Ragam jenis prasangka

prasKita tahu bahwa prasangka adalah sikap kita terhadap orang lain semata-mata karena keanggotaannya dalam sebuah kelompok. Oleh karenanya, ragam prasangka yang ada, mestinya sebanyak kelompok yang ada. Karena jumlah kelompok yang ada sangatlah banyak, maka sangat banyak pula ragam prasangkanya. Oleh karena itu tidak mungkin untuk mendaftar di sini ragam jenis prasangka yang ada secara lengkap. Namun demikian, beragam jenis prasangka bisa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok besar, seperti prasangka etnik, prasangka ras, prasangka agama, prasangka seks dan seterusnya.

Pada artikel ini, kita hanya akan membicarakan ragam jenis prasangka yang paling sering muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab, membicarakan ragam jenis prasangka  yang ada di luar konteks kehidupan kita sehari-hari akan menjadi kurang relevan. Beberapa ragam jenis prasangka yang akan kita bicarakan adalah tentang prasangka etnik, prasangka seks & gender, prasangka agama, prasangka politik, prasangka kelas sosial, dan prasangka terhadap kaum difabel.

Prasangka etnik

Saat ini Indonesia merupakan negara dengan lebih dari 500 etnik. Namun demikian tidak lebih dari 20 etnik yang memiliki anggota cukup besar. Sebagian besar hanya memiliki anggota yang relatif kecil. Berturut-berturut dari yang paling banyak anggotanya adalah etnik Jawa (±  47%), etnik Sunda (± 16%), etnik Madura (± 7%), etnik Minangkabau (± 3,36%), etnik Bugis (± 3%), etnik Tionghoa (± 2,8 %), etnik Batak (± 2%), etnik Bali (± 1,88%) dan seterusnya. Artinya, masyarakat Indonesia, termasuk anda, semestinya terbiasa dengan perbedaan etnik. Oleh karenanya pula, mungkin terbiasa mengalami prasangka etnik.

peopleeeePrasangka etnik di dalam suatu masyarakat bisa dilihat melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang di masyarakat. Stereotip-stereotip negatif yang dilekatkan pada etnik tertentu merupakan wujud dari adanya prasangka karena stereotip yang menjadi dasar prasangka. Sebagai contoh, stereotip etnis Jawa oleh etnis Cina adalah aji mumpung, santai dan lamban, serta munafik. Etnis Jawa dianggap poligamis dan sering kawin cerai. Stereotip etnis Madura di Kalimantan diantaranya bertemperamen keras dan kasar, arogan, keras, mudah tersinggung, angkuh, pendendam, suka carok karena balas dendam. Stereotip Dayak diantaranya percaya pada hal-hal gaib dan kurang kepercayaan diri. Stereotip Bugis memiliki sikap keras, solidaritas tinggi, dan suka melibatkan diri dalam konflik dalam membela keluarga dan kerabat. Stereotip Minang adalah pedagang, perantau, ulet, dan licik. Stereotip etnik Batak keras, kasar, penggertak, dan lainnya.

Penulis pernah tinggal di kota Jember selama setahun, banyak pengalaman menarik mengenai stereotip etnik ditemukan di sana. Jember adalah sebuah kota kecil yang berpenduduk etnis Jawa dan Madura. Di kota Jember sendiri, mayoritas penduduk menggunakan bahasa Madura, meskipun pada umumnya mereka juga menguasai bahasa Jawa. Artinya bahasa Jawa dan bahasa Madura dipergunakan sebagai bahasa pengantar bersama-sama. Namun meski demikian, stereotip etnik ternyata masih ada diantara kedua etnik tersebut. Hampir tidak berbeda dengan stereotip orang Madura di Kalimantan, orang Madura di Jember juga memiliki stereotip negatif keras, mudah tersinggung, arogan, dan mau menang sendiri. Sementara stereotip negatif  etnis Jawa adalah pemalas dan suka menjilat. Dan stereotip orang Sumatera (yang diwakili profil mahasiswa dari Sumatera di Jember) adalah tidak tahu sopan santun, berterus terang, dan sombong.

