Tatalaksana Autisme


A. Pendahuluan

 

Metode yang dikenal dengan metode Lovaas, berdasarkan pada teori disebut dengan“Operant Conditioning Theory” yang dipelopori oleh B.F Skinner seorang behavioralist. Dasar dari teori Skinner sendiri ini adalah pengendalian perilaku melalui manipilasi dari imbalan dan hukuman. Skinner sendiri percaya bahwa sebenarnya orang yang telah memberinya kunci untuk memahami perilaku adalah Pavolv, seorang physiologist Russia dengan Theory ofClassical Conditioning. Pavolv mengatakan: kendalikanlah kondisi (lingkungan) dan kita akan melihat tatanan (order).

Modifikasi perilaku (behaviour modification) ini yang pada mulanya adalah cara untuk melatih hewan percobaan dengan sistematis menggunakan imbalan dan hukuman, seperempat abad belakangan ini telah berkembang menjadi pendekatan ilmu pendidikan (pedagogicalapproach) yang sangat jelas dan efektif.

Ivar Lovaas seorang psikolog klinis,sejak tahun 1964 menggunakannya dalam upayanya membantu anak-anak dengan gangguan perkembangan lalu ia mencoba menggunakan metode ini untuk melatih anak-anak autis di UCLA.

Metode yang didasarkan terutama pada pemecahan tugas-tugas, termasuk tugas yang kompleks, abstrak seperti komunikasi menggunakan bahasa menjadi serangkaian langkah secara runtun, setiap langkah menyiapkan jalan untuk langgkah berikutnya. Mengajar dengan menggunakan “discrete trials” orang tua dan terapis bekerja sebagai tim untuk menciptakan suasana belajar yang sangat terstruktur dan konsisten. secara berangsur-angsur si anak tidak hanya dapat mengerti “discrete bits” dari masalah pokok yang diajarkan, tetapi lebih penting lagi untuk memfokuskan perhatian mereka, berkonsentrasi dengan lebih efektif, dan dengan itu dapat belajar dengan lebih mudah. Begitulah akhirnya mengapa metode ini juga dikenal dengan kata discrete trial training.

 

 

B. Hari-hari Seorang Terapi Wicara (Pengalaman Profesional)

 

Pada kunjungan pertama biasanya si Terapi Wicara mengadakan evaluasi awal untuk mengetehui kira-kira pada tingkat mana si anak berada dalam kemampuannya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dan bicara. Evaluasi awal ini dapat dilakukan secara formal dengan menggunakan tes-tes standar yang ada ukurannya, atapun secara evaluasi informal dan observasi.

adapun pokok-pokok yang diambil sebagai tolak ukur oleh si terapi wicara antara lain: Pendengaran; Oral Peripheral Mechanism Evaluation atau daerah sekitar mulut; Evaluasi suara; Artukulasi atau pembentukan vokal; Speech evaluation untuk menganalisa karakteristik dan struktur tutur bicaranya; Konsep bahasa (Language) terdiri dari bahasa reseptif atau pemahaman bahasa dan ekspretif atau berbicara; dan lain-lain. misalnya: perilaku; dan attention span. Dirangkum dengan Parent interview: untuk mengetahui latar belakang si anak dan riwayat perkembangannya, serta keterangan-keterangan lain.

 

 

B.2. Temu Orang Tua (Parent Conference) 

 

Setelah selesai si terapis membuatkan laporan tertulis dan lisan kepada orang tua, menjelaskan karakteristik dari bicara si anak, yang selain digunakan untuk referensi awal, juga sebagai lampiran pada profesional lain mengenai apa yang telah ditemukan oleh terapi wicara. Semua ini dirangkum dengan temu orang tua atau parent conference untuk membicarakan temuan dari terapis; karakteristik bicara si anak; dan rekomndasi dari terapis. Sementara ini tugas terapis wicara berhenti sampai disini, memberi kesempatan pada orang tua untuk berkonsultasi dengan profesional yang lain, juga untuk mempertimbangkan apakah mereka menyetujui metode yang akan digunakan untuk menangani anak mereka bila mereka ingin meneruskan ke terapi.

