CERDAS TAPI TERLAMBAT BICARA BAGAIMANA JIKA MASUK SEKOLAH DASAR?

DR. Julia Maria van Tiel 


Pendahuluan 
Selama ini kita sudah memahami, bahwa setiap anak mempunyai pola tumbuh 
kembang tersendiri, artinya tumbuh kembang anak-anak adalah unik dan beragam. Sekalipun 
demikian kita juga mempunyai pegangan tentang pola normal bagaimana seorang anak 
bertumbuh dan berkembang. Pola ini yang kemudian kita gunakan untuk pegangan kita dalam 
menilai seorang anak apakah ia sudah siap masuk sekolah dasar atau belum. 
 Menilai setiap anak apakah sudah mempunyai kematangan untuk memasuki sekolah 
terutama sekolah dasar adalah hal yang sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar pada saat ia 
menjalani hari-harinya di sekolah, dan mengerjakan tugas-tugasnya, kegiatan pendidikan 
mempunyai kesesuaian dengan tahapan dan tingkat perkembangannya. Ia sudah siap 
menerima pembelajaran, terutama berhitung, membaca, dan menulis. Motorik halus 
tangannya sudah siap dan kuat untuk belajar menulis. Begitu juga kordinasi mata tangannya. 
Ia juga sudah bisa berkonsentrasi untuk mendengarkan guru memberikan penjelasan. Ia juga 
sudah bisa dan memahami perintah dan mengerjakan tugas-tugas. Ia sudah juga bisa 
menerima pelajaran yang harus menggunakan kemampuan berpikir, baik untuk menghapalkan 
pelajaran maupun mengerjakan tugas dengan bentuk pelajaran yang membutuhkan 
kemampuan analisa sederhana seperti pelajaran berhitung. 
 Bukan hanya itu saja,  ia juga mempunyai perkembangan bicara dan bahasa yang 
sesuai untuk seusianya, ia dapat bernyanyi di muka kelas, ia dapat melakukan tanya jawab 
dengan guru dan teman-temannya, dan akhirnya ia dapat bergaul dengan sesama temantemannya. 
 Untuk berangkat sekolah, menjalankan  tugas-tugas sekolah juga dibutuhkan 
kemandirian seorang anak. Secara mental ia siap berangkat ke sekolah untuk masuk ke dalam 
                                                
1
 Diterbitkan untuk penyuluhan bagi guru Sekolah Dasar dan orang tua. Februari 2009 
2
 CI/BI = Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa sebuah lingkungan dengan pergaulan yang lebih  luas. Ia mampu secara mandiri menerima 
pembelajaran dan belajar memperluas apa yang sudah diterima dengan cara mengerjakan 
tugas-tugas pekerjaan rumah.  
Pendek kata, seorang anak agar dapat mengikuti pendidikan dengan baik dibutuhkan 
kematangan anak dan kesiapan masuk sekolah.  Kematangan ini bukan hanya kematangan 
fisik, tetapi juga psikologis, sosial, emosional, bicara dan bahasa, inteligensi, serta 
kemandiriannya. Patokan ini selalu kita gunakan untuk anak-anak pada umumnya. Namun 
bagaimana jika kita menghadapi  murid baru atau anak kita yang ternyata mengalami 
keterlambatan bicara? Anak-anak terlambat bicara yang dimaksud disini, yang sebenarnya 
adalah  anak-anak normal, tidak mengalami  cacat neurologis, hanya saja ia mengalami 
perkembangan yang berbeda. Ia juga tidak mengalami gangguan perkembangan inteligensi, 
bahkan banyak diantaranya yang justru merupakan anak-anak yang cerdas bahkan cerdas 
istimewa (gifted children). Apabila anak-anak terlambat bicara ini diperlakukan dengan 
menggunakan tes kematangan untuk anak-anak normal, tentu saja ia akan tidak lulus. Banyak 
hal,  yang ternyata  mempunyai prestasi perkembangan berada di bawah patokan rata-rata 
anak normal, yaitu mengalami keterlambatan  perkembangan bicara dan bahasa, mengalami 
ketertinggalan perkembangan sosial, dan juga mengalami ketertinggalan perkembangan  
motorik halus. Bahkan kadang ditemui juga anak-anak ini yang tertinggal dalam kemandirian. 
Sekalipun ia mempunyai perkembangan inteligensi yang lebih maju daripada anak-anak lain, 
ia juga mempunyai gaya belajar yang berbeda. Apabila anak-anak ini dilakukan tes inteligensi 
(IQ), profil yang ada masih belum harmonis dan jika dilakukan rata-rata skor IQ seringkali 
menunjukkan IQ berada di bawah rata-rata  normal, hal ini karena ia masih dalam 
perkembangan dan mempunyai profil IQ yang belum harmonis.  
Apa yang harus kita lakukan  dalam menghadapi  anak-anak ini? Menundanya masuk 
sekolah dasar, atau tidak? 