Sepanjang yang saya ingat, di Jember pula saya mendengar prasangka yang dialamatkan pada Masyarakat Osing di Banyuwangi, terutama untuk kaum mudanya. Dari cerita-cerita yang beredar diantara mahasiswa di kota Jember, masyarakat Osing memiliki suatu ilmu ‘pengasihan’ semacam pelet asmara yang ampuh. Siapapun yang terkena ‘aji pengasihan’ itu sudah dipastikan akan jatuh cinta kepada yang memberi ‘aji pengasihan’ tersebut. Strategi ini kerap digunakan kaum muda masyarakat Osing untuk memikat seseorang yang disukainya jika cara konvensional gagal. Hal itu biasanya juga didorong oleh orangtua agar anaknya lekas mendapat jodoh. Terlepas dari benar tidaknya gambaran itu, efeknya sangat jelas. Umumnya mereka yang hendak pergi ke daerah Masyarakat Osing melengkapi diri dengan berbagai ‘azimat’ agar tidak terkena “aji pengasihan’. Mereka, para mahasiswa, juga enggan untuk dekat dengan mahasiswa dari masyarakat Osing. Namun bagi yang sedikit nakal, mereka memanfaatkan teman dari Osing untuk mencarikan pengasihan buat mereka sendiri. Jadi, prasangka akan dikenai ‘aji pengasihan’ menjadi sebab mereka enggan berakrab ria dengan masyarakat Osing.

Untuk menggambarkan stereotip sebagai manifestasi dari adanya prasangka etnik di suatu daerah, saya akan menggunakan contoh sebuah daerah dimana saya berasal yakni Mukomuko, Bengkulu. Mukomuko merupakan wilayah yang terbuka terhadap pendatang, bahkan disinyalir lebih dari 60% penduduk Mukomuko saat ini adalah pendatang yang berada di Mukomuko kurang dari 20 tahun, baik perpindahan karena program transmigrasi maupun perpindahan biasa. Karenanya tidak mengherankan bila wilayah ini cukup plural. Berbagai etnik ada di wilayah ini, mulai dari etnik Batak dengan berbagai marga, etnik Bali, etnik Jawa, etnik Sunda, etnik Madura, etnik Minangkabau dan warga asli yang lebih dekat dikategorikn sebagai etnik Minangkabau atau Melayu. Saat ini Mukomuko telah menjadi kabupaten tersendiri yang mencakup beberapa Kecamatan. Untuk memfokuskan perhatian, kita hanya akan melihat fenomena di tiga kecamatan, yakni kecamatan Teras Terunjam, kecamatan  Lubuk Pinang, dan kecamatan Mukomuko yang dulu tergabung ke dalam kecamatan Mukomuko Utara.

Di daerah Teras Terunjam, Mukomuko, dan Lubuk Pinang, etnis Jawa masih banyak yang menyebut warga asli dengan “Wong Mbilung”, yang bermakna orang yang tidak tahu aturan.  Hal itu menggambarkan bahwa etnis Jawa merasa memiliki harkat yang lebih tinggi, setidaknya memiliki tata-krama dan tata nilai yang lebih luhur. Dalam kacamata kosmologi Jawa, perilaku warga asli yang cenderung lebih bebas dan terbuka baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak memang seringkali terasa keluar dari aturan, tidak sopan, dan terbelakang. Tapi kalau melihat dari kosmologi setempat, hal itu masih dalam tata aturan.

Secara khusus, seorang etnis Jawa, dan kemudian dikuatkan oleh pernyataan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa dalam berdagang, etnis asli suka main kayu atau curang. Jadi harus berhati-hati bila berbisnis dengan mereka. Demikian juga bila ada urusan apapun sebaiknya berhati-hati karena warga asli kurang bisa dipercaya. Ada juga satu cerita yang sedikit mengerikan mengenai warga asli, yakni cerita tentang racun. Menurut cerita dari beberapa orang etnis Jawa yang saya temui, mereka selalu berhati-hati menerima suguhan minuman dari warga asli karena kadangkala minuman itu dicampur racun apabila sang tuan rumah kurang senang dengan sang tamu. Dari pernyataan itu, jelaslah terdapat adanya prasangka terhadap warga asli oleh etnis Jawa.

