Mari belajar dari Anak-anak Berkebutuhan Khusus

oleh Majalah Anak Spesial pada 29 Desember 2010 jam 9:26

Lucu sekali membaca perdebatan kata sembuh bagi penyandang Autisme.  Bukankah ini berawal dari pelabelan yang diberikan para ahlidi FB,tentang Autisme bisa sembuh antara dr. Rudy dan kasih Ling, teringat apa yang dikatakan oleh Frather Adam Gadulefsky bahwa dalam melakukan dampingan anak berkebutuhan khusus (ABK) atau istilah beliau ‘Normal People Who Happen to be Slow’ yang tersulit adalah menangani orang-orang dewasanya (orang tua, keluarga, dan orang dewasa lain yang terlibat seperti terapis, dokter, psikolog, guru, anggota masyarakat lainnya), bagi ABK sendiri akan mengikuti apa yg dilakukan dan dipilih oleh orang dewasa. karena orang dewasa lebih mendahulukan ego pribadi/kelompok dengan melibatkan emosi yang labil, dan kepentingan-kepentingan terselubung lainnya.

 

Debat dan diskusi menjadi sebuah orkestra yang indah manakala didasarkan oleh argumen dan fakta yang datang dari sebuah bukti panjang. Debat menjadi menarik manakala dilakukan dengan hati yg terbuka. Debat menjadi ‘norak’ saat keluar dari arena, apalagi seperti orang kalap menjangkau masalah-masalah pribadi yang sebenarnya kita tidak paham pangkal ujungnya. Sejatinya persoalan pribadi menjadi tabu untuk dibawa dalam ranah perdebatan ilmu pengetahuan. Bukankah kita sebagai pribadi juga mempunyai sisi gelap kehidupan yang tak pantas masuk ranah publik, karena memang kita tidak memahami sisi gelap orang tersebut. kecuali berdebat di infotainment yang hanya mengejar rating saja.

 

Bicara soal ‘jualan’, setiap orang dalam hidupnya selalu melakukan proses jualan, baik itu menjual keberbakatan kita atau ide sekalipun. Bahwa kata-kata sembuh menjadi sebuah kata menyesatkan pada saat kita memahami bahwa Autisme itu tidak bisa sembuh.Apakah kita tahu yang dimaksud sembuh oleh Dr. Rudy itu adalah anak penyandang Autis yang dapat bersekolah disekolah umum, dapat bersosialisasi, teman-temannya melihat sang anak tidak mengetahui bhawa yg bersangkutan itu penyandang autis.

 

Hal ini bisa kita lihat dari Osha, si anak penyandang autis yg sekarang menjadi mahasiswa Arkeolog di Universitas Gajah Mada, Oscar yang lulusan Universitas Atmajaya, dan masih banyak anak penyandang Autis yang sudah dapat melalui jenjang pendidikan umum. Walaupun terkadang karakter Autismenya suka muncul. Jadi saat Dr. Rudy mengatakan bisa sembuh ya konteks seperti itulah kata sembuh tersebut dimaksudkan. Bahwa masih banyak anak penyandang autis yang secara verbal pun masih belum bisa berkomunikasi, ditambah perilakunya, sehingga mereka tidak dapat melalui jenjang sekolah umum. Hal ini bukan berarti menjadi vonis tidak bisa sembuh.

 

Oleh karena itu, penilaian apalagi judgment yang bernada negatif dan disampaikan secara ‘norak’ perlu dihentikan, selama kita hanya memahami sepotong-sepotong. Semoga perdebatan ini menjadi sebuah orkestra yang indah, karena semua ujungnya dalah untuk kepentingan putra putri tercinta, mereka dapat tumbuh berkembang menjadi anak yang mandiri yang dapat meluruskan perkeliruan para orang dewasa ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s