 Dalam mengahadapi anak-anak seperti ini pihak sekolah sering mengalami keraguan, 
dan tidak jarang menyatakan si anak belum siap untuk masuk sekolah dasar. Namun dalam 
kenyataannya ia mempunyai beberapa ketrampilan dan kepandaian yang lebih maju daripada 
teman sebayanya, sekalipun IQ  rata-ratanya menunjukkan skor berada di bawah rata-rata 
normal. Banyak diantara anak ini sudah pandai membaca, berhitung, bahkan menulis saat 
anak-anak lain belum dapat melakukannya, namun tetap pihak sekolah sering ragu-ragu 
menerimanya.  
Perlu segera masuk SD umum dengan pendekatan khusus 
 Jawaban yang harus kita pegang adalah bahwa anak-anak terlambat bicara sekalipun ia 
mengalami prestasi perkembangan bicara dan  bahasa yang belum memuaskan, mengalami 
ketertinggalan perkembangan sosial dan emosional, serta mengalami ketertinggalan motorik 
halus, bahkan sulit menerima pelajaran dengan metoda konvensional, ia tetap perlu masuk ke 
sekolah dasar umum sebagaimana anak-anak lainnya, serta pada waktunya (tidak ditunda). 
Sekalipun berada di sebuah sekolah umum atau reguler,  ia juga memerlukan perhatian ekstra 
karena adanya beberapa kelemahan yang dipunyainya. Walau ia  mempunyai perkembangan 
inteligensi yang jauh lebih maju daripada teman sebayanya, namun ia juga mengalami 
ketertinggalan di beberapa domain tumbuh kembang. Karena itu kepada anak-anak ini memerlukan pendekatan dua arah sekaligus, yaitu faktor kuatnya sebagai anak yang cerdas 
bahkan cerdas istimewa, dan juga perhatian  kepada beberapa kekurangannya yang dapat 
menyebabkan potensi kecerdasannya mengalami hambatan perkembangan. Anak-anak ini 
mengalami disinkronitas perkembangan, dan baru akan mengalami normalisasi perkembangan 
saat ia menjelang pubertas. Di usia dini dan usia sekolah dasar,   memerlukan bantuan lebih 
serius baik dari orang tua, sekolah,  maupun lingkungannya, agar masa-masa sulit dalam 
tumbuh dan kembangnya, dapat dilaluinya  dengan baik, serta potensi kecerdasannya pun 
mendapatkan dukungan sehingga dapat lebih berkembang dengan baik. 
 Alasan bahwa ia perlu masuk sekolah  dasar umum dan tidak dilakukan penundaan 
adalah: 
1) seorang anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa 
sebenarnya anak normal hanya saja ia mengalami perbedaan perkembangan, dan ia 
juga tidak mengalami gangguan neurologis; 
2) seorang anak yang mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa, 
gangguan perkembangan ini mempunyai prognosa  (prakiraan ke depan) yang baik, 
dimana di usia menjelang pubertas, dengan pembinaan yang baik umumnya akan 
mengalami normalisasi perkembangan; 
3) anak-anak ini tidak mengalami gangguan perkembangan inteligensi, bahkan banyak 
diantaranya yang mempunyai kecerdasan yang sangat baik.  
Bagaimana jika dilakukan penundaan sebagaimana harapan yang seringkali terjadi dengan 
maksud agar ia matang terlebih dahulu? Tentu saja hal ini akan “membahayakan” 
perkembangannya selanjutnya. Karena ia mempunyai dorongan internal  (dari diri sendiri) 
untuk mengembangkan kecerdasannya yang tidak bisa ditunda-tunda. Ia membutuhkan 
pendidikan segera yang terstruktur dan menantang. Penundaan masuk ke sekolah artinya 
adalah penghambatan bagi  dorongan internalnya, dan penghambatan ini hanya akan 
memunculkan kebosanan dan kefrustrasian yang dapat menyebabkan masalah-masalah lain 
seperti masalah perilaku yang memunculkan perilaku agresi, atau sebaliknya penarikan diri 
dan depresi, serta masalah psikosomatik (gangguan sakit-sakit fisik yang disebabkan karena 
psikologis). Masalah-masalah seperti ini umumnya sulit rehabilitasinya. Karena itu penting 
artinya agar kita juga memberikan perhatian bagi perkembangan kecerdasannya secara 
terstruktur dan menantang bagi dirinya. Agar ia merasa bahagia dan dapat berkembang 
dengan perasaan aman dan sehat.  
Keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa  
 Keterlambatan bicara sebetulnya bukan suatu diagnosa, keterlambatan bicara adalah 
gejala dari suatu keadaan, seperti gangguan pendengaran, retardasi mental, autisme, serta 
gangguan otot-otot mulut dan pernafasan.  Atau dapat disebabkan juga karena stimulasi 
bahasa yang sangat kurang memadai sehingga menyebabkan prestasi bicara dan bahasanya 
mengalami hambatan perkembangan. 