“Orang Jawa itu pekerja keras, pintar, dan sopan, akan tetapi ia tidak bisa diberi hati sedikit saja” demikian ucap salah seorang tokoh terkemuka di Mukomuko. Maksud perkataannya adalah bila orang Jawa di beri berbagai kesempatan yang luas, dibiarkan terlalu dekat, maka ia bisa jadi akan ‘nglunjak” atau meminta kompensasi yang jauh lebih luas lagi. Artinya mungkin saja orang Jawa akan menikam dari belakang.  Hal itu digambarkan dengan sangat jelas melalui peribahasa “kecil disayang-sayang, besar menikam dari belakang”.

Pernyataan sang tokoh  di atas menggambarkan adanya sikap hati-hati terhadap etnis Jawa, justru karena penilaian bahwa etnis Jawa pintar. Tokoh tadi berargumen bahwa ketidakterusterangan orang Jawa seringkali tidak mampu dipahami oleh mereka. Sehingga mereka hanya bisa menangkap apa yang memang dinyatakan orang Jawa. Tapi sementara itu, di sisi lain, orang Jawa justru bisa berbuat lain dari yang diungkapkan sebagaimana yang dipahami mereka. Pernyataan tokoh tadi juga menyiratkan adanya suatu kekhawatiran yang mendalam mengenai keberlangsungan kehidupan warga asli karena akan didesak oleh kehadiran orang Jawa (pendatang). Pengakuan bahwa orang Jawa pintar sekaligus dirasakan sebagai ancaman terhadap posisi warga asli, baik kehidupan ekonomis, kultural maupun politis. Bagi masyarakat awam, kekhawatiran itu mewujud ke dalam adanya prasangka terhadap etnis pendatang. Oleh karenanya tidak mengherankan bila etnis pendatang cenderung ditolak bila menduduki jabatan strategis. Apalagi ternyata di sekolah-sekolah yang muridnya campuran berbagai etnis, faktual, mereka yang masuk kategori juara berasal dari warga pendatang. Saya ingat betul, di SMU Negeri satu-satunya di kecamatan Lubuk Pinang (pada tahun 2000), hampir tidak ada satupun warga asli yang bisa menduduki juara. Alasan yang selalu dipakai pelajar warga asli kepada orangtuanya untuk menjelaskan prestasinya yang pas-pasan biasanya berkisar pada pernyataan seperti “Orang Jawa (pendatang) pintar-pintar, saya bisa dapat rangking saja sudah untung”.

Sebagai catatan, warga asli umumnya tidak membedakan etnis-etnis diantara warga pendatang. Semua yang berasal dari Jawa, akan disebut orang Jawa meskipun mungkin ia etnis Madura, etnis Sunda, atau Jawa asli. Akan tetapi warga pendatang biasanya mengkategorikan sesama warga pendatang berdasarkan etnisnya. Oleh karena itu ada stereotip etnis Madura, etnis Jawa, etnis Sunda, etnis Bali oleh etnis lainnya. Misalnya etnis Sunda digambarkan sebagai etnis yang suka kawin cerai. Perempuan etnis Sunda dianggap perempuan ‘gampangan’, artinya mudah diajak laki-laki. Etnis Bali digambarkan sebagai etnis yang keras hati dan kasar. Etnis Madura digambarkan mudah tersinggung dan temperamental serta mau menang sendiri. Etnis Jawa digambarkan bermuka dua dan suka menjilat.

Masih di daerah Bengkulu, ada terdapat etnik Rejang yang juga dilekati stereotip negatif. Etnis Rejang dinilai temperamental, suka main ‘tujah’ (menusuk dengan senjata kecil semacam badik), dan  suka mencari kesempatan dalam kesempitan orang. Bahkan menurut cerita seorang teman, di daerah Bengkulu Selatan masih ada pertentangan antara warga Manna dengan orang Rejang. Teman saya mengaku bahwa orangtuanya memperbolehkan untuk menikah dengan orang dari manapun terkecuali dengan orang Rejang. Menurut teman saya, orang Rejang begitu pula terhadap kelompok teman saya itu.

