Jangan Buru-Buru Masukkan Anak Autis Ke Sekolah


Hampir semua orangtua menginginkan anaknya bisa baca tulis dan memiliki kemampuan akademis yang tinggi. Tapi bagi anak autis, jangan buru-buru memasukkan ke sekolah karena yang terpenting adalah melatih anak autis menjadi mandiri.

“Jangan terpaku pada baca tulis atau akademik, yang terpenting untuk anak autis adalah bisa mandiri,” jelas Gayatri Pamoedji, SE, MHc, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI).

Menurut Gayatri, banyak orangtua yang kewalahan mengurusi anaknya yang autis kemudian buru-buru menyerahkan tanggung jawab kepada sekolah. Padahal hal itu tidak dapat membuat anak autis menjadi mandiri, tapi justru membuat guru atau teman-temannya kewalahan.

Setidaknya, lanjut Gayatri, bila ingin memasukkan anak ke sekolah ada beberapa kesiapan yang harus dimiliki anak autis, yaitu:

1. Patuh

2. Mampu memperkenalkan nama di depan kelas

3. Berbaris

4. Duduk bersila di lantai

5. Makan dengan bantuan yang minimal

6. Minum dengan botol air minum

7. Ke toilet

8. Berjalan bergandengan dengan anak lain

9. Mampu minta tolong guru bila dalam kesulitan

Menurut Gayatri, suksesnya penanganan anak autis sangat bergantung dari tiga pilar utama penanganan autisme, yaitu diagnosa tepat, pendidikan tepat dan dukungan kuat.

“Jangan melulu pikirkan akademis tapi tentukan bakat anak. Jika anak sudah bisa mandiri dan dilatih bakatnya, maka kemungkinan bakat itu bisa menjadi peluang buat dia untuk mencari nafkah,” jelas Gayatri yang juga ibu dari anak autis.

Gayatri juga menjelaskan bahwa orangtua tidak perlu buru-buru menjalan terapi autisme yang mahal-mahal, karena kunci utama untuk terapi autisme adalah membuat anak mampu berkomunikasi.

“Boleh terapi yang mahal seperti terapi lumba-lumba atau apalah itu, tapi setelah tiga terapi dasar autisme sudah bisa dijalani. Terapi seperti lumba-lumba itu adalah terapi tambahan dan berfungsi untuk membuat anak relaksasi bukan menjadi mandiri,” jelas Gayatri.

Tiga terapi dasar autisme yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

  1. Terapi perilaku (Applied Behavioral Analysis), mengajarkan anak agar patuh.
  2. Terapi okupasi, untuk melatih kemampuan motorik halus atau kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil yang ada di dalam tangan, misalnya menulis, mengancing baju, memegang sendok, dll.
  3. Terapi wicara

“Jika ketiga terapi ini sudah bisa dipenuhi anak, maka boleh deh mencoba terapi relaksasi yang agak mahal seperti terapi lumba-lumba. Tapi kalau anak belum bisa bicara, masa iya mau diterapi lumba-lumba, memangnya lumba-lumba bisa mengajak anak bicara. Terapi lumba-lumba berfungsi untuk membuat anak lebih rileks. Bila orangtua tidak punya banyak biaya, maka cukup lakukan tiga terapi dasar itu yang bisa juga dilakukan orangtuanya sendiri tanpa banyak mengeluarkan biaya,” jelas Gayatri.

Gayatri menjelaskan memberikan terapi yang tepat ini termasuk dalam pilar pendidikan yang tepat. Jika anak sudah diajarkan tiga terapi dasar ini, maka anak bisa lebih siap dimasukkan ke sekolah.

Sumber: detik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s