 Gangguan perkembangan bicara dan bahasa seperti yang dimaksud dalam artikel ini 
seringkali disebut juga  gangguan bicara dan bahasa ekspresif, karena yang terganggu 
adalah kemampuan penyampaian bahasa verbalnya (ekspresif), sedang kemampuan 
penerimaan bahasanya baik (reseptif). Ia  juga mempunyai kemampuan bahasa non verbal 
(bahasa mimik atau bahasa simbolik) yang  baik.  Para ahli patologi bahasa sering 
menyebutnya dengan istilah  Spesific Language Impairment  (SLI) atau gangguan bahasa spesifik. Disebut spesifik adalah karena gangguannya merupakan gangguan yang disebabkan 
perkembangannya sendiri, bukan karena hal-hal lain. Artinya disini gangguannya merupakan 
gangguan primer disebabkan karena masalah gangguan perkembangan bicara dan bahasa saja. 
Pada penyandang autisme atau mental retardasi, gangguan bicara dan bahasanya merupakan 
gangguan skunder, karena masalah bicara dan bahasanya disebabkan oleh masalah 
autismenya atau pada retardasi mental karena masalah gangguan perkembangan 
inteligensinya.  
 Para neurolog (dokter ahli syaraf) biasanya menyebut gangguan perkembangan bicara 
dan bahasa eskpresif  dengan istilah Pure Dysphatic Development (gangguan perkembangan 
dysphasia murni). Dysphasia artinya adalah gangguan bicara dan bahasa, maka gangguan 
bicara dan bahasa ini disebabkan karena  memang murni oleh gangguan perkembangannya. 
Para ahli psikologi yang menspesialisasikan diri pada anak-anak cerdas istimewa memberi 
istilah pada anak-anak ini sebagai visual spatial gifted learner. Istilah visual spatial learner
diberikan karena anak-anak ini mempunyai perkembangan gaya belajar yang lebih ke arah 
gaya belajar visual, serta mempunyai kemampuan dimensi (pandang ruang) yang sangat baik. 
Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh anak-anak ini sekalipun mempunyai gejala yang 
agak-agak berbeda, namun ada patokan yang dapat kita gunakan.  
Dari berbagai literatur, dikatakan bahwa, seorang anak dikatakan  mengalami gangguan 
perkembangan bicara dan bahasa spesifik ini adalah jika tidak  diikuti atau disebabkan
karena hal-hal di bawah ini: 
• Inteligensi di bawah rata-rata. Bila anak-anak ini diberi tes IQ dengan tes Weschler 
untuk anak-anak (WISC), maka IQ performansi tidak boleh di bawah normal (di 
bawah skor 85). 
• Tidak  ada gangguan pendengaran, dimana batas ambang pendengaran adalah 25 
dBHL. Anak-anak dengan gangguan perkembangan bicara dan bahasa  ekspresif ini, 
ambang dengarnya  tidak boleh lebih dari 25 dBHL. 
• Bukan akibat dari gangguan pada organ-organ bicara, seperti misalnya gangguan otototot mulut,  bibir  sumbing dan langit-langit sumbing, gangguan otot-otot pernafasan 
serta gangguan pita suara. 
• Tidak ada gejala parah maupun ringan   cacat/gangguan neurologis (sistem syaraf 
pusat atau otak)  
3
• Tidak ada gangguan kontak sosial seperti halnya autisme 
• Tidak terdapat adanya sajian bahasa yang sangat kurang, atau karena menggunakan 
beberapa bahasa sekaligus (multibahasa), atau disebabkan karena sakit sangat lama 
sehingga tidak dapat mengembangkan kegiatan berbicara dan berbahasa. 
Sebelum mengarahkan kepada gejala gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif, 
maka faktor-faktor di atas harus disingkirkan terlebih dahulu. 
Sekalipun anak-anak gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif  ini telah 
mendapatkan perawatan medis, mendapatkan terapi wicara, maupun mendapatkan terapi 
edukasi, namun masalah keteringgalan perkembangan bicara dan bahasanya tetap 
                                                
3
 Gejala adanya cacat/gangguan neurologis pada sistem syaraf pusat di otak dapat dilihat melalui pemeriksaan 
fisik seperti sistem refleks dan motorik, maupun pemeriksaan melalui pencitraan otak.  sebagaimana adanya. Artinya, kita memang harus menunggu kematangan perkembangan 
neurobiologisnya.  
Dengan demikian gejala  dari gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif 
adalah: 
1. Mempunyai perkembangan bahasa reseptif yang baik atau normal  dibanding dengan   
kemampuan rata-rata anak seusianya (pemahaman bahasa lebih baik daripada produksi 
bahasa).  
2. Gangguan pada gangguan bahasa ekspresif (produksi bahasa lebih rendah daripada 
pemahaman bahasa, gangguan kesulitan menyampaikan pikiran dalam bentuk verbal). 
3. Komunikasi dialog lebih sulit daripada berbicara spontan, sebab komunikasi dialog berada 
di bawah situasi komando
4
 .
4. Terganggunya kelancaran bicara terutama yang menyangkut pencarian daftar kosa kata 
dalam memori ( finding words), dan kesulitan menyatukan elemen dalam sebuah cerita. 