peoplllllAda seorang kawan yang orangtuanya etnis Jawa baru menikah setelah umurnya lebih dari 30 tahun karena selalu gagal mendapat restu orang tua. Apa pasal? Ternyata orang tuanya tidak setuju kalau teman saya menikah dengan perempuan Minang. Ironisnya, teman saya selalu jatuh cinta dan punya pacar orang Minang karena ia memang tinggal dan bekerja di kota Padang. Pernah saya bertemu dengan orang tua teman saya itu dan berbincang-bincang. Mereka bilang bahwa kalau menikah dengan perempuan Minang, mereka takut akan kehilangan anaknya. Menurut mereka, teman saya akan dikuasai sang istri dan akan lupa dengan keluarganya sendiri. Semua harta benda yang diperoleh nantinya akan jadi hak istri, dan teman saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau nantinya ada masalah dan bercerai, teman saya akan pergi hanya membawa kain di badan saja. Mereka juga bercerita kalau perempuan Minang memiliki ilmu yang bernama ‘cirik berendang’ yang bisa membuat laki-laki setelah menikah tunduk padanya. Mereka tidak rela anaknya akan jadi abdi bagi istrinya kelak.  Tapi toh akhirnya teman saya menikah dengan orang Minang karena orang tuanya merasa anaknya sudah terlalu terlambat untuk menikah sedangkan calon yang dikenalkan selalu orang Minang. Mereka pada akhirnya menyerah dengan keputusan teman saya. Itupun, kalau tidak salah, setelah pacar keenam atau ketujuh yang dikenalkan.

Dari cerita orangtua teman saya di atas, jelas sekali kalau mereka berprasangka terhadap orang Minang. Cerita negatif itu saya dengar setahun sebelum teman saya menikah. Ketika saya bertemu lagi dengan orang tua teman setahun setelah pernikahan, pendapat mereka tentang orang Minang sudah sama sekali berubah. Rupanya setelah bergaul lebih akrab dengan menantunya yang orang Minang, mereka jadi sadar bahwa prasangka mereka terhadap orang Minang sesuatu yang salah.

Beralih ke Kalimantan, beberapa etnis Jawa yang saya temui di Jawa dan pernah ke Kalimantan membawa cerita mistis yang sedikit mengerikan mengenai etnis Dayak. Salah satu ceritanya, bila menikah dengan perempuan etnis Dayak maka tidak ada peluang lagi untuk menikah, sebab perempuan etnis Dayak memiliki ilmu yang bisa membuat ‘senjata’ laki-laki mengecil atau bahkan hilang. Entah benar atau tidak tapi ada yang bercerita bahwa dirinya (si pencerita) bersama temannya pernah pergi ke salah seorang warga Dayak. Karena kemalaman ia menginap di sana. Kebetulan warga Dayak itu memiliki anak perempuan yang cantik. Malamnya, sebelum tidur, sang teman mengaku pada si pencerita, bahwa ia tertarik dengan anak gadisnya. Tapi tentu saja itu tidak disampaikan kepada empu rumah. Pagi-pagi ketika bangun tidur, si pencerita bersama temannya hendak buang air kecil. Tiba-tiba sang teman berteriak bahwa ‘alat vitalnya’ tidak ada. Setengah mati ketakutan, sang teman menghadap ke empu rumah. Oleh si empu rumah dipersilahkan makan. Ketika membuka tutup makanan ia menemukan ‘alat vitalnya’ ada di sana.

Saya tidak yakin  cerita itu benar. Lagipula si pencerita juga tidak mengatakan etnik Dayak yang mana. Seringkali cerita semacam merupakan hasil dibesar-besarkannya sebuah kisah sederhana dan biasa saja. Dengan tambahan  bumbu di sana-sini jadilah cerita itu menarik. Bagi saya yang menarik justru bukan ceritanya tetapi makna dari cerita itu. Berkembangnya cerita semacam itu menjelaskan adanya prasangka yang besar terhadap etnis Dayak. Kalau cerita itu semakin berkembang luas maka masyarakat juga akan semakin berprasangka terhadap etnik Dayak.  Mereka jadi enggan dan takut untuk berhubungan dengan etnis Dayak halmana semakin mengukuhkan prasangka yang dimiliki.

