedia.org. [diakses 23 Maret 2008].
9. Alisjahbana A. Tanda-tanda awal dari Autisme. Dalam : Konferensi Nasional
Autisme I. Jakarta : PDSKJI, IDAI, PERDOSSI. 2003. 28-29.
10. Judarwanto W. Pencegahan Autisme Pada Anak.
http://www.autism.blogsome.com. [diakses 23 Maret 2008].
11. PDSKJI. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia
III, cetakan I. Jakarta : Depkes RI. 1993. 327-330.
12. Dalton R, Forman MA. Psikosis Pada Anak. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak
Edisi 15 Voluma I. Jakarta: EGC. 2000. 121.
© Files of DrsMed – FK UR (http://www.Files-of-DrsMed.tk

One thought on “Autisme dan Penatalaksanaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s