5. Kesulitan membangun kalimat dan bentuk kata-kata. 
6. Menyampaikan sesuatu dengan menunjuk-nunjuk, menarik-narik, atau dengan suarasuara: aah…uuhh…uuhh…uuuuh
Gejala-gejala di atas adalah gejala yang dapat kita lihat secara langsung dalam suatu 
pengamatan atau observasi.  
Dalam pemeriksaan lainnya  akan memperlihatkan: 
1. Pada pemeriksaan dengan menggunakan tes IQ (WISC)  akan menunjukkan inteligensi 
normal hingga tinggi (tes inteligensi menunjukkan performansi IQ normal atau lebih 
tinggi dari rata-rata anak seusianya, walaupun verbal IQ rendah) 
2. Pada penelusuran tumbuh kembang bicara dan bahasa, dilaporkan tidak mengalami 
gangguan pada jadwal perkembangan fase pra-lingual/pra-verbal. Anak mempunyai 
periode membentuk bunyi-bunyian tidak begitu banyak, sekalipun dapat dikatakan bahwa 
ia  mempunyai periode babbling. Ia mulai membentuk bunyian sebagai dasar 
pembentukan kata-kata (dada mama papa). Bahkan dilaporkan juga diantaranya ada yang 
sudah mulai berbicara (periode awal verbal/lingual dini) dengan kemampuan 
menyebutkan beberapa kata, namun  tidak begitu banyak, perkembangan itu tidak 
berlanjut berkembang membangun sebuah kalimat. 
3. Dalam pemeriksaan otot-otot sekitar mulut, tidak mengalami gangguan motorik otot-otot 
yang mendukung bicara (dyspraxia). Ia juga bisa mengucapkan bunyi-bunyian dengan 
baik.  
4. Pada pemeriksaan neurologi, tidak ada tanda-tanda mengalami gangguan neurologis 
(antara lain keseimbangan motorik kasar baik, mempunyai refleks yang baik, atau 
gangguan-gangguan lain yang menunjukkan sebagai gangguan neurologis) 
5. Mempunyai perkembangan emosi sosial yang baik sebagai dasar belajar berkomunikasi. 
6. Mempunyai kemampuan membaca bahasa isyarat (komunikasi non-verbal) 
7. Mempunyai perilaku yang relatif normal.  
                                                
4
 Dalam komunikasi dialog, misalnya tanya jawab, maka ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 
diajukan orang lain. Situasi ini artinya berada di bawah komando orang lain. Perlu dibedakan  
Sekalipun anak-anak ini mempunyai perkembangan sosial yang terlambat, namun 
dalam memberikan pendidikan dan pengasuhannya di rumah ia memerlukan metoda 
pendidikan dan intervensi yang berbeda dengan autisme yang juga mengalami gangguan 
perkembangan sosial. Pada anak-anak gangguan  perkembangan bicara dan bahasa ekspresif 
ini, ketertinggalan perkembangan sosialnya lebih disebabkan karena perkembangan bicara 
dan bahasanya. Apabila masalah ketertinggalan perkembangan bicara dan bahasanya dapat 
dikejar, maka masalah ketertinggalan perkembangan sosialnya juga dapat dikejarnya.  
 Dalam memberikan metoda pengajaran, ia juga perlu dibedakan selain dengan anakanak penyandang autisme, juga dengan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan 
inteligensi. Anak-anak gangguan perkembangan bicara dan bahasa ini membutuhkan materimateri belajar yang menantang, yang lebih kepada pemecahan masalah, hindari  drilling, 
namun perlu diajarkan strategi belajar tingkat rendah (menghapal). Anak-anak ini lebih kuat 
pada logika matematika dan pemecahan masalah daripada pelajaran menghapal. Sedang anakanak penyandang autisme dan yang mengalami gangguan perkembangan inteligensi 
memerlukan bimbingan belajar tahap pertahap secara terstruktur.  Anak-anak penyandang 
autisme dan gangguan inteligensi mengalami keterbatasan pada kemampuan pemecahan 
masalah dan logika matematika.  
Perkuat kemampuan berbahasa 
 Salah satu kelemahan yang paling besar dari anak-anak yang mengalami 
keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa ini adalah kesulitan dalam pelajaran bahasa 
dan pelajaran yang menggunakan teks. Kelak saat ini masih di sekolah dasar akan mengalami 
kesulitan berbahasa: membuat karangan (menyatukan elemen cerita), melakukan tanya jawab, 
kesulitan gramatika, dan mengalami kesulitan bahasa ekspresif terutama saat sesi komunikasi 
karena kesulitan pada finding words (mencari daftar kosa kata dalam memori). 
 Karena jumlah kosakata pasif maupun aktif yang masih di bawah rata-rata anak 
seusianya menyebabkan anak-anak ini juga  akan mengalami gangguan pemahaman bacaan. 
Karena itu kepadanya selalu diupayakan untuk meningkatkan daftar kosa kata, logika bahasa,  
analogi bahasa, dan gramatika. Akhirnya  berlatih membuat karangan dan menjawab 
pertanyaan secara essay.  