Orang tua sendiri biasanya melewati tahapan yang biasanya diidentifikasi sebagai masa:Grief (Keluhan); Guilt (Perasaan Bersalah); Rejection (Penolakan); Anger (Kemarahan);Acceptance (Penerimaan), dengan masa dan kesiapan yang berbeda-beda. ada yang dapat melaluinya dengan masa yang singkat, ada yang terus- menerus terbawa atau berada pada satu tahapan tanpa bisa melaluinya hingga sampai pada penerimaan.

Salah satu hal yang membantu keberhasilan dalam melakukan tatalaksana pada penyandang autisme adalah kesiapan dari orang tua si anak untuk menerima keadaan anaknya itu. Dengan kata lain, orang tua sudah siap untuk melangkah bersama terapis atau profesional yang terkait dalam membantu anak menghadapi masa-masa sulit, yang nantinya akan bermanfaat untuk si anak.

 

 

C.Langkah Awal Membantu Anak Penyandang Autisme (Lovaas)

 

Sekelumit Teori Lovaas

 

Teknik Lovaas yang berdasarkan “Behaviour Modification” atau “Discrete Trial Training” menggunakan urutan : A-B-C.

A atau Antecedent (pra kejadian) adalah pemberian intruksi, misalnya: pertanyaan, perintah atau visual. Berikan waktu 3-5 detik untuk si anak memberi respons.Dalam memberikan intruksi perhatikan bahwa si anak ada dalam keadaan siap (duduk, diam, tangan kebawah).Suara dan intruksi harus jelas, dan intruksi tidak diulang. Untuk permulaan, gunakanlah SATU kata perintah.

B atau Behaviour (perilaku) yaitu respon anak. Respon yang diharapkan haruslah jelas dan anak harus memberi respons dalam 3 detik. Mengapa demikian, karena ini normal dan dapat meningkatkan perhatian.

Consequence (konsekuensi atau akibat). Konsekuensi haruslah seketika, berupa reinforcer atau “TIDAK”.

 

 

Contohnya:

(1) Untuk respons yang BENAR; A- bila intruksi diberikan yaitu: “tepuk tangan;” B- anak menepuk tangannya; C- terapis berkata “BAGUS” sebagai imbalan positif.

(2) Untuk respons yang SALAH; A- bila intruksi diberikan yaitu: “tepuk tanagn;” B- anak melambaikan tangannya; maka C- terapis berkata “TIDAK”

(3) Tidak ada respons; A- bila intruksi diberikan yaitu: “tepuk tangan;” B- anak tidak mengerjakan apa-apa; maka C- terapis akan mengatakan “LIHAT” atau “DENGAR”(prompt atau bantuan).

 

Reinforcers

 

Reinforcers adalah konsekuensi yang diberikan setelah perilaku, dimana reinforcers ini akan memungkinkan perilaku itu untuk terulang dalam kondisi yang sama ATAU reinforcers itu adalah konsekuensi yang akan menambah frekuensi terjadinya perilaku itu.

Reinforcers yang positif akan berbentuk: pujian, pelukan, elusan ataupun kelitikan yang menyenangkan. Makanan dan minuman dapat dijadikan reinforcers, maupun aktivitas yang menyenangkan seperti menyanyi, menempelkan gambar-gambar. Istirahat untuk bermain-main dari belajar dan bermain sendi adalah reinforcers dalam bentuk lain. Reinforcers dapat berbentuk apa saja asalkan itu adalah sesuatu yang disenangi oleh anak dan ia akan berperilaku lebih baik untuk mendapatkannya. sesuatu yang menyenangkan bagi anak yang satu, belum tentu menyenangkan  untuk anak yang lainnya.

Bila kita mengajarkan perilaku yang baru, imbalan sebaiknya diberikan setiap kali si anak mengerjakan yang diperintahkan kepadanya, walaupun kita memberikan bantuan atauprompt, untuk memberikan hasil yang baik. Selanjutnya imbalan dapat dikurangi sedikit demi sedikit dan dihilangkan sama sekali bila perilaku yang diinginkan sudah terbentuk.

