Memahami prasangka

Memahami prasangka

prejudPernahkah suatu kali ketika jalan-jalan, anda bertemu dengan seseorang yang brewokan, rambut panjang kusut masai, berpakaian kumal, dan juga berkumis tebal? Apakah anda merasa was-was, dan menduga bahwa orang itu bukan orang baik-baik? Jika ya, maka anda telah berprasangka.

Pada saat tetangga susah, datang seseorang yang berbeda agama dengan tetangga anda itu, dan berniat menolongnya. Kebetulan agama anda sama dengan tetangga anda. Apa yang anda rasakan? Apakah anda curiga bahwa seseorang itu akan mempengaruhi tetangga anda untuk berpindah agama? Jika ya, sekali lagi anda telah berprasangka. Begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa kita prasangkai. Pendek kata, prasangka adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Lalu apakah sebenarnya prasangka itu?

Prasangka adalah sikap terhadap orang  lain semata-mata karena orang itu dianggap anggota kelompok tertentu. Adapun keanggotaan dalam sebuah kelompok tidak bisa diartikan secara konvensional. Kelompok bisa berupa apapun. Tidak hanya geng, pertemanan, organisasi pertetanggaan, etnik dan semacam itu. Tidak juga harus memiliki kartu keanggotaan. Kelompok bisa berarti gaya hidup yang sama, hobi yang sama, cara berpakaian yang sama, pekerjaan yang sama, kelas sosial yang sama, sampai jenis kelamin yang sama. Misalnya Bondan diprasangkai berandalan karena rambut dipotong alamohawk dan memakai anting di kedua telinga. Ia diprasangkai berandal karena dianggap sebagai anggota geng berandalan yang berciri khas gaya rambut mohawk dan memakai anting di telinga. Padahal Bondan sama sekali tidak ikut geng apapun. Gaya rambut mohawk dan anting sekedar untuk bergaya saja.

Sebuah kelompok bisa tercipta sangat mudah. Ciri-ciri yang dilekatkan pada kelompok itupun bisa tidak ada dalam realita alias tidak benar. Misalnya, sebelum ada pemboman di Bali, orang tidak menilai adanya kelompok orang berjanggut. Tapi setelah pemberitaan besar-besaran di media, bahwa yang melakukan pemboman adalah orang berjanggut, maka orang kemudian mengelompokkan pria berjanggut sebagai kelompok tersendiri. Jika dulu tidak ada asosiasi antara pria berjanggut dengan teror bom, maka lalu mereka yang berjanggut diasosiasikan dengan teror bom. Mereka yang berjanggut diprasangkai memiliki itikad buruk untuk meneror. Padahal, mereka yang berjanggut sangat boleh jadi adalah penentang utama pemboman. Jika anda mencurigai para pria berjanggut punya itikad meneror, maka anda berprasangka. Pendek kata, prasangka juga bisa diartikan sebagai sikap terhadap orang lain berdasarkan fakta yang tidak benar.

Prasangka bisa positif bisa negatif. Prasangka anda merupakan prasangka positif jika mengira mereka yang ikut pengajian agama adalah orang baik semua. Demikian juga saat anda curiga bahwa amplop sumbangan uang sangat besar tanpa nama yang anda terima saat anda tertimpa musibah, adalah berasal dari tetangga anda. Prasangka terhadap dokter juga prasangka positif. Buktinya anda membolehkan sang dokter untuk memberikan suntikan pada anda. Apakah anda tidak curiga kalau sang dokter akan memberikan suntikan maut pada anda? Anda toh berprasangka bahwa sang dokter akan mengobati anda karena sebagai dokter, sudah merupakan tugasnya mengobati orang. Jika anda berprasangka negatif, anda tidak akan mau disuntik bukan?!

Anda akan disebut memiliki prasangka negatif jika isi prasangka anda terhadap orang lain sesuatu yang negatif. Misalnya karena tamu anda beragama lain, maka anda berprasangka bahwa sang tamu akan mengajak anda berpindah agama. Lalu misalnya karena seseorang berbeda jenis kelamin dengan anda, maka anda curiga kalau seseorang itu akan  merayu anda melakukan dosa. Prasangka negatif adalah prasangka yang paling banyak dikaji dan dibicarakan karena memiliki efek merusak dalam kehidupan manusia.

discrKomponen yang ada dalam prasangka

Kita tahu bahwa prasangka adalah sebuah sikap. Nah, sebagai sebuah sikap, sebagaimana jenis sikap yang lain, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap. Ketiganya yaitu perasaan (feeling), kecenderungan untuk melakukan tindakan (Behavioral tendention), dan adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek prasangka (beliefs). Tiga komponen tersebut selalu ada dalam sebuah prasangka.