 Kesulitan pada pemahaman bahasa (ketertinggalan kemampuan semantik) akan juga 
menyebabkan ia mengalami kesulitan pada soal-soal pilihan berganda.  
 Kepada anak-anak ini akan lebih bijaksana jika hanya diberikan satu bahasa (tidak 
bilingual ataupun multilingual), sebab anak-anak ini mengalami keterlambatan bicara dan 
tengah belajar mencari salah satu bahasa sebagai bahasa ibu. Kesempatan mengajarkan 
multibahasa padanya saat masa krisis berbahasa dapat menyebabkan hilangnya fungsi bahasa 
ibu yang justru berisi muatan emosi. Hilangnya bahasa ibu yang bermuatan emosi dapat 
mempengaruhi ikatan ibu-anak yang penting dalam menunjang tumbuh kembangnya.  
Faktor keberbakatan/berkecerdasan istimewa  Hal yang cukup penting agar kita dapat membedakan bahwa apakah anak kita adalah 
seorang anak yang mempunyai kecerdasan yang baik, dan tidak mengalami gangguan 
perkembangan inteligensi (sekalipun terlambat dalam perkembangan inteligensi verbal), maka 
beberapa hal perlu kita perhatikan. Hal-hal di bawah ini dapat digunakan oleh guru dengan 
bantuan orang tua untuk menelusuri kembali riwaat perkembangan anak-anak tersebut. 
1.Kapasitas intelektual secara umum 
Hal ini berkaitan dengan: 
• kecepatan dalam penangkapan pengertian; 
• kemampuan dan kecepatan mencari solusi  problem meski hanya  sedikit petunjuk 
terhadap inti permasalahan; 
• selalu ingin segera dan cepat-cepat menyelesaikan problem (tugas sekolah) dengan 
caranya sendiri dan tidak mengikuti langkah-langkah aturan yang diberikan guru; 
• segera menggunakan informasi terbaru dan segera mengolahnya dengan informasi 
yang sudah dimilikinya; 
• mempunyai kemampuan dengan hukum-hukum (dalil-dalil) yang sudah ada yang 
membawanya kearah konsekwensi pemikiran yang lebih jauh. 
 Gelaja  bakat intelektualitas kurang lebih dapat digambarkan sebagai berikut: 
• rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu dengan pertanyaan “mengapa”  terhadap 
berbagai fenomena yang dilihatnya; 
• selalu ingin cepat-cepat mencari sendiri metoda pemecahan masalah, atau berbagai 
variasi pemecahan masalah  guna reproduksi apa yang sudah dicapainya; 
• kesadaran akan pemanfaatan sebuah metoda pemecahan  masalah (terutama dalam 
situasi darurat) yang dipilihnya dengan  dasar pandangannya terhadap masalah yang 
tengah dihadapinya, dengan cara melihat kekurangan dan kelebihannya; 
• kemampuan memanfaatkan keberbakatannya dalam hal abstraksi yang sangat tinggi. 
2.Kreativitas 
 Tentu saja ada berbagai bidang dari seni yang dapat diartikan sebagai kreatif, misalnya 
seni ukir, drama, tari, sastra, musik, dan seni audio-visual.  Mampu menberi warna  gambar 
yang rapih, mampu membuat renda dan bisa menyanyi bagus  belum tentu secara langsung 
merupakan sinyal dari kreativitas. 
Bila kita berbicara soal kreatif  adalah dalam konteks kemampuan yang orisinal, interpretasi 
yang orisinal, atau solusinya yang orisinal  guna menciptakan sesuatu yang bernuansa seni, 
maka kreativitas dapat dikatakan sebagai berikut: 
• dalam membuat gambar/lukisan di mana anak itu mempunyai cara sendiri dalam 
menuangkan  imajinasinya dalam bentuk yang dapat kita lihat dengan mata  misalnya 
berupa lukisan/gambar; 
• dalam mewujudkan imajinasi bentuk tiga dimensi antara bentuk dan maksud dari 
model, ia tampilkan dengan caranya sendiri; 
• dalam menampilkan nuansa musik, ia melakukan interpretasi sendiri yang kemudian 
lebih disempurnakan dengan musik yang sudah ada; • dalam menjalankan peran dalam suatu kegiatan teater, ia mampu menjiwai peran itu 
sehingga mampu menunjukkan apa yang tengah diperankan itu menjadi hal yang 
seolah benar-benar nyata dan hidup; 
• dalam penggunaan alat-alat video-visual ia mempunyai kemampuan yang sangat 
prima dengan caranya yang unik  dalam mewujudkan apa yang dimaksudkan;  
• dalam suatu kegiatan seni sastra ia penuh dengan emosi dalam mewujudkan apa yang 
difikir dan dirasakan itu 
Walau begitu, kreativitas berarti tidak hanya berkaitan dengan seni, yang terpenting 
adalah bagaimana memecahkan suatu problem  dengan caranya sendiri serta mencari tahu 
sendiri problem apa yang tengah terjadi hingga muncullah suatu kreativitas . 
