Memahami skema sosial

peoplerrrAnda pasti memiliki rangkaian informasi yang terkait dengan sebuah konsep. Misalnya marah. Apa saja konsep marah yang Anda ketahui? Mungkin pelakunya memaki, mata membelalak, gigi gemeletuk, jidat bergerak, nafas berdenyut cepat, atau otot leher menegang. Nah, ciri-ciri marah yang Anda ketahui itu adalah skema, yakni himpunan informasi tentang sesuatu hal yang terorganisasi dalam ingatan Anda.

Setiap orang memiliki skema tentang segala sesuatu yang diketahuinya. Anda memiliki skema tentang seorang guru, tentang seorang ibu, tentang marah, tentang sedih, tentang sabar, tentang buku, tentang pohon, tentang sore, dan tentang apapun. Skema tentang perempuan dalam pikiran Anda adalah bermuka halus, berdada menonjol karena ada payudara, berkulit lembut, berambut panjang, berpanggul besar, memakai rok. Nah, pada saat Anda bertemu dengan orang berciri-ciri tersebut, Anda bisa menyimpulkan bahwa orang yang Anda temui perempuan.

Salah satu skema dalam pikiran Anda adalah skema sosial, yakni kerangka mental yang berisi informasi yang relevan dengan situasi atau kejadian sosial tertentu. Skema bisa membantu memahami sesuatu yang sedang terjadi. Pada saat Anda bertemu orang yang berpenampilan perlente, memakai jas dan dasi, rapi, memakai sepatu kulit dan celana katun, memakai arloji emas, mungkin Anda mengira dia orang kaya. Nah, Anda bisa mengira si dia orang kaya karena Anda telah memiliki skema sosial bahwa orang kaya memiliki ciri-ciri tersebut ketika berpakaian. Demikian juga ketika Anda menuduh seseorang akan mencuri di rumah Anda karena ia datang malam-malam mengelilingi rumah Anda, memakai penutup kepala, dan mengendap-endap, serta membawa alat pembuka lemari. Anda bisa menuduhnya demikian karena ada skema dalam pikiran Anda bahwa begitulah pencuri melakukan aksinya.

Stereotip, yakni atribut atau ciri tertentu yang dilekatkan pada sekelompok orang, adalah salah satu skema sosial. Misalnya orang Madura memiliki stereotip mudah tersinggung, orang bertato memiliki stereotip jahat, orang yang kuliah memiliki stereotip pintar, dan sebagainya.

Kadangkala stereotip benar, namun kadangkala salah. Meskipun stereotip muncul karena adanya fakta tertentu, namun biasanya stereotip terlalu digeneralisir. Akibatnya stereotip kurang akurat. Lagi pula kadang stereotip tidak memperhatikan faktor waktu, situasi, perbedaan individu dan faktor karakter pribadi. Misalnya stereotip orang Madura mudah tersinggung. Boleh jadi, tidak semua orang Madura mudah tersinggung. Hanya dalam kondisi lelah saja mereka mudah tersinggung. Cukup banyak orang Madura yang memiliki karakter tidak mudah tersinggung.

Adanya stereotip memunculkan efek hubungan semu, yakni mengaitkan secara berlebihan antara satu ciri dengan ciri lainnya. Misalnya karena mudah tersinggung, lalu orang Madura juga dianggap mudah marah, pendendam, sombong, atau lainnya.

Pengaruh skema pada saat bertemu orang lain

Berkait adanya skema, setidaknya ada tiga hal yang dilakukan orang ketika bertemu orang lain, yakni memberikan perhatian pada yang menonjol, kategorisasi sosial dan perbandingan sosial. Bayangkan sebuah situasi dimana Anda sedang bersama banyak orang. Apa yang paling menarik perhatian Anda? Sudah pasti yang menarik perhatian Anda adalah yang menonjol atau yang istimewa saja. Misalnya dalam sebuah pesta semua peserta menggunakan celana kain hitam, berjas hitam, dan berdasi. Lalu datanglah seseorang yang memakai jeans belel, berkaus, dan memakai topi ikut larut dalam pesta. Si pemakai jeans tadi secara otomatis akan mendapat perhatian dari para peserta pesta.

Perilaku yang menonjol akan lebih menarik perhatian. Memaki orang di dalam sebuah rapat lebih diperhatikan daripada minum air karena haus. Orang yang berperilaku menonjol juga dinilai lebih berpengaruh dalam situasinya. Misalnya orang yang sangat banyak mengajukan pendapat dalam sebuah rapat, dan karena itu menonjol, dinilai lebih berpengaruh atau lebih dominan dalam rapat itu.