Reinforcers harus bermacam-macam agar si anak tidak bosan. Gunakanlah reinforcers yang dapat dengan mudah dan cepat diberikan, dan selalu disertakan dengan pujian. Reinforcersini hanya ia dapatkan pada waktu belajar dan tidak diluar aktifitas belajar.

 

 

Prompt

 

Prompt adalah bantuan atau apa saja yang bersifat membantuagar si anak dapat menjawab dengan benar. Setelah sianak menjawab atau memberikan respons yang benar, dia lalu diberikan reinforcers yang positif.

Prompt yang biasa diberikan:

FISIK- Secara Fisik si anak dibantu untuk merespons dengan benar.

MODEL- Si anak diberi contoh agar ia dapat meniru dengan benar.

VERBAL- Mengucapkan kata yang benar untuk diniru, atau menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh sianak, atau menanyakan misalnya “apa lagi?”

GESTURAL- Secara isyarat, dengan menunjuk, melirik, ataupun gerakkan kepala.

POSITIONAL- Dengan meletakan apa yang diminta lebih dekat dengan si anak dari pada benda-benda lainnya yang kita minta untuk membedakan.

 

 

Bilakah kita perlu memberi PROMPT

Apabila si anak tidak dapat dengan berhasil mengerjakan atau memberi respons (contohnya bila mengerjakan tugas yang baru). Sebagai aturan yang umum promptlah dengan seketika setelah perintah diberikan.

Gunakanlah prompt sedikit mungkin dan seperlunya, dan hilangkan secepat mungkin agar si anak tidak menjadi tergantung pada bantuan tersebut.

 

 

Analisa Tugas

 

Bila tugas yang kompleks di pecah-pecah menjadi langkah-langkah kecil berurutan, sianak akan lebih mudah mengerti dan akan dapat lebih sering mengalami keberhasilan.

Untaian Rantai (chaining): Langkah-langkah berantai yang bila dikerjakan akan menjadi satu tugas kompleks pada akhirnya.

Forward chaining: dimulai dengan mengajarkan langkah pertama, dan membantu anak dengan langkah-langkah berikutnya. dari suatu pekerjaan yang kompleks. Bila anak telah menguasai langkah yang pertama, maka ajarkanlah langkah yang kedua, dan tetap langkah-langkah berikutnya si anak dibantu mengerjakannya sampai selesai. Prosedur ini diulang sampai seluruh langkah dari analisa tugas ini dikuasai oleh si anak. Misalnya: mengajarkan makan secara mandiri, langkah-langkah yang diajarkan contohnya: memegang sendok,-mengambil makanan dengan sendok- memasukan sendok kedalam mulut-dan mengeluarkan sendok dari dalam mulut.

Sedangkan backward chaining adalah mengajarkan kebalikannya, yaitu dengan mengerjakan langkah yang terakhir dahulu.

 

 

Jenis Ajaran

 

LANGSUNG: Mengajar langsung secara struktur, dengan obyektif dan cara penyampaian yang sudah ditentukan.

SITUASI YANG DIRANCANG: Belajar dengan situasi yang telah dirancang. Misalnya: untuk mengajarkan “BUKA,” berilah si anak sesuatu untuk DIBUKA.

KEBETULAN: Mengajarkan sesuatu secara kebetulan dengan mengikuti yang dikerjakan si anak. Beri respons pada anak yang dilakukan.

AKTIVITAS dengan INSTRUKSI: Mengajarkan sesuatu dengan langkah-langkah yang sudah ditentukan, misalnya: memasak.

 

 

Apa dan Bagaimana Mengajar

 

1.   Dengan menggunakan kurikulum (lihat lampiran):

kita dapat memilih dan menggunakan obyektif-obyektif yang ada sesuai dengan kemampuan si anak. Biasanya 15-20 obyektif setiap tahapnya (untuk 3-6 bulan). Mulailah dengan 3-5 obyektif, dan bertahap tambahkan aktifitas lain bila si anak sudah dapat lebih mentoleransi waktu belajar yang lebih lama dan session yang lebih sering. Kurikulum ini dibagi menjadi kemampuan siap sendiri, kemampuan meniru gerakan motorik halus sampai oral; kemampuan pemahaman bahasa dan bahasa ekspretif; kemampuan pre-akademik;dan kemampuan bantu diri