Dalam aspek kreatif ini, fleksibilitas memainkan peranan yang sangat penting, berupa 
hadirnya situasi baru, misalnya adanya kejutan temuan baru, atau kejutan kesalahan, 
pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada perkayaan pencarian temuan-temuan baru. Hal di 
atas justru menantang mereka untuk terus secara mandiri dan dengan kekuatannya sendiri, 
mencari kemungkinan-kemungkinan baru, dan ini semua  merupakan tanda-tanda dari suatu 
kreativitas yang disandang oleh seorang anak cerdas istimewa. Namun dalam mewujudkan 
kreativitas ini, seorang cerdas istimewa juga selalu  menggunakan intuisinya yang sangat 
tajam.  Dalam kenyataannya bisa saja terjadi sesuatu hal diwujudkannya secara tiba-tiba 
(dengan suatu kejutan) berdasarkan intuisi  yang berkaitan  erat dalam proses kemampuan 
kreativitas yang dimilikinya. 
 Pada anak-anak autisme yang juga mengalami keterlambatan bicara, mengalami 
keterbatasan perkembangan kreativitas ini, ia juga mengalami keterbatasan perkembangan 
fantasi dan imajinasinya. Karena itu pada anak-anak autisme akan mengalami keterbatasan 
bidang minatan. Ia hanya terikat pada satu bidang minatan yang seringkali juga kurang 
diwarnai dengan kesan sosial. 
3. Kemampuan yang terus menerus dan motivasi yang tinggi. 
  Aspek ketiga ini adalah bagian dari segitiga Renzulli-Mönks yang merupakan sangat 
erat berkaitan dengan tujuan yang harus dicapai. Dengan kata  lain bahwa anak itu sendiri 
yang menetapkan tujuan akhir apa yang akan dicapainya sehingga menanamkan motivasi dan 
secara emosional berkaitan dengan apa yang  tengah dikerjakan, walaupun sifat ini bukan 
hanya dimiliki oleh anak cerdas istimewa  
saja.  
Mengenali anak dan balita cerdas istimewa 
Gejala anak cerdas istimewa umumnya baru bisa diketahui jika anak tersebut sudah 
mampu menunjukkan adanya loncatan perkembangan kognitif, terutama jika ia mampu 
menunjukkan adanya perkembangan kemampuan pandang ruang  yang mendahului teman 
seangkatannya, sangat detil dan berkembang sangat cepat. 
Kita dapat mengamatinya antara lain dengan memperhatikan kegiatan permainan yang 
dikerjakannya, misalnya saja mengerjakan  puzzel yang sulit, membuat karya gambar yang 
diciptakannya sendiri secara detil dan tiga dimensi, mampu berfikir tentang analogi, membuat 
bangunan tiga dimensi dari alat main. Anak-anak cerdas istimewa adalah anak yang didaktif, ia mampu mengembangkan kemampuan inteligensinya melalui pemahaman terhadap berbagai 
kejadian di alam, dengan begitu kemajuan  berfikirnya seringkali merupakan hasil dari 
pengolahan informasi yang diterimanya.  
Alja de Bruin – de Boer (2003) memberikan beberapa patokan untuk kita semua sebagai 
pegangan untuk melihat gejala-gejala anak-anak  usia 4 – 6 tahun yang mengalami loncatan 
perkembangan,  bahwa kita  bisa melihat dari hal-hal berikut ini :
• Motoriknya berkembang sangat baik : umumnya pada usia yang masih sangat muda 
anak-anak ini mempunyai perkembangan motorik yang lebih baik dari anak seusianya. 
Mereka duduk dan berjalan lebih dahulu  dari teman sebayanya, dan masih sangat 
muda sudah dapat bermain dengan material yang kecil kecil. 
• Penggunaan bahasa yang sangat baik : sebagian anak cerdas istimewa mempunyai 
perkembangan bicara dan bahasa yang sangat cepat, tetapi  sebagiannya lagi 
mengalami keterlambatan bicara namun lambat laun ia akan segera menyusul 
ketertinggalannya dan segera menggunakan bahasa yang sulit seperti misalnya ‘mesin 
cuci baju ‘. Mereka memiliki vokabulari yang luas yang hanya sekali saja 
ditangkapnya dan esoknya sudah bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. 
Penambahan kata-kata kerja juga baginya akan tidak menjadi masalah. 
• Sangat mandiri : para orang tua melaporkan bahwa anak-anak ini sejak masih kecil 
sekali sudah ingin melakukan segala hal  sendiri. Makan sendiri, pakai baju, dan 
menalikan tali sepatu. 