Perasaan yang dimiliki seseorang yang berprasangka tergantung pada apakah ia berprasangka positif atau negatif. Mereka yang berprasangka positif juga memiliki perasaan yang positif. Misalnya perasaan yang muncul pada seorang dokter yang anda percayai tentunya perasaan yang positif, sekurang-kurangnya netral. Akan tetapi, karena umumnya prasangka adalah negatif, maka pada umumnya perasaan yang terkandung dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci. Pada saat anda berprasangka pada pemeluk seseorang, apa perasaan anda?

Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing, dan berbagai tindakan negatif lainnya. Misalnya jika anda berprasangka pada orang lain agama akan mengindoktrinasi anda agar pindah agama, maka mungkin anda akan menolaknya ketika ia datang bertamu, menolak bantuan darinya atau bisa jadi anda juga menyebarkan gosip jelek tentangnya. Kalaupun anda belum melakukan apa-apa, maka kecenderungan untuk melakukan sesuatu tetap ada. Coba anda ingat-ingat, kecenderungan tindakan apa yang anda ingin lakukan pada saat anda berprasangka.

Pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai. Misalnya anda berprasangka pada waria, maka anda mesti memiliki pengetahuan yang diyakini  benar mengenai waria, terlepas pengetahuan itu sesungguhnya benar atau tidak. Misalnya, yakin bahwa waria adalah korban kutukan, percaya bahwa waria melakukan seks bebas dan semacamnya. Sebagian merupakan stereotip belaka. Namun begitu, adakalanya informasi tentang objek yang diprasangkai memang benar.

Jadi, jika anda berprasangka, maka tiga hal di atas akan anda alami. Misalnya anda berprasangka pada seorang janda kembang tetangga anda. Anda menaruh khawatir padanya akan mengganggu suami-suami orang di lingkungan anda. Apa perasaan anda? Mungkin anda tidak suka padanya. Apa tindakan yang cenderung anda lakukan? Mungkin anda menghindari bertemu atau mengobrol dengannya, atau menggosipkan dia. Terakhir apa yang anda yakini tentangnya? Mungkin anda yakin bahwa janda muda pasti penggoda, janda pasti butuh uang sehingga menggoda suami orang, atau janda muda masih sangat memerlukan seks, sehingga menggoda adalah sewajarnya dilakukan oeh sang janda.

 

duckApakah beda prasangka dan curiga?

Anda mungkin sedikit bingung kapan sesuatu disebut prasangka dan kapan sesuatu disebut curiga karena keduanya identik. Begini, prasangka adalah sikap yang muncul karena keanggotaan seseorang dalam kelompok tertentu semata-mata. Sikapnya bisa negatif maupun positif. Curiga, adalah sikap yang muncul karena merasa ada yang tidak beres atau tidak benar pada diri seseorang. Tentu saja curiga hanya bersifat negatif. Selain itu curiga tidak hanya muncul karena seseorang merupakan anggota kelompok tertentu. Bisa saja curiga muncul karena faktor-faktor lain, seperti kecenderungan perilaku, kepibadian, dan lainnya. Jika anda memiliki teman yang berbeda etnik dengan anda, lantas anda merasa ada yang tidak beres dengan teman anda itu karena bertingkah aneh. Maka bila anda tidak pernah mengaitkan dengan etnisitasnya, maka anda curiga, bukan prasangka.

Biasanya, curiga muncul setelah ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Misalnya tingkah laku yang aneh dan tidak biasa atau adanya kejanggalan. Sedangkan prasangka terjadi lebih spontan. Tanpa sempat memikirkannya, anda akan langsung berprasangka begitu saja

Apakah stereotip sebagai dasar prasangka?

Apa yang anda ingat tentang orang Minang? Mungkin pintar berdagang. Apa yang anda ingat tentang mahasiswa perguruan tinggi ternama? Mungkin, pintar. Apa yang anda ingat tentang anak jalanan? Mungkin, tanpa aturan. Apa yang anda ingat tentang orang Jawa? Mungkin, santun dan penurut. Nah, pintar berdagang, pintar, tanpa aturan serta santun dan penurut dalam konteks di atas, adalah stereotip, yakni ciri-ciri yang dilekatkan pada kelompok tertentu. Secara umum stereotip memiliki arti keyakinan mengenai ciri, sifat, dan perilaku anggota kelompok tertentu.