Kategorisasi sosial adalah upaya menggolong-golongkan orang lain. Prosesnya otomatis dan spontan. Begitu Anda bertemu seseorang maka Anda langsung membuat kategori tentang orang tersebut. Misalnya tergolong laki-laki atau perempuan, tergolong besar atau kecil, tergolong tampan atau cantik, dan sebagainya.

Kategorisasi bisa berdasarkan persamaan atau perbedaan. Anda akan menganggap orang yang memiliki persamaan dengan Anda tergabung dalam satu kategori dengan Anda. Misalnya sama-sama satu jenis kelamin, sama-sama satu keluarga, sama-sama berambut pendek, sama-sama tempat sekolah dan sebagainya. Sebaliknya, jika berbeda maka akan dikategorikan berbeda. Misalnya si dia miskin, Anda kaya, si dia jelek Anda cantik, si dia bodoh, Anda pintar. Secara bersamaan Anda bisa memiliki kesamaan atau perbedaan dengan orang lain.

Perbandingan sosial adalah membandingkan diri dengan orang lain, atau membandingkan orang lain dengan orang lainnya lagi. Hampir semua hal bisa diperbandingkan. Misalnya saat Anda melihat dua orang perempuan berjalan bersama, maka Anda membandingkan mana yang lebih cantik diantara keduanya. Lalu misalnya Anda mendengar seorang penyanyi menyanyikan sebuah lagu, maka Anda membandingkan penyanyi itu dengan penyanyi lain yang pernah Anda dengar nyanyiannya.

Anda akan tahu posisi seseorang diantara yang lain dari perbandingan yang Anda lakukan. Anda akan tahu seseorang cukup menarik atau kurang menarik atau bahkan sama sekali tidak menarik setelah Anda membandingkannya dengan orang lain. Begitu juga Anda akan tahu seseorang cukup pandai, kurang pandai, tidak pandai, atau sangat pandai setelah Anda membandingkannya .

Apakah priming?

Ada sebuah mekanisme penting yang terkait dengan skema, yakni priming. Proses kognitif priming adalah suatu keadaan dimana stimulus atau kejadian menambah informasi tertentu yang telah diingat sebelumnya. Misalnya Anda mahasiswa psikologi yang belajar gangguan mental manusia sepanjang semester. Nah, pada saat Anda melihat sedikit saja ada perubahan mental pada teman Anda (misalnya tiba-tiba menjadi pendiam), maka Anda akan tertarik pada hal tersebut dan terdorong untuk menduga teman Anda itu mengalami gangguan mental. Contoh lainnya adalah jika Anda baru saja melihat berita di TV tentang kejahatan preman memeras rakyat, maka yang tadinya Anda merasa biasa saja menjumpai preman, lantas Anda jadi tidak menyukainya. Begitu juga jika sebelum melihat film hantu Anda biasa ke kamar mandi sendiri, setelah melihatnya Anda jadi takut ke kamar mandi sendirian. Artinya, kejadian atau informasi yang bersesuaian dengan apa yang dominan dalam pikiran Anda akan secara otomatis lebih diperhatikan.

Kaitan skema dengan proses berpikir khas tertentu

Kesan yang Anda bentuk tentang seseorang bisa akurat maupun kurang akurat akibat adanya proses-proses kognitif tertentu. Terkait dengan adanya skema dalam pikiran manusia, ada tiga kelompok besar efek yang mempengaruhi pembentukan kesan, yaitu efek cognitive miser, efek bias konfirmasi, dan efek taktis.

1. Efek cognitive miser

Setiap hari Anda menghadapi sangat banyak informasi sosial. Namun kemampuan Anda untuk memproses informasi itu terbatas. Oleh sebab itu Anda hanya akan memproses informasi yang memerlukan paling sedikit usaha kognitif. Nah, manusia memiliki kecenderungan untuk sebanyak-banyaknya melakukan usaha kognitif minimal dalam memahami dunia sosial. Dengan kata lain, dari banyak informasi yang ada, Anda mengambil informasi yang paling gampang saja. Adapun yang lebih sulit akan diabaikan. Terdapat beberapa jenis efek yang tercakup dalam cognitive miser, yakni heuristik, framing, penjangkaran (anchoring), counterfactual thinking, dan efek kesalahan konsensus (false consensus effect).

Heuristik. Heuristik adalah prinsip yang membuat individu membuat penilaian sosial secara cepat dengan sesedikit mungkin usaha. “Dia membawa laptop kemana-mana, jadi ia wartawan” Begitulah berpikir heuristik. Seseorang tidak mau bersusah-payah memperhatikan semua aspek untuk membuat kesimpulan.