2.   Kriteria bahwa aktivitas tertentu telah dicapai (scoring):

Pengambilan data disini sangatlah penting untuk intervensi yang efektif juga mencegah penghentian program atau aktifitas secara prematur. Ada beberapa cara untuk menilai kemajuan di antaranya:

a. Kriteria 80% tercapai dari 10 trial pertama dalam tiga kali waktu yang berbeda-beda secara urut.

b. Anak memberi respons yang benar untuk tiga kali yang pertama pada session itu maka ia akan mendapat “A” sebagai Achieved atau tercapai, dan terjadi dalam tiga kesempatan yang berbeda, idealnya dengan tiga orang yang berbeda.

3.   Maintenance:

Untuk memelihara yang sudah dapat dikerjakan, dengan mengulang sekali-sekali.

 

 

Menangani Anak yang Memberontak

 

Masa-masa permulaan menghadapi anak Autis dapat sangat sulit. Seketika kita meminta si anak mengerjakan sesuatu (misalnya: duduk), si anak akan memberontak secara verbal atau menggunakan fisiknya.

Pilihlah reinforcer yang ia sukai, tentukan waktu belajar dan akivitas yang singkat-singkat dan kembangkan bila toleransi si anak membaik. berikan reinforcer seketika bila ia dapat duduk dengan tidak menangis.

Pada awalnya ini berarti menggunakan fisik untuk mengambil si anak, mendudukannya pada kursi , beri reinforcer, dan biarkan dia pergi. Secara bertahap waktu duduk bertambah lama. Ini akan mengajarkan si anak bahwa menangis atau kelakuan negatif lainnya tidak akan ada pengaruh bila si terapis mengintruksikan sesuatu. Perkataan “TIDAK” akan sangat berguna untuk mengajarkan sesuatu yang tidak boleh dikerjakan.

Hasil yang positif dapat juga didapatkan dengan mengajarkan kemampuan alternatif yang lain untuk menggantikan perilaku yang bermasalah. Misalnya: dari pada melempar segala yang ada di atas meja, si anak harus memasukannya ke dalam ember.

 

 

Sekelumit Praktek Lovaas

 

Sebelum memulai dengan terapi itu sendiri orang tua dan terapis biasanya membicarakan persiapan untuk memulai terapi. Karena metode ini tidak dapat ditangani sendiri, maka sebaiknya suatu tim dibentuk dengan suatu jadwal yang akan dilalui oleh anak. Dalam mengerjakan metode Lovaas maka anak akan dituntut waktu untuk belajar tidak kurang dari 40 jam perminggu, adanya suatu tim terapis dan orangtua yang dijadwalkan bergantian memberikan drill, dan biasanya pertemuan rutin 2-3 minggu sekali oleh anggota tim untuk membahas segala sesuatu yang dialami bersama anak termasuk memastikan intruksi dan program yang dipakai selalu sinkron.

 

 

 

Tujuan Program Secara Umum:

 

1.  Usaha suatu tim pengajar- para guru bekerja sama dan anak dan guru bekerjasama.

2.  Compliance(kepatuhan), misalnya duduk dan siap bila diminta.

3.  Mengurangi self-stimulatory dan perilaku yang agresif

4.  Mengajarkan kemampuan menirukan secara umum.

5.  Setelah pra-kemampuan diajarkan, perkenalkan anak yang lain sebagai model

6.  Ajarkan suatu cara untuk berkomunikasi:

a.     Berbicara

b.  Gambar, misalnya menggunakan COMPIC sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara.

c.     Bahasa isyarat, biasanya tidak begitu disarankan karena kemungkinan penggunaaanya sebagai cara untuk self stimulatory. Bahasa isyarat ini juga seharusnya tidak boleh diajarkan pada anak yang masih sangat kecil (di bawah 4 tahun) yang konsep bahasanya kemungkinan terlambat, atau anak-anak yang belum banyak menerima verbal training.

