Ajak Menyanyi Saja

Ajak Menyanyi Saja

author : Lily Wibisono
Saturday, 21 May 2011 – 01:39 pm

Belakangan ramai diangkat isu hilangnya Pancasila dari kurikulum nasional. “Ajarkan kembali Pancsila untuk menanamkan rasa kebangsaan, yang sekarang tampak lemah,” begitu kira-kira suara yang keras terdengar. Itu mengingatkan saya pada pengalaman bertahun-tahun lalu.

Suatu hari iseng-iseng saya meminta anak saya yang waktu itu siswa SD untuk menyanyikan lagu “Dari Sabang sampai Merauke”. Serta-merta dengan ekspresi pe-de banget, mulut mungilnya langsung melantunkan tembang yang diawali dengan “Dari Sabang sampai Merauke”. Tapi nadanya tidak seperti yang saya harapkan dari tembang wajib nasional hasil gubahan R. Suharjo itu.  Sejenak kemudian, senyum saya mengambang lebar. Ternyata ia menyanyikan jingle iklan mi instan yang waktu itu setiap sore muncul di TV. “Lagu wajib” bagi para penggemar mi instan yang memang sudah me-nasional. Sebuah bukti nyata bahwa lagu wajib (yang mestinya “wajib” dikuasai siswa), “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah TOP Brand di benak anak saya. Posisinya digantikan oleh sebuah jingle iklan.

Padahal lagu-lagu wajib nasional, ada yang semakin dihayati semakin indah, tak beda dengan karya klasik. Mari lantunkan salah satu karya Ibu Sud berjudul “Tanah Airku” ini: [bait 1] Tanah airku tidak kulupakan/Kan terkenang selama hidupku/Biarpun saya pergi jauh/Tidak kan hilang dari kalbu/Tanahku yang kucintai/Engkau kuhargai. [bait 2] Walaupun banyak negri kujalani/Yang masyhur permai dikata orang/Tetapi kampung dan rumahku/Di sanalah kurasa senang//Tanahku tak kulupakan /Engkau kubanggakan.”

Lewat nada sederhana, Ibu Sud membawa kita pada keindahan negeri yang menjadi tanah airnya. Kalau Anda menyanyikannya setelah menonton tayangan berita nasional di TV, pejamkan mata dan Anda akan serasa terangkat ke negeri antah-berantah, yang pasti bukan Indonesia. Tempat penuh kedamaian yang memberi kita ketenangan. Lagu Tanah Airku itu mengingatkan kembali kita pada cinta. Cinta kepada tanah di mana kita dilahirkan.

Komponis besar Ismail Marzuki amat piawai menenun nada, irama dan lirik yang memberikan imaji kuat dalam tembang-tembang yang memuja tanah air. Coba dendangkan refrain dari “Indonesia Pusaka” ini: “Di sana tempat lahir beta/Dibuai dibesarkan bunda/Tempat berlindung di hari tua/Tempat akhir menutup mata.”

Ada imaji berbeda saat kita berpikir tentang “negara” dan “tanah air”. Negara mengingatkan kita pada fakta-fakta keras tentang sebuah wilayah yang diatur oleh pemerintah. Lalu berkelebatlah segala macam urusan dan berita terkait dengan pemerintah, baik tingkat nasional atau kelurahan. Tapi ketika kita bicara tentang tanah air, yang terlintas adalah sawah ladang, senyum pedagang di pasar, tukang ojek yang suka antar jemput kita, aroma harumnya mi baso di lapangan, atau nas-gor langganan kita, atau teman-teman main futsal di lapangan RW dekat rumah, bahkan es cendol, gado-gado dan siomai. Itu bukan Indonesia yang diberitakan di media, tetapi Indonesia-“ku”, yang “ku”alami setiap hari. Itulah Tanah Air yang “ku”rindukan bila “aku” berada jauh.

Lagu-lagu daerah kita pun sebenarnya sumber pendidikan kebangsaan yang amat potensial. Tak hanya dalam kumpulan buku, di internet dapat amat mudah kita mengunduhnya. Berbeda dengan anak zaman jadul yang harus menyalin catatan guru, yang ditulis dengan kapur di papan tulis dan bikin jarinya belepotan, lalu baru belajar menyanyikannya dengan meniru guru. Namun di tengah persaingan global, lagu-lagu daerah yang tak diketahui maknanya, jelas saja tenggelam digasak derasnya arus lagu pop Justin Bieber dan band-band nasional yang bejibun. Padahal bila lagu-lagu itu diajarkan bersama terjemahan dan konteks budayanya, niscaya akan dapat ditemukan maknanya dalam keseharian anak-anak. Menjadikannya sebagai sebuah “experience“, teknik marketing yang kini banyak dipakai.

Anak-anak tidak akan hanya mempelajarinya sebagai pengetahuan belaka, tetapi mereka diberi kesempatan untuk menghayatinya dan menikmatinya. Merasakan gembiranya ketika menyanyi “Lissoi” atau “Kicir-kicir”, dan menghayati sendunya “Bubuy Bulan” atau “O Ina Ni Keke”. Jendela ke budaya tetangga. Maka lagu wajib nasional dan lagu daerah tidak hanya dipelajari ketika akan ada pengambilan nilai seni. Pelajaran menyanyi tidak akan dianggap menghabiskan waktu, tetapi merupakan kesatuan dengan pendidikan cinta tanah air dan kebangsaan.

Sayang sekali bila bakat besar bangsa kita dalam seni dan budaya tidak dimanfaatkan untuk menajamkan juga rasa cinta tanah airnya. Bahkan dengan pilihan lagu yang tepat, kelima sila Pancasila itu dapat diajarkan lewat seni dan budaya, tanpa anak merasa sedang dicekoki pelajaran yang membosankan.

Sudah saatnya kita tak terpaku dan terpesona pada prestasi akademik saja. Menciptakan manusia Indonesia yang pandai tentu harus, tetapi kalau bisa tentu juga yang punya cinta kepada tanah air dan bangsa. Supaya semakin banyak anak-anak yang tumbuh menjadi penyelamat (dan bukan parasit) bangsa. Tidak sulit kok. Buktinya, Briptu Norman saja begitu gampang membuat sekian juta orang Indonesia jatuh hati. Daripada dahi terus berkerut, yuk, menyanyi saja …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s