Terdapat dua tipe heuristik, yaitu heuristik representatif dan heuristik ketersediaan. Heuristik representatif adalah strategi membuat penilaian berdasarkan seberapa jauh kemiripan dengan sesuatu. Anda menyimpulkan seseorang ke dalam suatu golongan karena dianggap memiliki ciri golongan itu. Misalnya Anda bertemu dengan orang baru. Secara cepat Anda akan menduga ia bekerja apa dengan jalan melihat seberapa mirip dia dengan orang-orang yang bekerja di bidang tertentu. Jika ia berjas, berdasi, berperut gendut, bersepatu kulit, bermobil mewah, maka Anda mungkin menggolongkannya sebagai pejabat tinggi di sebuah perusahaan, sebab mirip tipe pejabat tinggi perusahaan.

Heuristik ketersediaan adalah strategi membuat penilaian berdasarkan seberapa  mudah informasi tertentu dimasukkan ke pikiran. Informasi yang lebih menonjol dan lebih penting akan lebih digunakan dalam melakukan penilaian. Contohnya jika pada suatu saat ada seseorang marah-marah di depan umum sehingga dikerumuni orang (oleh karena itu menonjol dan mudah diingat), maka orang itu akan dinilai pemarah. “Faktanya dia kemarin marah di depan umum, jadi ia pemarah”, begitu kesimpulannya.

Framing. Ini adalah efek pada penilaian yang Anda buat karena cara penyampaian informasi. Informasi yang sama jika disampaikan dengan cara berbeda akan menimbulkan penilaian yang berbeda. Misalnya teman Anda mengatakan pada Anda bahwa pacarnya kurang ajar. Ia menyampaikan hal itu dua kali. Pertama dengan cara bergurau sambil makan bersama Anda. Kedua, teman Anda menyampaikannya sembari menangis terisak-isak. Pada penyampaian pertama, Anda kurang memperhatikan sehingga menilai pacar teman Anda sedikit keterlaluan. Tapi pada penyampaian kedua, boleh jadi Anda sudah menilai pacar Anda telah kelewat batas dan sangat kurang ajar.

Secara umum, jika informasi sifat positif yang diberikan pertama kali bar kemudian negatif, maka Anda akan menilai lebih positif. Jika Anda menerima berita bahwa Joko telah mendirikan panti asuhan, mendirikan yayasan untuk kaum miskin, mendonorkan ginjal pada orang miskin dan telah korupsi. Maka Anda akan menilai Joko lebih positif. Sedangkan jika urutan beritanya dibalik, yakni korupsi, mendonorkan ginjal, mendirikan yayasan untuk kaum miskin, dan mendirikan panti asuhan. Maka boleh jadi penilaian Anda tentang Joko akan lebih negatif.

Penjangkaran (anchoring). Penjangkaran atau anchoringadalah kecenderungan untuk mengawali sebuah nilai tertentu untuk bisa melakukan penilaian. Jika rata-rata indeks prestasi di kampus adalah 3,4 maka Anda akan menilai yang ber-IP 3,4 rata-rata saja alias tidak cukup cerdas. Adapun IP 3,3 akan dibilang tidak cerdas karena dibawah rata-rata. Namun jika rata-rata IP sebesar 3,0 maka IP 3,3 sudah cukup cerdas. IP 3,4 sudah tergolong cerdas.

Banyak situasi sosial dimana seseorang menerapkan penjangkaran atauanchoring seperti diatas. Terdapat standar-standar perilaku yang Anda gunakan untuk mempermudah melakukan penilaian terhadap orang lain. Misalnya standar orang untuk disebut kaya adalah jika memiliki mobil Ferrari, BMW, Mercedes, Jaguar, atau Nissan. Nah, pada saat Anda tahu ada orang yang memiliki jenis-jenis mobil itu, maka Anda langsung menyimpulkannya sebagai orang kaya.

Counterfactual thinking. Ini adalah kecenderungan untuk mengevaluasi suatu kejadian dengan mempertimbangkan alternatif kejadiannya. Penilaian terhadap orang tidak hanya dipengaruhi oleh kejadian yang dialami orang itu, tapi juga apa yang mungkin dialami orang akibat kejadian itu. Misalnya Anda akan jauh lebih memperhatikan seorang nenek tua yang miskin saat kehilangan uang 100 ribu rupiah, daripada anak muda kehilangan sejumlah 200 ribu. Uang 100 ribu bagi si nenek bisa menyambung hidup satu bulan, tapi 200 ribu bagi si anak muda mungkin hanya uang jajan sehari. Demikian juga Anda akan lebih memperhatikan orang yang tiba-tiba meminjam uang, padahal sebelumnya belum pernah meminjam uang, daripada orang yang suka meminjam uang.