• Memiliki enerji yang luar biasa dan sangat banyak gerak : anak-anak ini bagai anak 
yang tak pernah lelah. Sering mereka sangat sedikit membutuhkan waktu atau jam 
tidur, dan selalu ingin melakukan berbagai hal. Sejak kecil sekali ia sudah membenci 
pengulangan-pengulangan, karenanya ia seperti tidak mau lagi melihat alat-alat 
permainannya. Mereka memiliki begitu banyak interes dan selalu bertanya. Bila ia 
mendapatkan satu jawaban, segera jawaban itu akan berbuntut dengan pertanyaan 
baru. Sebagian dari anak-anak ini tidak mau segera menerima begitu saja pendapat 
orang lain, misalnya dia tak ingin mendengarkan jika api itu panas, dan ia ingin 
mencobanya sendiri benarkah api itu panas. Dia juga ingin sekali tahu bagaimana jika 
roti diletakkan ke dalam videorecorder sebagi ganti videocasset.  
• Dalam berbicara mempunyai perhatian ke masalah spesifik:  cerita-cerita para orang 
tua tentang anaknya di usia 2 – 2,5 tahun  yang sangat sering adalah cerita tentang 
merek-merek dan tipe mobil. Anak-anak kecil biasanya bertukar bidang perhatiannya 
dan akan berubah-ubah di beberapa bulan. Jika ia lebih dewasa  bidang perhatiannya 
akan lebih lama bertahan.  
• Sangat cepat akan pemahaman  dan logika  analisis :  anak-anak yang mempunyai 
loncatan perkembangan pada usia yang sangat dini mempunyai memori yang sangat 
baik, dan mempunyai kemampuan menghubungkan kejadian satu dengan kejadian 
lainnya, di mana anak-anak lain masih belum mampu. 
• Mempunyai kreativitas dalam bermain :  anak-anak yang mengalami loncatan 
perkembangan ini, sejak masih kecil sudah  bisa melakukan permainan fantasi. Jika 
dibandingkan dengan teman-teman seusianya, ia akan lebih dulu dapat bermain dalam 
peran yang tetap dan mampu bermain dalam suatu konflik yang sangat detil. Dia tidak 
bisa mengerti mengapa teman-teman sebayanya tidak bisa mengambil peranan atau 
ikut dalam aturan permainan yang harus dipegangnya. 
• Lebih cepat belajar membaca dan berhitung : melalui kemampuan pengenalan, melalui 
banyak pertanyaan yang diajukannya, serta daya ingat yang sangat baik, anak-anak dengan loncatan perkembangan akan lebih cepat belajar membaca dan berhitung. 
Dengan begitu ia akan belajar huruf huruf melalui permainan, misalnya huruf M ada 
di Mc Donald, Mora, atau  Coklat Mars. 
Umumnya balita cerdas istimewa baru bisa kita ketahui setidaknya ia sudah menunjukkan 
adanya loncatan perkembangan kognitif, yaitu di usianya yang ke tiga, namun beberapa gejala 
yang mendukung keberbakatan di usia-usia sebelum tiga tahun bisa juga kita amati, yaitu ia 
mempunyai refleks yang sangat baik, selalu bergerak, dan sangat ‘hidup’. Namun  demikian 
banyak orang tua yang belum bisa menduga bahwa kelak bayinya akan tumbuh sebagai anak 
cerdas istimewa karena memang belum menunjukkan adanya loncatan perkembangan 
kognitif. 
Di bawah ini Mooij (1992) tentang gejala anak-anak cerdas istimewa sejak bayi yaitu : 
o seringkali lahir sebagai bayi besar dan berat ; 
o sering menunjukkan bunyi-bunyian (menangis, membuat bunyi-bunyian) ; 
o banyak gerak dan hidup, mempunyai banyak enerji; 
o sangat dini sudah menginginkan dan dapat mengangkat kepala; 
o menunjukkan perhatian yang besar dan ingin melihat segala sesuatu; 
o sangat tidak sabaran dan selalu tegang; 
o sangat dini sudah mempunyai kontak mata ; 
o menginginkan penerapan segera apa yang diketahuinya, atau sibuk 
menerapkan ke suatu tujuan, semuanya itu atas kebutuhan dorongan motivasi 
internalnya, dan tidak bisa digantikan karena adanya pujian, penghargaan, atau 
hadiah ; 
o sangat kuat dengan keinginan dan kearah perfeksionisme; 
o mempunyai daya ingat yang sangat kuat ; 
o mempunyai hubungan emosi yang kuat dengan apa yang tengah dikerjakannya, 
misalnya dalam bidang ilmu-ilmu murni, bahasa, seni, musik, sosial, bidang 
psikomotor atau praktis ; 
o sangat baik dalam hal : bicara, melakukan abstraksi, generalisasi milai dari hal 
yang sederhan sampai yang istimewa, pemahaman terhadap pengertianpengertian, dan peletakan hubungan ; 
o mempunyai rasa ingin tahu intelektualitas yang besar ; 
o mudah menerima pelajaran ; 
o mempunyai bidang minatan yang luas ; 
o mempunyai perhatian yang besar pada pemecahan masalah dan melakukan 
realisasi berbagai minatnya ; 
o penggunaan bahasa baik secara kualitas maupun kuantitas berada di atas teman 
sebaya ; 
o mandiri dan sangat efektif dalam bekerja; 
o dapat membaca di usianya yang masih sangat dini; 
o mempunyai kemampuan observasi yang baik; 
o menunjukkan inisiatif dan orijinalitas dalam kerja intelektual; 
o bereaksi secara alert dan cepat mendapatkan ide-ide baru; 
o cepat mengingat sesuatu; 
o mempunyai perhatian yang besar dalam hal-hal kemanusian; 
o mempunyai imajinasi yang luar biasa; 
o mudah mengikuti petunjuk yang kompleks; 
o pembaca cepat; o mempunyai banyak hobby; 
o senang membaca berbagai macam hal; 
o menggunakan perpustakaan secara efektif; 
o sangat pandai dalam matematika/berhitung, terutama dalam hal pemecahan 
masalah. 