7.   Ajarkan anak bermain secara mandiri dan dengan anak yang lain

8.   Ajarkan kemampuan pra-sekolah (misalnya menggunting, menempel, duduk di lantai)

9.   Ajarkan kemampuan bantu diri (untuk ke kamar mandi)

10. Ajarkan kemampuan bersosialisasi (misalnya menyapa “halo”)

11. Ajarkan kemampuan motorik kasr dan halus

12. Ajarkan bahasa reseptif/ekspretif (kata benda, kata kerja, kemampuan memulai

Pembicaraan)

 

Kemampuan yang telah diajarkan digeneralisasikan ke orang-orang lain dan situasi lainnya.

 

 

D. Terapi Wicara – dan Lovaas

 

 

Koordinasi antara Terapi Wicara dengan program Applied Behavioral Analisys antara lain:

1.Terapi Wicara mengembangkan obyektif untuk bicara serupa dengan program perilaku

untuk mencapai generalisasi.

2.Terapi Wicara turut menggunakan program Discrete Trial sekomunikatif dan funcional

mungkin.

3.Terapi Wicara dapat menambahkan informasi penting tentang bicara dan bahasa pada

4.Terapi Wicara dapat membantu memastikan bahwa semua terapis yang ada

menggunakan kata, perintah dan mainan dalam mencapai tujuan tersebut.

5.Terapi Wicara dapat memberikan informasi kepada timnya tentang perkembangan linguistik yang wajar serta urutan komunikasi yang normal.

6.Terapi Wicara dapat menunjukan bagaimana penyatuan obyektif tersebut untuk kegiatan sehari-hari ataupun aktifitas harian yang misalnya makan, mandi dan waktu tidur untuk membantu generalisasi dan urutan.

7.Terapi Wicara dapat mengembangkan reinforcers yang dapat digunakan seperti mainan, permen, pelukan, pujian dan lainnya.

8.Terapi Wicara seharusnya mengevaluasi bagaimana cara keterampilan bahasa dipakai dalam lingkungan kelas untuk mendapat manfaat yang maksimum dari interaksi ini.

9.Terapi Wicara juga dapat membantu memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan linguistik.

10. Terapi Wicara pun dapat membantu dalam evaluasi dan terapi untuk masalah-masalah yang ada bersamaan dengan masalah autisme yang menyangkut bicara misalnya apraxiadan lain-lain.

 

Kurikulum untuk speech sendiri harus termasuk language technique facilitation (eye-contact, modelling, pemakaian pertanyaan langsung, misalnya “apa ini?”)dll.

 

 

E.Penutup

 

Menurut prof. Ben me Keever dari Washington University, ada dua macam researcher, yaitu pertama shaft sinker, yang bekerja sendiri, bergerak dari satu area ke area lainnya, sinking shaft, mengharapkan menemukan tambang ilmu pengetahuan, menggali di sini dan di sana; yang kedua adalah si pembuat paramid, yang percaya bahwa pengetahuan akan lebih baik didapatkan dengan beberapa orang bekerja sama, dimana setiap informasi yang kecil akan menguatkan dan saling mengisi antar pengetahuan yang di dapat. Dimana tingkatan yang lebih tinggi dibangun setelah tingkatan yang rendah sudah kokoh dan seterusnya. Si pembangun piramid mungkin tidak akan tahu bagaimana bentuk piramid yang akan dibangunnya, tetapi ia akan tahu darimana ia memulainya. Behavioralist dapat dikatakan sebagai pembangun piramid, dan untuk membangun sebuah piramid, dibutuhkan banyak waktu dan kesabaran.

 

 

Daftar Pustaka

 

Adms F.Initial  taining workshop Applied Behavior Analysis and Discrete Trial Teaching for Children with autism. ISADD

Lovaas OI, Ackerman A, Alexander D, Firestone P, Perkins M, Young DB, Carr EG,Newsome C. Teaching developmentally disabled children: The ME book. Pro-Ed, Austin-Texas, 1981.

Maurice C. Let me hear yaour voice. Fawcett Columbine, New York, 1993

Maurice C, Green G, Luce SC. Behavioral intervention for young children with autism:A manual for parents and professionals. Pro-Ed, Austin-Texas, 1996.

Thompson  CE. Raising a handicapped child. Ballantine, New York, 1986.

Pervin LA. Personality: Theory, assessment, and research. John Wiley & Sons, Canada 1980.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s