Efek kesalahan konsensus (false consensus effect). Inilah kecenderungan untuk secara berlebihan mengira bahwa orang lain bertindak atau berpikir seperti yang Anda lakukan. Kalau Anda menyontek dalam ujian, Anda lantas berpikir orang lain juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih parah. Pada saat melakukan pelanggaran, banyak orang berpikir bahwa mereka tidak sendirian dalam melakukannya. Terdapat banyak orang lain yang melakukan pelanggaran dalam taraf yang parah. “Mereka juga sama kok, bahkan lebih parah”, ungkap mereka.

Efek kesalahan konsensus biasanya digunakan untuk membenarkan diri sendiri. Secara garis besar ada dua sebab mengapa hal itu dilakukan, pertama, banyak orang ingin percaya bahwa orang lain sepakat dengan mereka karena itu meningkatkan kepercayaan diri. Misalnya hubungan seksual pranikah akan lebih percaya diri dilakukan oleh pasangan, jika mereka mengira banyak orang lain juga melakukan hal yang sama. Kedua, hal-hal yang mengandung persetujuan dan persamaan akan lebih mudah diingat. Selain itu, umumnya orang bergaul dengan orang yang kurang lebih mirip baik dalam keyakinan, sikap, pengetahuan, dan lainnya. Oleh sebab itu wajar jika mereka mengira bahwa orang-orang lain memiliki lebih banyak perbedaan.

2. Efek taktis

Bagaimana Anda membentuk kesan terhadap orang lain kadang dipengaruhi oleh motivasi, tujuan, dan kebutuhan Anda. Misalnya Anda ingin mengenal lebih jauh rekan bicara Anda, karena ia melamar pekerjaan pada Anda. Nah, Anda akan berupaya untuk memperoleh kesan atau penilaian seakurat mungkin tentang rekan bicara Anda itu. Anda tidak akan terburu-buru memberikan penilaian. Anda mengumpulkan sebanyak mungkin informasi baru kemudian Anda menyimpulkan kesan Anda terhadapnya.

Meskipun berusaha akurat, kadang terdapat bias dalam pembentukan kesan terhadap orang lain. Pertama, bias karena adanya keinginan orang membuat terkesan orang lain. Misalnya, mereka yang melamar kerja berupaya mengesankan pewawancara. Nah, meskipun pewawancara sudah berupaya akurat menilainya, boleh jadi tetap tidak akurat karena yang ditampilkan orang itu bukan perilaku riilnya sehari-hari. Jadi, si pewawancara jatuh menjadi korban manajemen kesan. Kedua, bias karena kecenderungan orang untuk menilai positif orang lain. Orang yang baru dikenal dan orang penting biasanya dinilai lebih positif.

3. Efek bias konfirmasi

Ini adalah kecenderungan orang untuk memperoleh informasi, menafsirkan dan menyusun informasi yang konsisten dengan keyakinannya saat itu. Salah satu jenisnya adalah efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling prophecy), yakni kecenderungan orang untuk berperilaku tertentu yang konsisten dengan harapan, keyakinan, atau pikirannya mengenai suatu kejadian atau perilaku, halmana menyebabkan kejadian atau perilaku itu cenderung terjadi. Pendek kata, harapan akan sesuatu membuat sesuatu itu betul-betul terjadi. Misalnya Anda memiliki harapan menikah dengan orang Bugis. Maka Anda berperilaku mengarah pada pemenuhan harapan itu. Mungkin Anda akan berusaha berkenalan dengan sebanyak-banyaknya orang Bugis, tinggal di daerah Bugis, memacari orang Bugis, mengabaikan orang yang tertarik pada Anda jika orang itu bukan orang Bugis, dan seterusnya. Nah, akibatnya Anda benar-benar menikah dengan orang Bugis.

Efek pemenuhan harapan diri bisa berpengaruh dalam menilai orang lain. Misalnya Anda yakin bahwa orang yang bertato itu preman dan jahat. Lalu ketika Anda menemui seorang preman, Anda jadi takut dan gemetar (hal tersebut konsisten dengan keyakinan Anda bahwa preman jahat sehingga harus ditakuti). Akibatnya sang preman berani meminta uang pada Anda. Nah, harapan Anda akan perilaku preman terpenuhi. Akibat kejadian itu, Anda menjadi semakin yakin bahwa keyakinan Anda tentang preman adalah kebenaran.

Merupakan hal biasa seseorang bertingkah laku sesuai dengan harapan orang lain. Jika Anda mengharapkan seorang kekasih selalu berperilaku mesra, maka akan boleh jadi kekasih Anda selalu menunjukkan perilaku mesra. Artinya, harapan Anda tentang sesuatu ditransfer pada seseorang, dan orang itu memenuhi harapan Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s