Bagaimana dengan tes IQ ? 
 Tes IQ untuk anak-anak ini saat akan  masuk sekolah dasar, umumnya mempunyai 
profil yang tidak harmonis. Skala verbal akan menunjukkan skor yang rendah bahkan di 
bawah rata-rata, namun skala performansinya menunjukkan skor yang baik, bahkan seringkali 
jauh di atas rata-rata, terutama untuk subtes yang menekankan pada kemampuan visual dan 
analisa. Karena anak-anak ini masih dalam perkembangan, maka kepadanya tidak bisa 
diberikan skor rata-rata atau total skor. Hal itu akan  menyebabkan kesalahan interpretasi, 
dimana anak-anak ini akan mendapatkan interpretasi ber IQ rendah dan kesimpulannya 
lamban belajar. Padahal sesungguhnya ia adalah pembelajar cepat.  Untuknya diperlukan 
seorang tenaga psikolog berpengalaman yang dapat memberikan saran-saran tentang faktor 
kuat dan lemah dari interpretasi profil tes IQ tersebut.  
Penutup 
Perlu disimpulkan bahwa kepada anak-anak terlambat bicara namun mempunyai 
kecerdasan yang baik ini perlu: 
1) penempatan sekolah di sekolah-sekolah umum/reguler namun mendapatkan 
penanganan ekstra; 
2) karena ia mempunyai lompatan pada bidang perkembangan inteligensi, namun 
ketertinggalan kematangan pada bidang perkembangan bicara dan bahasa, bidang 
sosial, motorik halus, dan juga kemandirian, maka kepadanya perlu diberikan 
pendekatan ke dua arah, yaitu ke arah faktor kuat dan faktor lemah yang 
disandangnya; 
3) tidak menarik kesimpulan pada skor rata-rata IQ, namun perlu dilakukan interpretasi 
yang canggih pada setiap skor yang diperoleh.  
Sumber bacaan 
- Aldenkamp,AP; Renier,WO; Smit,LME (2004): Neurologische aspecten van 
ontwikkelingsproblemen bij kinderen, Garant, Antwerpen – Apeldoorn. 
- Goorhuis,SM & Schaerlaekens, AM (2008): Handboek taalontwikkelling, 
taalpathologie en taaltherapie bij Nederlandsspreekende kinderen, De Tijdstroom 
Uitgeverij, Utrecht. 
- Grauwels, R & de Nooij, G (2008): Omgaan met dysfatische kind, Garant Uitgevers 
NV, Antwerpen-Apeldoorn.  
- De Bruin-de Boer, A (2002): Definitie en signalering van hoogbegaafdheid, 
Proceeding Seminar: Oog voor Oplossingen, herkenning, erkenning, en acceptatie van 
hoogbegaafde kinderen, landelijke vereniging  Pharos, De Huisdrukkerij, Ridderkerk.  
- De Hoop, F  & Janson, D J (1999): Omgaan met (hoog)begaafde kinderen, Uitgevruj 
Intro, Baarn- Mooij, T (red) (1991): Onderwijs aan hoogbegaafde Kinderen, Dick Coutinho – 
Muiderberg. 
- Mooij, T (1991): Schoolproblemen van hoogbegaafde kinderen, richtlijnen voor 
passend onderwijs, Dick Coutinho - Muiderberg. 
- Njiokiktjien, C (2005): De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, 
Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005. 
- Silverman,L.K. (1993): Counseling the Gifted and Talented, Denver, Lowe. 
- Silverman,LK (2002): Upside-Down Brilliance, The Visual –Spatial Learner, DeLeon 
Pub., Denver, Colorado 
- Reuver, J (2003): de WISC-RN als presenteerblaadje? Een onderzoek naar het 
vaststellen van schoolproblemen bij kinderen op basis van het verschil tussen hun 
verbal en performal IQ, Doctoralscriptie opleiding pedagogische wetenschappen – 
afstududeerichting orthopedagogiek, Universiteit Leiden. 
- Reuver,J & Peters,W (2004) : Verbaal-Performaal Discrepanties en 
Schoolprobelemen, Talent, Mei – 2004. 
- Tan, X (2005): Dysfatische Ontwikkeling, theorie, diagnostiek and beha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s