Apakah stereotip benar? Tentu saja stereotip bisa benar, namun bisa juga salah. Stereotip adalah generalisasi kesan. Ciri beberapa orang dalam kelompok dianggap sebagai ciri keseluruhan orang-orang dalam kelompok itu. Misalnya stereotip etnis Jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis Jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis Jawa yang suka berterus terang. Lalu jika anda memiliki stereotip mahasiswa perguruan tinggi ternama pintar, mungkin tidak seluruhnya benar, karena meskipun umumnya pintar, tapi ada juga yang kurang pintar.

Stereotip biasanya muncul pada orang yang tidak benar-benar mengenal kelompok yang dilekati stereotip. Apakah anda benar-benar mengenal orang Cina, padahal anda memiliki stereotip pelit terhadap mereka? Apakah anda benar-benar mengenal orang Madura, sehingga anda memiliki stereotip agresif pada mereka? Stereotip bahkan bisa diwariskan dari generasi ke generasi tanpa adanya kontak dengan objek stereotip karena stereotip bisa ditimbulkan, diperkuat dan diwariskan melalui media massa, film, obrolan sehari-hari, dan lainnya. Sangat boleh jadi, seseorang yang belum pernah bertemu sama sekali dengan orang arab, masih tetap memiliki stereotip tentang orang arab. Misalnya mereka memiliki nafsu seksual yang besar. Darimana stereotip yang dimiliki berasal? Mungkin dari film, buku-buku, majalah, koran, atau dari obrolan sehari-hari yang didengar.

Dibalik stereotip yang kita lekatkan pada kelompok tertentu, tergantung harapan peran yang akan dilakukan anggota kelompok tersebut pada kita. Misalnya, karena kita memiliki stereotip orang Minang pintar berdagang, maka mereka yang orang Minang diharapkan menunjukkan kepintarannya dalam berdagang, lebih dari orang lain. Lalu kalau kita memiliki stereotip orang Jawa sopan, maka kitapun berharap bahwa setiap orang Jawa yang kita temui memiliki sifat sopan. Melalui stereotip pula kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis Jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka  kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis Jawa kepada kita.

Stereotip mendasari terbentuknya prasangka. Dasar informasi yang diyakini benar tentang objek yang diprasangkai, biasanya merupakan stereotip. Misalnya anda percaya bahwa orang beragama lain yang berniat membantu pasti tidak tulus. Mereka membantu karena bermaksud menyebarkan agama. Nah, keyakinan itu adalah stereotip. Tentu saja stereotip itu tidak benar, karena tidak semua yang membantu tidak tulus hatinya. Lalu pada saat anda tahu ada seorang yang beragama lain membantu anda, maka anda menyimpan prasangka padanya.

Bagaimana jarak sosial antara orang berprasangka?

Seberapa dekat hubungan yang anda rasakan pada seseorang yang anda prasangkai? Pasti, anda tidak merasa dekat. Anda akan merasa lebih dekat dengan mereka yang tidak anda prasangkai. Lalu apakah anda memiliki keinginan kuat untuk memiliki hubungan yang akrab dengan yang anda prasangkai? Sudah tentu tidak. Anda tidak ingin melakukannya. Nah, antara anda dan yang anda prasangkai terdapat jarak sosial yang jauh.

Jarak sosial adalah suatu jarak psikologis yang terdapat diantara dua orang atau lebih yang berpengaruh terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab.  Jika anda merasa cukup dekat dengan kekasih anda, yang sudah semestinya, maka anda memiliki jarak sosial yang dekat. Sedangkan bila anda enggan melakukan kontak sosial dengan seseorang, maka berarti anda memiliki jarak sosial yang jauh dengannya. Coba anda ingat-ingat, mungkin anda sering bertemu dengan orang yang enggan anda temui, alih-alih ingin menjalin hubungan dengan akrab. Nah, pada orang-orang itu, sudah pasti jarak sosial anda tidak dekat.

Bagaimana mendeteksi jauh dekatnya jarak sosial yang dimiliki? Bayangkan seseorang yang jarak sosialnya dengan anda akan dideteksi. Bayangkan apakah anda memiliki keinginan-keinginan berikut; 1) keinginan untuk saling berbagi dengannya, 2) keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan dengannya, 3) keinginan untuk bekerja bersama, 4) keinginan yang berhubungan dengan pernikahan bersamanya. Jika tidak ada satupun keinginan itu ada, maka jarak sosial yang anda miliki cukup jauh.