Adanya  stereotip, terutama stereotip negatif sebagai cermin utama adanya prasangka, sangat tidak menguntungkan untuk kehidupan sosial, terutama bila stereotip itu dilekatkan pada kelompok etnik minoritas. Etnik Dayak Meratus di Kalimantan sampai sekarang terisolasi tidak lain karena adanya stereotip negatif atau prasangka yang dialamatkan pada mereka. Mereka dianggap tidak bersahabat, menakutkan bahkan dianggap belum ‘beradab’. Stereotip menyakitkan itu sampai kini tetap terasa bahkan masyarakat kota Banjarmasin pun masih menjuluki mereka sebagai orang Bukit. Masyarakat kota di Banjarmasin, apalagi di luar pulau Kalimantan, masih menganggap berkunjung ke pedalaman Dayak tidak aman. Berkunjung ke Balai (rumah adat Dayak Meratus) bisa-bisa tidak dapat pulang karena orang-orang Dayak dianggap mempunyai kekuatan magis yang bisa digunakan untuk keperluan jahat  (Kompas, 7 Oktober 2003).

Joke atau anekdot yang berkait dengan etnik juga bisa menggambarkan adanya prasangka etnik bila isi dari joke-joke itu memojokkan etnik tertentu. Misalnya saja joke tentang etnik Jawa, etnik Minang dan etnik Cina. Pada suatu hari ada tiga orang dari tiga etnik berbeda itu jalan-jalan di pasar malam. Ketika sampai di rumah hantu mereka bersepakat untuk masuk ke dalam. Didalam terdapat tiga patung Nyi Roro Kidul. Giliran pertama orang Jawa. Setelah masuk selama 15 menit, ia keluar dan membisikkan sesuatu pada kedua temannya “ssssttttt, aku ambil kacamata dipatung Nyi Roro Kidul.” Kemudian giliran etnis Minang, ketika keluar iapun berbisik pada dua temannya “Sssst aku ambil kacamata dan kain yang dipakai Nyi Roro Kidul.” Terakhir, giliran etnis Cina. Ketika keluar tampak pakaiannya menggelembung dan ia berbisik pada rekan-rekannya “Ssssttt, aku ambil kacamata, kain dan sekaligus patung Nyi Roro Kidul”.

Prasangka agama

Mungkin anda pernah mendengar ada sebuah desa yang kekurangan air bersih menolak bantuan pengeboran sumur artesis. Sebabnya, karena sang pemberi bantuan adalah kelompok beragama lain. Padahal, mereka akan mengecek sumur itu hanya setahun sekali atau kalau ada kerusakan saja. Warga desa beralasan bahwa jika diberikan ijin, nanti akan menjadi sarana dakwah bagi mereka.

Apa yang anda pikirkan tentang kasus di atas? Tentu saja warga desa berprasangka terhadap pemeluk agama lain. Mereka bahkan menghindarkan diri dari kemudahan karena prasangka itu. Bukankah, akan jauh lebih mudah bagi kehidupan warga desa jika ada sumur artesis?! Tapi begitulah prasangka.

Prasangka agama laten terjadi. Sejak era Musa dan Fira’aun, sampai saat ini, kerap terjadi perselisihan antar agama yang bersumber dari prasangka agama. Penganut kristiani berprasangka terhadap kaum muslim, sebaliknya kaum muslim berprasangka terhadap kaum kristian. Mereka juga berprasangka pada kaum yahudi. Sebaliknya kaum yahudi juga berprasangka kepada kaum kristian dan kaum muslim. Saat ini, prasangka agama, sering dikompori dengan pemberitaan media-media yang sangat memihak agama tertentu. Sangat mudah menemukan media-media yang potensial menyebarkan prasangka agama di masyarakat.

Tidak jarang prasangka agama tidak kepada pemeluk agama lain, tapi justru kepada mereka yang mengaku satu agama. Contohnya, cukup banyak penganut muslim yang mengaku NU, Muhammadiyah dan Wahabisme, saling gontok-gontokkan dan saling serang. Terjadi pertentangan di antara mereka.

