Tipe komitmen cinta Anda

acoplwsssPernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang sangat mencintai pasangannya tetapi selalu takut untuk menikahinya? Orang semacam itu banyak jumlahnya. Saya memiliki teman, sebut saja Nino, yang seperti itu. Dia mengaku betul-betul cinta pada pasangannya. Saya sama sekali tidak meragukan pernyataannya itu. Akan tetapi, dia sulit untuk berkomitmen. Dia waswas jika harus terikat dengan seseorang. Celakanya, kebanyakan perempuan selalu menuntut komitmen ketika menjalin hubungan cinta. “Kemana hubungan ini akan dibawa?” tanya mereka.

Umumnya perempuan mengharapkan komitmen pasangan terhadap hubungan cinta yang telah dijalin. Mereka ingin tahu apakah pasangannya berkomitmen atau tidak. Jika pasangan menyatakan komitmen akan menikahi, maka hubungan bisa dilanjutkan. Akan tetapi jika pasangan ragu dan tidak bisa memberi jawaban pasti, maka hubungan akan dihentikan. Kadang cinta tidak penting bagi mereka. Komitmen yang menjadi dasar pertimbangan terpenting bagi mereka untuk terus melanjutkan hubungan atau tidak.

Beberapa saat sebelum menulis buku ini, saya bertemu dengan seorang teman lama (perempuan). Terakhir bertemu 3 tahun sebelumnya, dia masih berpacaran dengan salah seorang teman saya juga. Saya tanyakan kabar pacarnya itu. Dia menjawab sudah putus dan sekarang malah sudah menikah dengan orang lain. Dia bilang, “Aku sebenarnya sayang banget pada Koko (bukan nama sebenarnya). Aku berharap banget sama dia. Tapi ya itu, kalau ditanya soal komitmen buat masa depan, dia selalu mengelak. Padahal, asalkan dia memberi kepastian aku pasti akan mempertahankannya. Pas lagi gundah gitu, datang suamiku sekarang. Dia bisa beri kepastian. Ya aku terima. Aku putus dengan Koko. 2 minggu kemudian aku nikah.”

Jadi, adanya komitmen bisa menjamin hubungan cinta terus berlanjut. Sebaliknya jika tidak ada komitmen, maka hubungan akan terancam bubar. Keputusan teman saya untuk bubar dengan Koko merupakan keputusan yang masuk akal. Tidak mungkin mereka akan berpacaran selamanya tanpa kepastian.

Komitmen merupakan janji, baik janji untuk menikahi atau janji untuk terus melanjutkan hubungan cinta.  Jika sudah menikah, artinya janji untuk terus menjaga pernikahan. Tapi komitmen bukan janji sembarang janji. Komitmen adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terikat dengan seseorang. Rasa terikat itu secara langsung mempengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan.

Seseorang yang memiliki komitmen tinggi merasa sangat terikat dengan pasangan. Mereka tidak akan mengakhiri hubungan. Jika hubungan dilanda konflik, mereka akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya. Semua model penyelesaian konflik boleh dilakukan, tapi dengan satu syarat, hubungan harus tetap dipertahankan. Jadi, bubar tidak ada dalam pertimbangan mereka. Adanya komitmen menjamin hubungan cinta terus berlanjut.

Orang yang memiliki komitmen rendah merasa kurang terikat dengan pasangan. Mereka cenderung gampang mengakhiri hubungan. Mereka sangat mudah selingkuh. Jika ada masalah tidak diselesaikan tuntas. Bubar adalah salah satu pilihan yang dipertimbangkan ketika menyelesaikan masalah.

Selain ada yang berkomitmen tinggi dan rendah, ada juga yang berkomitmen nol, alias tidak memiliki komitmen. Meskipun cinta, mereka tidak memiliki rasa terikat pada pasangan. Seperti teman saya Nino, mereka punya cinta tapi tidak punya komitmen, “cinta yes, komitmen no.”

Adanya komitmen mendorong seseorang memaafkan pasangannya. Jika yang dicintai membuat kesalahan, mereka akan memaafkannya. Hal tersebut membuat hubungan lebih dapat bertahan. Bayangkan bila kesalahan-kesalahan yang dibuat -dan akan selalu terjadi kesalahan- tidak dimaafkan. Akumulasinya bisa menimbulkan konflik yang berdampak pada bubarnya hubungan. Jadi, jika Anda tidak pernah bisa memaafkan pasangan, maka komitmen Anda pasti rendah.