Prasangka umumnya lahir dalam kondisi dimana jarak sosial yang ada diantara berbagai kelompok cukup rendah. Apabila dua etnis dalam suatu wilayah tidak berbaur secara akrab, maka kemungkinan terdapat prasangka dalam wilayah tersebut cukup besar. Demikian juga jika antara pemeluk agama tidak bergaul cukup akrab, maka prasangka antar pemeluk agama akan cukup besar.

Prasangka juga melahirkan adanya jarak sosial. Semakin besar prasangka yang timbul maka semakin besar jarak sosial yang terjadi. Anda tentu tidak ingin berakrab ria dengan mereka yang anda prasangkai. Jadi antara prasangka dan jarak sosial terjadi lingkaran setan. Jarak sosial melahirkan prasangka, dan prasangka melahirkan jarak sosial, begitu seterusnya.

Salah satu contoh masih adanya jarak sosial yang tinggi antar kelompok adalah masih mudah ditemui adanya keengganan orangtua bila anak-anaknya menikah dengan orang yang berbeda kelompok, misalnya berbeda kelompok etnik. Masih mudah pula ditemui orangtua yang membatasi pilihan anak-anaknya hanya boleh menikah dengan etnis sendiri atau beberapa etnis tertentu saja, sementara beberapa etnis yang lain dilarang. Kenyataan seperti itu merupakan cerminan dari adanya prasangka antar etnik. Saya pernah mendengar secara langsung ada petuah orang tua pada anaknya laki-laki, yang kebetulan etnis Jawa, untuk tidak mencari jodoh etnis Dayak, etnis Minang, dan etnis Sunda. Di luar ketiga etnis itu dipersilahkan, tetapi lebih disukai apabila sesama etnis Jawa.

Tidak jarang, ada orangtua yang melarang anak lelakinya untuk menjalin hubungan dengan gadis yang bekerja di tempat hiburan malam, atau sebaliknya. Mereka berprasangka bahwa orang-orang yang bekerja pada malam hari, di tempat hiburan pula, pastilah bukan orang baik-baik. Hal ini berarti bahwa adanya prasangka terhadap orang-orang yang bekerja malam hari di tempat hiburan menimbulkan jarak sosial kepada mereka.

 

discrooApakah diskriminasi selalu ada dalam prasangka?

Tidak selalu ada diskriminasi dalam prasangka. Boleh jadi mereka yang berprasangka tidak melakukan diskriminasi apapun. Namun, diskriminasi yang terjadi, bisa menjadi penanda adanya prasangka. Selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu  menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut. Coba anda ingat-ingat, bukankah pada saat berprasangka maka anda cenderung ingin mendiskriminasikan yang anda prasangkai?

Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok. Misalnya banyak perusahaan yang menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu. Lalu ada organisasi yang hanya mau menerima anggota dari etnik tertentu saja meskipun jelas-jelas organisasi itu sebagai organisasi publik yang terbuka untuk umum. Contoh paling terkenal dan ekstrim dalam kasus diskriminasi etnik dan ras terjadi di Afrika Selatan pada tahun 80-an. Politik aphartheid yang dijalankan pemerintah Afrika Selatan membatasi akses kulit hitam  dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Diskriminisi ras itu dikukuhkan secara legal melalui berbagai peraturan yang sangat diskriminatif terhadap kulit hitam. Misalnya anak-anak kulit hitam tidak boleh bersekolah di sekolah untuk kulit putih, kulit hitam tidak boleh berada di tempat-tempat tertentu seperti hotel, restoran dan tempat publik lainnya. Kulit hitam juga tidak boleh naik kendaraan umum untuk kulit putih, dan bahkan tidak boleh memasuki wilayah pemukiman kulit putih.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Alo Liliweri pada tahun 1994 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, berhasil menemukan adanya diskriminasi etnik di sana. Perumahan, asrama, penginapan ada yang khusus diperuntukkan bagi etnik tertentu saja. Di sana, etnik-etnik tertentu terkonsentrasi di pemukiman tertentu dan memiliki konsentrasi pada jenis pekerjaan, unit dan satuan kerja tertentu. Sebagai misal, mayoritas pegawai kantor gubernur adalah orang Flores, sedangkan di Universitas Cendana mayoritas pegawainya orang Rote dan Sabu. Akan sulit orang Flores masuk menjadi pegawai di Universitas Cendana, demikian juga sebaliknya. Pertanyaannya, apakah ada prasangka antar etnik di sana? Sangat mungkin ada.

Oleh:psikologi-online.comTanggal:09/07/2009
21:22Kategori:Etnik & Prasangka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s