Prasangka seks dan gender

Apa yang anda pikirkan tentang seorang janda kembang cantik yang baru bercerai dengan suaminya? Ada macam-macam pikiran yang muncul tentang sang janda kembang. Beberapa pikiran menunjukkan prasangka padanya. Misalnya beberapa orang berpikir sang janda akan menjadi penggoda bagi laki-laki di lingkungan sekitar. Beberapa yang lain berpikir sang janda akan merusak moral anak muda di sekitarnya karena sang janda akan memuaskan nafsu seksualnya dengan menggoda anak-anak muda itu. Lalu, untuk menghidupi dirinya, ia akan menjual diri. Pendeknya, macam-macam saja prasangka yang akan dihadapi sang janda.

peleleeSungguh tidak beruntung mereka yang janda, masih muda, dan cantik pula. Mereka banyak mendapatkan diskriminasi. Para suami dilarang bergaul dengan janda sebab istri-istri takut suaminya tergoda. Begitupun beberapa pekerjaan jarang diberikan kepada janda, misalnya pengasuh anak dan pembantu rumah tangga, karena para istri khawatir suaminya dekat dengan sang janda. Status janda juga menyebabkan lebih banyak digoda orang. Ada saja yang melemparkan siulan atau kerlingan mata nakal. Tidak lain, semua itu karena prasangka kepada janda, bahwa mereka adalah perempuan gampangan. Sungguh tidak mudah menjadi janda untuk bebas dari prasangka.

Prasangka kepada janda merupakan salah satu jenis prasangka gender. Prasangka ini sangat luas mewabah dalam masyarakat. Termasuk dalam prasangka jenis ini adalah prasangka tentang adanya perbedaan kualitas dan kemampuan antara pria dan wanita. Misalnya, perempuan tidak mampu menjadi pemimpin. Perempuan suka  memfitnah. Tidak ada laki-laki setia. Laki-laki pasti ‘buaya’. Perempuan lebih pandai berbohong. Laki-laki menyukai tantangan. Laki-laki pasti penuh tanggungjawab, dan sebagainya.

Prasangka yang terkait dengan seksualitas juga sangat banyak. Misalnya, mereka yang memiliki bokong besar dianggap pasti hebat di atas tempat tidur. Perempuan yang berambut ikal dan berkumis dikatakan memiliki nafsu seksual yang besar. Kemaluan laki-laki bisa dilihat dari besarnya jempol kaki kiri yang dimiliki. Ukuran vagina mirip dengan ukuran bibir. Orang Arab memiliki, maaf, penis besar. Orang Madura memiliki ramuan rahasia yang membuat kaum perempuannya sangat memuaskan ketika berhubungan seksual, dan sebagainya.

Prasangka politik

Anda tentu tahu adanya sebuah peristiwa besar di negeri ini pada tahun 1965-1966. Pada saat itu, sebagai ekses adanya pembunuhan para jenderal TNI-AD, ratusan ribu orang meninggal karena dituduh sebagai anggota PKI. Disinyalir korban bahkan mencapai 2 juta orang. Suatu jumlah yang sangat besar. Setelah tahun-tahun itu, berbagai kebijakan pemerintah dan indoktrinasi intensif kepada masyarakat membuat mereka-mereka yang diduga terkait dengan PKI, berikut seluruh anggota keluarganya didiskriminasikan dalam seluruh sektor kehidupan. Anak dan cucu seseorang yang dulunya dianggap anggota PKI, tidak boleh bekerja sebagai pegawai negeri. Jika sudah menjabat, maka dipecat. Jika mereka mendirikan usaha, maka usaha mereka dihalang-halangi. Mereka dicap sebagai tidak bersih lingkungan. Mereka dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat. KTP mereka juga diberi tanda khusus.

Prasangka politis seperti di atas, merupakan hal yang umum terjadi. Tidak hanya diskriminasi, pelarangan buku-buku juga dilakukan. Buku-buku novel karangan Pramoedya Ananta Toer, yang isinya tidak ada kaitan dengan komunisme dilarang beredar. Mereka yang berusaha membaca dan mendiskusikannya akan ditangkap dan dipenjara. Tidak ada buku-buku tentang marxisme yang boleh beredar.

Dulu, tahun-tahun 90-an, setiap anak sekolah diberitahu tentang ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) terhadap kehidupan masyarakat dan berbangsa. Bentuk ATHG-nya adalah SARA dan komunisme. Jadi, segala sesuatu yang berbau SARA (suku, agama, ras, antar golongan) dan komunisme tidak boleh diungkapkan apalagi dibicarakan. Siapa yang membicarakannya akan ditindak oleh aparat pemerintah karena mengganggu kehidupan masyarakat. Nah, rupa-rupanya keberagaman dan isu-isu keberagaman diprasangkai akan menimbulkan kekacauan di masyarakat. Oleh karenanya ditekan. Masyarakat jadi takut membicarakannya karena akan berhadapan dengan aparat pemerintah. Masyarakat pun akan berprasangka kepada siapapun yang vokal sebagai ancaman terhadap masyarakat.