Menurut Frank & Brandstätter, dalam artikel “Approach Versus Avoidance: Different Type of Commitment in Intimate Relationships”, yang dipublikasikan tahun 2002 dalam Journal of Personality and Social Psychology,volume 82, halaman 208-221, berdasarkan motivasi untuk berkomitmen, ada 2 kategori komitmen, yakni mendekat dan menjauh. Silakan Anda cermati masing-masing tipe tersebut untuk bisa mengetahui tipe komitmen Anda.

1. Komitmen mendekat

Komitmen Anda adalah komitmen mendekat jika Anda berkomitmen karena percaya bahwa dengan terus melanjutkan hubungan maka hidup akan lebih bahagia. Jadi, Anda berkomitmen karena mendapatkan hal-hal positif dari hubungan cinta yang dijalani. Anda puas, Anda bahagia, maka Anda berkomitmen.

Orang yang memiliki komitmen mendekat memiliki perasaan ingin yang kuat untuk terus melanjutkan hubungan. Itu sebabnya komitmen ini disebut juga komitmen ingin (want to). Mereka yang memiliki komitmen tipe ini memiliki keterikatan sangat kuat dan loyal pada pasangan. Orang-orang yang setia pada pasangan umumnya termasuk dalam tipe ini.

Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan komitmen mendekat. Jika sebagian besar pernyataan tersebut sesuai dengan Anda, maka sangat mungkin Anda memiliki komitmen mendekat.

  • Saya merasa berbahagia dan saya ingin terus berbahagia bersamanya
  • Saya sangat bangga terhadapnya
  • Saya dan pasangan saya saling membutuhkan
  • Pasangan sangat memedulikan saya dan saya pun harus peduli padanya
  • Pasangan saya selalu mau mendengarkan saya dan saya pun harus mau mendengarkannya
  • Pasangan saya membuat saya merasa spesial dan saya pun membuatnya merasa spesial
  • Saya merasa sangat terikat pada pasangan saya
  • Saya identik dengan pasangan saya
  • Saya tidak akan terlalu menderita jika hubungan ini berakhir

2. Komitmen menghindar

Komitmen Anda adalah komitmen menghindar jika Anda berkomitmen karena khawatir akan mendapatkan hal-hal negatif jika hubungan berakhir. Terdapat dua tipe orang yang memiliki komitmen menghindar. Pertama, orang yang memiliki perasaan bahwa dirinya seharusnya (ought to) melanjutkan hubungan karena secara moral harus begitu. Misalnya tidak bercerai karena diharamkan agama atau khawatir anak-anak akan terlantar. Mereka berkomitmen berdasarkan prinsip “saya tidak melakukan apa yang saya inginkan tapi saya melakukan apa yang saya rasa baik dan benar untuk dilakukan”.  Jadi, jika berpisah itu tidak baik, maka tidak berpisah meskipun sebenarnya ingin berpisah.

Kedua, orang yang memiliki perasaan bahwa dirinya harus (have to) melanjutkan hubungan karena tidak sanggup untuk berpisah. Mereka waswas akan sangat menderita jika terjadi perpisahan. Mereka khawatir bakal sulit mendapatkan pengganti sepadan. Mereka takut kehilangan sumber finansial. Mereka cemas dikecam keluarga. Orang yang memiliki tipe komitmen menghindar ini pada umumnya memiliki kepuasan hidup yang rendah.

Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan komitmen menghindar. Jika sebagian besar pernyataan tersebut sesuai dengan Anda, maka sangat mungkin Anda memiliki komitmen menghindar

  • Anak-anak saya harus tumbuh dalam keluarga yang utuh di mana pasangan saya adalah ayah/ibu anak-anak saya
  • Saya akan dikecam bila saya mengakhiri hubungan ini
  • Saya telah berkorban banyak hal untuk hubungan ini, jika berakhir saya akan sengsara.
  • Pasangan saya tempat saya bergantung, saya tidak dapat pergi darinya
  • Terlalu banyak dimensi hidup saya yang terganggu bila saya mengakhiri hubungan
  • Saya ingin keluarga saya menjadi keluarga yang utuh
  • Saya tidak yakin akan bisa mendapatkan yang lebih baik darinya
  • Jika hubungan ini menguntungkan saya, saya merasa tidak benar bila harus mengakhiri hubungan.
  • Jika saya merasakan manfaat dari hubungan ini, saya akan melakukan segala sesuatu untuk tetap mempertahankan hubungan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s