Salah satu prasangka politik yang umum terjadi adalah terhadap aparat pemerintah, baik pegawai negeri maupun TNI-Polri. Misalnya, jika ada maling tertangkap, warga akan menghakimi sendiri, karena mereka tidak percaya pada polisi akan mampu menyelesaikan atau mengurangi kasus kemalingan. Begitupun jika ada operasi surat kendaraan bermotor, denda yang dijatuhkan kepada pelanggar diprasangkai akan digunakan polisi untuk kepentingan pribadi. Sebagian masyarakat juga percaya bahwa tempat perjudian banyak yang dibeking oleh aparat. Begitupun tindak penyeludupan barang. Oleh karenanya keduanya sangat sulit diberantas. Sulitnya pemberantasan itu karena memang dibeking aparat.

Prasangka kelas sosial

Apa kelas sosial anda? Pernahkah anda memiliki prasangka terhadap mereka yang memiliki kelas sosial di atas atau di bawah anda? Jika pernah, maka itulah prasangka kelas sosial, yakni prasangka yang diarahkan pada kelas sosial tertentu di masyarakat. Bentuk prasangkanya beragam.

Prasangka kelas sosial paling mudah ditemui pada mereka yang miskin kepada yang kaya dan sebaliknya dari si kaya kepada si miskin. Orang kaya berprasangka pada si miskin bahwa mereka miskin karena malas dan tidak mau bekerja keras. Orang miskin ditengarai akan mencuri sesuatu jika dibiarkan bebas. Para pemulung biasanya dilarang memasuki daerah orang kaya prasangka itu.

Orang miskin berprasangka bahwa orang kaya sombong dan hanya mengutamakan kesenangan diri. Orang kaya tidak sensitif terhadap lingkungan sekitar dan maunya menangnya sendiri. Mereka yang kaya diprasangkai menggunakan cara-cara tidak halal, seperti menipu, pesugihan (mengabdi setan untuk mendapat kekayaan), dan lainnya. Jika ada orang kaya datang dengan mobil dan perhiasan, mereka diprasangkai sedang pamer kekayaan. Pendek kata, mereka diprasangkai habis-habisan.

Prasangka terhadap kaum difabel

Kaum difabel atau penderita cacat tak kurang mendapatkan prasangka dari mereka-mereka yang normal. Banyak penderita cacat mengalami diskriminasi karena prasangka terhadap mereka. Misalnya, hanya karena seseorang buta, maka ia tidak boleh masuk kuliah jurusan sastra. Padahal, kebutaan tidak akan menghalangi si buta dalam proses kuliah. Mereka yang buta dianggap tidak akan mampu mengikuti pendidikan sewajarnya.

Banyak tempat menolak mempekerjakan orang-orang yang memiliki cacat. Mereka dianggap tidak akan mampu bekerja. Namun lebih dari itu, mereka dianggap sebagai biang masyarakat. Mereka tidak diterima kerja, lebih karena mereka cacat sehingga dianggap mengurangi prestise tempat kerja. Bahkan, mereka yang memiliki panca indera lengkap, alias hanya mengalami cacat fisik sedikit, pun mengalami diskriminasi serupa. Mereka yang cacat namun mencatat sukses, biasanya tetap diprasangkai karena ditolong oleh banyak orang dan diberi kemudahan dari sana-sini. Mereka tetap tidak dianggap berprestasi karena kerja keras sendiri. Ada-ada saja orang yang mencibir kesuksesan mereka.

Kita tahu, banyak anak cacat, baik cacat mental maupun fisik, sering mengalami olok-olok dari teman-teman yang lain. Tidak jarang ada orangtua yang melarang anak-anaknya bergaul dengan mereka yang cacat karena dianggap membawa sial. Penderita cacat juga sering menjadi objek kekerasan. Mereka tidak diterima di banyak tempat. Jadi, sudah jautuh tertimpa tangga pula. Begitulah orang cacat menjadi sasaran prasangka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s